Beranda Sastra Cerpen| Kisah di Balik Temu Pisah

Cerpen| Kisah di Balik Temu Pisah

138
0
Foto Ilustrasi


Pagi itu, di lembah nan hijau, dibingkai lekak-lekuk punggung bebukitan yang berjejer rapi seakan memandang pesona alam kampung mungil yang luguh nan permai.

Di desa itu, tepatnya Desa Puhu, sebuah desa yang dikelilingi oleh panorama pohon nyiur yang berbaris rapi, sesekali daun-daunnya berkejaran tatkala disapu angin yang setia melambaikan tangannya hendak menyapa siapa saja yang dijumpainya. Kicauan burung nan merdu di pagi hari bersahutan yang terbang kesana kemari, seakan ingin memanggil setiap insan yang melewati jalan itu.

Di kampung kecil itu, ku tatap wajah-wajah para petani yang setia memikul cangkul berselempang rangsel berisikan perlengkapan siap bertempur membajak sawah dan ladang tuk menghidupi keluarga yang ia cintai guna tercipta senyum indah di bibir si kecil yang setia menanti dari terbit sang mentari hingga fajar menyingsing. Sesekali ku dengar riuhan suara kenalpot bising pertanda para pekerja yang setia memanusiakan manusia bergegas menuju kantor tempat tugas dan tempat para insan yang setia menanti setitik ilmu tuk bekal hidup di masa depan. Pandanganku ku arahkan ke seberang jalan nampak ibu-ibu yang setia bekerja sama bergotong royong tuk membersikan kampung kecil tempat tinggal mereka tempat mereka berbagi canda dan tawa di tengah ganasnya arus kehidupan.

Ku lihat di wajah kecil kaum kecil, dahinya tampak kerutan seolah memikirkan sesuatu yang nampak sangat buruk menimpa hidupnya. Aku tahu, di tengah arus global ini nampak terselip rasa gundah dan takut akan virus mematikan yang hadir tanpa berita, tanpa memandang bulu, tanpa bertanya, tanpa mau menahu kepada siapa dan untuk siapa ia hadir. Ia lah Virus Corona (Covid-19) yang sedang viral di dunia maya menghipnotis ribuan mata untuk selalu mawas diri dan waspada akan virus tersebut. Rupanya jutaan umat yang berakal budi di negeri ini bukan hanya getir tentang virus ini tapi juga dilanda virus gelisah yang berlebihan akan kiamat yang menimpanya. Aku sempat berpikir akan virus itu entah titipan Tuhan sebagai salah satu ujian yang diberikan oleh-Nya karena umat-Nya tidak mengindahkan lagi segala perintah dan ajaran-Nya atau bahkan alam berkehendak lain tentang hidup ini. Pertanyaan itu masih terus menggema dan bersarang dalam benakku. Kapan kah berlalu musibah itu?

Terlepas dari semua pertikaian hidup, waktu itu Senin 16 Maret 2020 seluruh warga SMPN Satap Tapobali sangat disibukkan oleh persiapan untuk melangsungkan acara Serah Terima Jabatan Kepala UPTD Satuan Pendidikan Formal SMPN Satap Tapobali yang sedianya diadakan pada hari Selasa keesokan harinya 17 Maret 2020. Segala aktifitas KBM saat itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Seluruh siswa dan para guru, masing masing menata segala perlengkapan yang digunakan untuk menyukseskan hajatan itu. Siswa-siswi yang telah dipercayai membawakan acara tuk mengisi acara selingan sangat antusias menyiapkan diri untuk mengadakan latihan. Hari itu berlalu dengan cepat hingga waktu menunjukkan pukul 12.50 WITA keluarga besar SMPN Satap Taobali meninggalkan segala kesibukkan di sekolah tuk kembali mengisi perut yang kosong lantaran bekerja setengah hari penuh mempersiapkan acara tersebut. Para guru dan para siswa pilihan yang sudah dipersiapkan untuk membantu menyukseskan acara tersebut menghasilkan satu kesepakatan bersama untuk kembali bertemu dan mempersiapkan acara selepas makan siang.

Waktu sudah menunjukan pukul 15.00 WITA. Nampak kembali segala kesibukkan mulai berjalan. Semua guru mulai disibukkan kembali dengan persiapan-persiapan. Beberapa warga yang berdomisili di sekitar sekolah turut membantu menyukseskan acara tersebut. Terlihat begitu akrab tatkala bercerita sesekali canda tawa mereka memecah di tengah kesibukkan persiapan mereka. Rupanya kerja sama yang baik sebagai bentuk kepedulian masyarakat Desa Puhu terjalin begitu erat untuk dapat menyukseskan pesta sekolah tersebut. Setelah semua kesibukkan terhenti tak sedikitpun terdengar suara riuh di lembaga tersebut. Mereka masing-masing berpamitan dan bergegas meninggalkan sekolah itu.

Fajar pagi pun kembali meyapa. Semua makhluk di bumi menyapa penuh ceria biasan sinar yang menjanjikan kehidupan untuk segala insan yang hidup. Segala aktifitas sehari-hari nampak berjalan seperti biasanya. Hari itu Selasa 17 Maret 2020 para siswa dan guru-guru nampak siaga di sekolah tak sabar menanti acara temu-pisah tersebut. Para undangan yang meliputi Kepala Desa se-wilayah Tapobali, Kepala SDI Tapobali bersama staf, Kepala SDK Ongabelen, anggota BPD Desa Puhu, Kepala TKK Santa Eka Puhu bersama staf, Kepala TKK Tapobali bersama staf, para orang tua wali, para tokoh masyarakat dan para pensiunan se-wilayah Tapobali mulai berdatangan di lokasi acara. Mereka dipersilahkan masuk dan mengambil posisi duduk yang telah dipersiapkan untuk mengikuti acara tersebut sambil menunggu tamu undangan lain.

Tepat pukul 11.00 WITA acara pun dimulai. Seluruh rangkaian acara dikemas dengan baik dan acara itu diawali dengan Serah Terima Jabatan Kepala UPTD Satuan Pendidikan Formal SMPN Satap Tapobali dan dilanjutkan dengan acara perpisahan memasuki masa purnabakti sebagai ASN bapak Drs. Laurensius Sabon. Acara tersebut berjalan dengan baik dengan menghadirkan Kepala Desa Puhu, Wakil Kepala SMPN Satap Tapobali, dan Ketua Komite SMPN Satap Tapobali sebagai saksi atas penandatanganan berita acara serah terima jabatan kepala sekolah lama Drs. Laurensius Sabon ke kepala sekolah baru Aloysius ola Langoday, S.Pd. Proses acara serah terima jabatan pun berjalan dengn baik sesuai harapan. Para undangan pun bertepuk tangan secara sepontan ketika berita acara dibacakan dan ditandatangani oleh para saksi.

Selepas dari pengesahaan berita acara, memasuki sambutan-sambutan. Sambutan pertama dimulai oleh Bapak Drs. Laurensius Sabon Kepala Sekolah lama dengan menyampaikan bahwa sarana dan prasarana SMPN Satap Tapobali Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur masih minim, terutama pada rombongan belajar siswa, belum memiliki ruang perpustakaan, laboratorium dan kantor. Ke depannya perlu ada upaya strategis untuk penambahan lokal, berupa gedung baru. Sehingga diharapkan adanya peningkatan produktifitas kerja dan efektifitas proses pembelajaran yang terjadi di kelas. Demikian yang dinyatakannya dalam sambutan pada acara serah terima jabatan dan temu pisah kepala sekolah bertempat di Aula SDI Tapobali. Untuk itu, Laurensius mengharapkan dukungan dari semua Kepala Desa se-wilayah Tapobali, untuk rencana pembangunan serta penambahan gedung baru tersebut.

Sementara itu, Aloysius Ola Langoday, S.Pd kepala sekolah yang baru terlantik menggantikan Laurensius Sabon dalam sambutannya mengajak semua Kepala Desa se-wilayah Tapobali yang meliputi Desa Puhu, Gelong, Tapobali, dan Kwaelaga Lamawato agar bekerja sama dan sama-sama bekerja mengembangkan sekolah tersebut menuju sekolah yang bermutu dan terpopuler ke depannya. “Melalui kerja sama yang baik dengan pemerintah desa, komite, dan rekan-rekan guru, kami yakin akan membawa perubahan yang besar bagi SMPN Satap Tapobali,” tuturnya.

Andreas Demon Masan mewakili suara dari orang tua wali siswa dalam sambutannya menekankan kepada seluruh warga SMPN Satap Tapobali untuk tetap teguh mempertahankan kedisiplinan sekolah yang sudah terbina sejak tahun-tahun sebelumnya. Selain itu dalam sambutan ketua komite, Lukas Payong Basa menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak Laurensius Sabon selaku kepala sekolah lama yang telah mengabdikan diri selama kurang lebih enam tahun dua bulan lamanya di lembaga ini serta memohon maaf kepada beliau atas segala hal yang kurang berkenan yang selama ini terjadi ketika menjabat sebagai kepala SMPN Satap Tapobali. Dalam sambutannya juga ia menyampaikan ucapan selamat datang, selamat bertemu, selamat bekerja memimpin lembaga ini, selamat bekerja bersama dan sama-sama bekerja dengan rekan-rekan pendidik, tenaga kependidikan, dan seluruh siswa SMPN Satap Tapobali kepada kepala sekolah yang baru (Aloysius Ola Langoday, S.Pd) yang baru menjabat menjadi kepala sekolah di lembaga ini 20 Februari 2020.

Kepala Desa Puhu. Hendrikus Ola Duli mewakili kepala desa se-wilayah Tapobali dalam sambutannya menyampaikan akan membina hubungan kerja sama yang harmonis bersama pihak sekolah demi memajukan lembaga ini ke depannya. Beliau juga meyakini bahwa kerja sama yang baik ini mempu membawa perubahan yang lebih maju ke depannya.

Acara pun berjalan lancar sesuai harapan. Akhir dari acara dilanjutkan dengan acara penyerahan kado dari para guru dan siswa kepada kepala sekolah lama Laurensius Sabon. Suasana riang terbina sejak awal kegiatan pun seketika kembali hening. Ku lihat di wajah para guru dan siswa nampak lesuh, nampak sejuta kenangan melayang membayang kenangan bersama kala waktu masih akrab mendekap sebuah pertemuan. Alunan nada pilu menambah suasana sunyi di aula yang nampak megah itu. Aku sendiri tersipu mengenang masa-masa bersama. Memang pertemuan pada akhirnya bermuara pada perpisahan.

Tak terasa jarum jam pun berlalu dengan begitu cepat menunjukan pukul 16.00 WITA. Rasanya tidak sempurna jika membiarkan sosok pemimpin yang selama ini telah bersama berjalan menyusuri lorong bisu sendirian. Niat yang murni nan suci mekar dalam hati sanubari para guru tersentak menggiring pergi sang nakhoda yang telah berlabuh di usia purnabakti. Perjalanan pun dipenuhi warna kelabu. Gubuk tua tempat kediamannya pun mulai menampakkan wajah senja menanti kehadiran pria setengah tua itu. Tibalah kami bersama rasa lelah di penghujung perpisahan. Luguh dan santun tutur sapa keluarga besar menyapa kami dalam budaya Lamaholot. Sejenak melepas lelah di pendopo mungil tak lama kemudian kami disuguhkan kopi panas beraroma kekeluargaan ditemani beberapa potong roti menambah hangatnya perbincangan dibalik gelak tawa layaknya sosok sejoli yang sedang dilanda kasmaran.

Usai perjamuan singkat itu, kami bersalaman dan berpamitan meninggalkan tempat itu. Lambaian tangan mengiringi kepergian kami. Tatapan mata sayu terus memandang dari kejahuan hingga kami melewati tikungan jalan semakin lama semakin menghilang dan perlahan sirna dari bola matanya. Aku bersama rombongan berjalan menempuh jalan pulang kembali ke tempat kami, lembaga SMPN Satap Tapobali. Masing-masing dari kami mengambil barang yang tertinggal kemudian berpamitan kembali ke rumah kami. Sungguh hari itu berjalan begitu ironis. Hari-hari pun berlalu seperti sedia kalanya. Kini jalanan yang ditempuh pun mulai berseberangan. Kami kembali menjalankan aktifitas sebagaimana biasanya begitu juga dengan Bapak Laaurensius Sabon kembali menikmati masa purnabakti bersama keluarganya tercinta. Akan kah kisah indah itu kembali terulang? (*)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here