Beranda Kesehatan Opini| Gangguan Mata Menjadi Momok Masyarakat Flores Timur

Opini| Gangguan Mata Menjadi Momok Masyarakat Flores Timur

409
0
Foto dr. Kristian Dernitra Kusnadi (foto.Dokpri)_bacgraund/Net)

Flores Timur merupakan salah satu kabupaten kepulauan yang ada di Nusa Tenggara Timur. Kabupaten Flores Timur mencakup 3 pulau besar yaitu, Pulau Flores, Adonara, dan Solor. Pantai-pantai terhempas luas mengelilingi Kabupaten ini. Dengan mudah kita dapat melihat garis khatulistiwa dengan sedikit pernak-pernik pegunungan sebagai penghias, yang jarang kita temukan di kota-kota besar. Indahnya senja dan terbitnya percikan cahaya matahari pagi sudah bersahabat dekat dengan para penduduk Flores Timur. Cahaya sinar matahari dan desiran ombak, selalu menemani para penduduk lokal Flores Timur yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan.

Keindahan Flores Timur yang didominasi dengan pantai dan terpapar banyak teriknya matahari justru malah menjadi momok bagi sebagian besar penduduk. Terutama mereka yang hidupnya banyak mengarungi lautan dan menerpa panasnya sinar matahari. Keringat kerja keras mereka seakan tidak cukup dalam memerangi beratnya melawan alam mencari nafkah. Tajamnya penglihatan mereka yang merupakan modalitas sebagai kompas untuk menerawangi lautan luas, mulai memudar. Semakin hari mata mereka mulai terasa perih. Angin lautan yang biasanya sebagai petunjuk arah, malah menyebabkan pedih semakin memparah. Pun tidak sedikit yang merasa penglihatan mulai kabur. Selaput merah mulai tumbuh menutupi mata mereka. Semakin lama terasa semakin tebal mengganggu. Pterigium namanya, masyarakat lokal biasa mengenalnya dengan lapisan daging pada mata.

Pterigium berasal dari bahasa yunani yang berarti “Sayap”. Sering juga disebut sebagai Surfer’s Eye dalam Bahasa Inggris, atau mata peselancar. Pterygium merupakan pertumbuhan dari lapisan yang berada pada bagian putih mata (konjungtiva). Lapisan ini tumbuh secara berlebihan, ke arah selaput bening mata yang berwarna gelap (kornea). Lapisan ini berbentuk segitiga dan berwarna merah. Pterigium umumnya diderita oleh dewasa tua, walaupun seringkali juga muncul pada dewasa muda terutama usia produktif yang terpapar banyak sinar matahari. Faktor pemicu dari penyakit ini adalah paparan sinar Ultra Violet (UV) yang berlebihan pada mata. Paparan terutama akan menjadi dua kali lebih besar pada pelaut dan nelayan dimana sinar UV tersebut dipaparkan secara langsung oleh matahari dan juga dipantulkan melalui permukaan air laut.

Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), di Indonesia yang merupakan negara pada daerah garis katulistiwa, angka kejadian pterygium cukup tinggi. Diperkirakan angka tersebut mencapai pada 13.1%. Hal ini berarti sebanyak 13.1% masyarakat Indonesia, menderita pterygium. Penderitanya terutama paling banyak pada mereka yang bekerja sebagai nelayan dan petani, angka tersebut juga mencakup masyarakat Indonesia yang ada di Flores Timur. Walaupun data yang akurat mengenai jumlah penderita di Flores Timur belum ada, namun upaya untuk mencegahnya sangat perlu dilakukan mengingat mayoritas penduduk Flores Timur bekerja secara langsung dibawah sinar matahari.

Perlu diketahui bahwa pada tahapan awal, penyakit pterigium dapat menyebabkan mata jadi mudah terasa perih, kering, teriritasi, ataupun terinfeksi. Mata akan terasa gatal ataupun berair dan sering terlihat berwarna kemerahan. Beberapa orang mungkin akan acuh pada awalnya dan tidak peduli dengan adanya gejala dari penyakit ini, namun yang perlu diketahui bahwa pterigium ini tentu saja dapat menyebabkan kebutaan, walaupun kebutaan merupakan komplikasi terakhir dari penyakit tersebut. Kebutaan akan muncul apabila lapisan merah yang tumbuh sudah mulai menutupi lubangnya penglihatan pada mata. Lapisan merah tersebut akan terus tumbuh apabila kita tidak dapat menghindari paparan sinar matahari dengan baik. Maka dari itu penggunaan topi saat bekerja, penggunaan kacamata hitam sangat diperlukan untuk menghindari kebutaan.

Karena dengan kebutaan, maka tentu saja sulit untuk kita bisa bekerja kembali menafkahi keluarga kita, sulit bagi kita untuk dapat bermain dengan anak-anak kita, ataupun berkumpul dengan sanak saudara kita. Kehidupan kita tentu akan berubah secara drastis, menyebabkan kita harus bergantung dengan orang-orang disekitar kita. Maka dari itu penting untuk kita mengetahui, apakah kita mengidap penyakit tersebut? Cobalah berkonsultasi dengan dokter apabila gejala-gejala sudah mulai dirasakan. Dokter tentunya akan menyarankan berbagai cara untuk mengurangi pertumbuhan Pterigium tersebut, atau meringankan gejala-gejalanya. Obat tetes mata mungkin akan dianjurkan untuk mengurangi rasa perih pada mata ataupun rasa gatal.

Pencegahan adalah cara yang terbaik. Penggunaan kacamata, topi, menghindari mata daripada paparan debu saat bekerja perlu diperhatikan dan diterapkan saat bekerja. Namun apabila Pterigium sudah mulai menyebabkan gangguan pada penglihatan, satu-satunya cara untuk mengobatinya adalah dengan operasi oleh dokter spesialis mata. Pterigium yang berat tidak dapat hilang dengan obat-obatan ataupun ramuan-ramuan, apalagi dengan sendirinya. Tindakan operasi bertujuan untuk mengembalikan penglihatan yang sudah terganggu, dengan melepaskan lapisan daging tersebut yang menempel pada mata. Apabila sudah dioperasipun bukan berarti Pterigium tidak akan muncul kembali. Upaya pencegahan selanjutnya juga tetap harus dilakukan agar penyakit ini tidak kembali muncul mengganggu aktifitas sehari-hari.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here