Beranda Florata News Opini| Semana Santa di Tengah Corona

Opini| Semana Santa di Tengah Corona

708
0
Lodofikus Silverius Uhe Koten (Foto/Dokpri/Semana Santa Backraund/Net/Dsgn.Fp)

Oleh: Lodofikus Silverius Uhe Koten

Jumlah penderita Corona terus bertambah. Berbagai negara terus merilis data terbaru perkembangan penyebaran virus itu di negaranya. Indonesia pun demikian. Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus Corona, Achmad Yurianto, dari waktu ke waktu menyampaikan perkembangan kasus Corona serta penanganannya kepada publik. Pada minggu (15/03/2020) ia mengumumkan perkembangan terbaru. Jumlah penderita sudah mencapai 117 orang. 5 orang diantaranya meninggal dunia sementara 8 orang berhasil sembuh. Jumlah ini mengalami peningkatan sangat signifikan sejak pertama kali diumumkan menyerang seorang ibu dan anaknya warga Depok, Jawa Barat sepekan silam (02/03/2020), setelah keduanya berkontak langsung dengan warga Negara Jepang dalam sebuah acara di Indonesia.

Penularan virus ini cukup mudah. Sebagaimana yang telah dipublikasikan, dari manusia ke manusia, virus Corona menyebar melalui kontak langsung dengan penderita; batuk dan bersin penderita dalam jarak dua meter, komunikasi dalam jarak sangat dekat yang memungkinkan cipratan air liur, jabatan tangan, ciuman. Virus ini juga bisa menular jika kita menyentuh benda yang sudah lebih dahulu disentuh penderita Corona, lalu dengan tangan yang sudah terpapar virus itu kita menggosok mata, hidung atau mulut kita. Untuk mencegah cara penularan yang terakhir ini, biasakan diri mencuci tangan dan jangan menggosokan tangan pada mata, hidung, mulut atau bagian tubuh lainnya yang mengandung cairan atau lendir.

Untuk mengantisipasi meluasnya penyebaran virus Corona, sejumlah negara mengambil langkah tegas. Mulai dari Pembatasan akses ke sejumlah fasilitas umum sampai menutup negaranya terhadap kunjungan orang asing. China, tempat asal virus menutup akses ke berbagai tempat di negaranya. Italia menutup semua tempat perbelanjaan, bar, gereja kecuali apotik dan tokoh makanan. Arab Saudi menyetop ibadah umrah dan melarang warga dari 50 negara masuk ke negaranya. Di Betlehem, tempat lahir Yesus, gereja ditutup untuk batas waktu tidak tentu untuk mencegah penyebaran Corona. Dan teranyar, tepatnya hari jumat, 13 Maret kemarin, Vatican juga menutup semua Gereja.

Di Malaysia, negara tetangga kita, pasca perhelatan Tabilgh Akbar yang dihadiri sekira 10.000 jemaah, otoritas setempat meminta semua peserta yang hadiri acara itu untuk memeriksakan diri. Pasalnya, 3 orang peserta Tabligh Akbar diketahui positif Corona. Situasi yang menimbulkan huru hara dan ketakutan. Di Jakarta sejumlah fasilitas publik sudah ditutup. Sekolah juga diliburkan selama dua pekan. Sejumlah negara di Eropa menghentikan perhelatan liga sepakbola termasuk liga Europa dan piala champion

Di Kabupaten Flores Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur, ancaman Covid – 19 ini belum nyata. Belum ada warga Kabupaten ini yang diketahui positif Corona. Sampai di sini kita patut bersyukur. Kita semua pasti juga berharap, virus mematikan itu tidak akan ada di bumi Lamaholot. Meski demikian, waspada harus menjadi sikap bersama semua elemen. Melihat cara penyebaran virus yang begitu gampang, kita patut mempertimbangkan pagelaran, event, atau acara yang mengumpulkan banyak orang. Apalagi jika pesertanya datang dari berbagai daerah, yang telah terpapar Corona.

Lalu bagaimana dengan Semana Santa? Tradisi Gereja Katolik Larantuka ini 4 minggu lagi akan digelar. Bagi orang Larantuka, Semana Santa adalah ritus wajib. Wajib bagi orang Larantuka yang tinggal di Larantuka, juga wajib bagi orang Larantuka di perantauan. “Permesa Tua'” adalah wujud syukur pada Sang Pemberi Hidup. Karena itu setiap tahun menjelang pekan suci, kota Larantuka didatangi dari berbagai penjuru. Melalui transportasi darat, laut maupun udara.

Tradisi berumur ratusan tahun itu, sejak lama sudah menarik perhatian. Jumlah peziarah setiap tahunnya mencapai ribuan orang. Mereka datang dari berbagai tempat. Dalam negeri dan luar negeri. Dari berbagai golongan usia, profesi, suku dan ras. Bahkan ada juga umat beragama lain yang datang entah untuk menjawabi rasa penasaran tentang Semana Santa atau juga karena tuntutan profesi (wartawan misalnya). Hotel dan penginapan di Larantuka selalu terisi penuh. Home stay yang disiapkan warga kota juga full. Bahkan gedung sekolah, aula pertemuan terpaksa harus disiapkan menampung rombongan peziarah.

Untuk penyelenggaraan tahun ini, hotel dan tempat – tempat penginapan sudah dibooking. Berbagai persiapan sudah dilakukan. Panitia sudah terbentuk. Kapela dipugar, home stay dirapikan. Sekretaris Panitia DPP paroki Katedral, Paul Fernandez sebagaimana diberitakan Pos Kupang pada senin (09/03/2020) juga menghimbau warga kota Larantuka untuk “membuka pintu rumahnya” bagi peziarah yang tidak mendapat penginapan. Dia juga memperkirakan jumlah peziarah tahun ini lebih banyak dari pada tahun sebelumnya.

Perayaan Semana Santa tahun ini dilaksanakan dalam bayang – bayang Corona. Kekuatiran warga kota Larantuka mulai tertangkap. Ada netizen yang mulai menyampaikan kekuatirannya dan meminta antisipasi dini. Komunitas Satu Lamaholot yang beranggotakan intelektual muda asal Lamaholot di Jakarta juga mengingatkan pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah – langkah antisipasi. Belajar dari kasus di berbagai negara, juga kasus pertama di Indonesia, virus Corona ditularkan setelah ada kontak dengan orang asing yang datang dari tempat terpapar virus.

Larantuka bakal didatangi ribuan orang beberapa pekan mendatang. Setidaknya ada 4 Pintu masuk kota Reinha. Boru menjadi pintu masuk Jalur darat, Gewayan Tanah Watowiti pintu masuk jalur udara, pelabuhan laut Larantuka dan pelabuhan fery Waibalun pintu masuk jalur laut.

Untuk mencegah masuknya virus Corona ke Larantuka, jika para pihak yang berkepentingan tetap membuka kesempatan peziarah dari berbagai tempat datang ke Larantuka maka pemeriksaan di setiap pintu masuk wajib dilakukan. Semua prosedur pemeriksaan harus dijalankan meski memberikan rasa tidak nyaman dan mengganggu perjalanan. Untuk urusan ini, pemerintah kabupatenlah yang harus mengambil langkah. Mulai dari mengadakan sarana dan prasarana pendukung hingga skema pemeriksaan. Semuanya harus dirancang secara baik dan matang. Tetapi jika kita tidak siap untuk melakukan itu, pilihan terakhir adalah membatasi keikutsertaan peziarah. Siapa bilang pemerintah tidak punya kewenangan membatasi itu. Untuk tahun ini, biarlah hanya diikuti umat di keuskupan saja.

Bupati dan wakil bupati Flores Timur serta Gereja lokal keuskupan Larantuka sudah harus bicara. Libatkan juga para pihak yang berkepentingan dalam penyelenggaraan Semana Santa. Tradisi Semana Santa kita hidupi ratusan tahun karena kita mengimani ada “keselamatan” ditimba dari sana. Karena itu semua pihak harus juga mengambil sikap tegas dan terukur untuk memastikan keselamatan umat dan masyarakat.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here