Beranda Headline Ini Penjelasan Kadis Kesehatan NTT Terkait PDP Covid-19 yang Meninggal di RS...

Ini Penjelasan Kadis Kesehatan NTT Terkait PDP Covid-19 yang Meninggal di RS Komodo

2408
2
Teleconfrence Bupati Manggarai,Deno Kamelus dengan Kadis Kesehatan Prov NTT serta Sejumlah Sekda dari beberapa kabupaten di NTT,Rabu (25/3/2020) sore di Kantor Bupati Manggarai. Foto (Adi Nembok/Florespost.co)

FLORESPOST.CO, Ruteng– Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Virus Corona, berinisial S (44) asal Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, yang sempat dirawat di RSUD dr. Ben Mboi Ruteng dan dirujuk ke Rumah Sakit Komodo, Labuan Bajo dikabarkan meninggal pada Rabu (25/3/2020).

Terkait meninggalnya PDP tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur, drg, Dominikus Minggu Mere mengaku belum bisa memastikan jika yang bersangkutan meninggal karena Covid-19.

“Diagnosa covid positif belum bisa disampaikan saat ini. Karena masih menunggu hasil pemeriksaan lab yang nanti kita kirimkan ke Laboratorium Penelitian dan Pengembangan di Jakarta,” jelas dr. Domi saat menggelar teleconference dengan Bupati Manggarai Deno Kamelus dan sejumlah Sekda se-Provinsi NTT, Rabu (25/3/2020) sore.

Telecofence ini bertujuan untuk membahas dan memudahkan koordinasi, serta mengetahui upaya-upaya yang dilakukan para bupati dalam mencegah maupun penanganan covid-19 di wilayah masing-masing.

Menurut dr. Domi, berdasarkan data yang diterima dari Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai dan laporan langsung via teleconference dengan dokter yang merawat pasien S di Rumah Sakit Komodo, disimpulkan bahwa pasien yang dirujuk dari RSUD Ben Mboi Ruteng tersebut meninggal karena gagal napas yang disebabkan oleh radang otak dan radang selaput otak serta diperberat oleh radang paru-paru.

“Saya menyampaikan ini untuk meluruskan seluruh berita yang ada di media sosial agar tidak terjadi kesimpangsiuran,” jelas dr.Domi.

Terkait penatalaksanaan jenasah, dr. Domi menyebut dilakukan sesuai apa yang tertuang dalam pedoman yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan RI. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Pemkab Manggarai Barat.

“Perlakuaan tetap, dikuburkan dalam kurun waktu empat (4) jam dan tidak diformalin. Sekali lagi kita menunggu hasil lab dari Jakarta. Kita harap dan kita doakan, mudah-mudahan hasilnya negatif,” katanya.

Dokter Domi juga mengatakan, pihaknya juga memerlukan catatan-catatan riwayat almarhum, sejak dari Surabaya sampai ke Manggarai Barat, lalu ke Ruteng dan kembali ke RS Komodo.

“Walaupun hasil diagnosa seperti yang kita sampaikan tadi, hal-hal yang perlu antisipasi kita antisipasi, terutama riwayat almarhum sebelum atau sesudah dari Surabaya ke Ruteng, Labuan Bajo dan ke tempat almarhum di kuburkan, agar kita bisa tracing (melacak) ke tempat-tempat tersebut manakala hasil pemeriksaan swapnya positif.

Laporan: Adi Nembok
Editor: Tarwan Stanis


2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here