Beranda Feature Kisah Paulus, Dijauhi Warga Kampung Hingga Memilih Isolasi Diri ke Kebun

Kisah Paulus, Dijauhi Warga Kampung Hingga Memilih Isolasi Diri ke Kebun

1651
0
Inilah rumah milik Paulus di Kampung Lopa. (Foto/ Acong Harson/Fp)

Pada hari Sabtu 28 Maret 2020 lalu, kami mendapat kabar dari bapak Gregorius Amal, warga kampung Lopa, desa Golo Leda, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur.

Dari informasi yang kami peroleh itu menyebutkan, bahwa ada seorang warga kampung Lopa yang baru pulang dari perantauan yaitu Malaysia. Situasi sebelum kepulangannya, warga kampung mengisolasi diri selama masa virus Corona atau Covid-19 di rumah masing-masing. Namun setelah kepulangannya warga kampung lebih memilih mengungsikan diri ke kebun milik mereka. Warga khawatir jangan sampai kepulangannya ini juga membawa serta virus masuk ke Kampung Lopa.

Mendengar informasi ini, Saya pun langsung menelpon call center penanganan Covid-19 milik kabupaten Manggarai Timur. Usaha kami pun berhasil setelah Tim penanganan Covid-19 Regina Malon merespon dan bersedia memberikan keterangan kepada Saya.

Regina Malon mengatakan, bahwa gubernur sudah menghimbau kepada seluruh bupati dan walikota serta kepada seluruh kepala desa untuk menjaga ketat dan mendata lengkap warga yang datang dari luar NTT dan wajib isolasi mandiri di rumah.

Regina menambahkan, terhadap orang Dalam Pemantauan (ODP) maupun PDP (Pasien Dalam Pengawasan) masyarakat diharapkan agar Pertahankan jarak minimal 1 meter, menggunakan masker. Sedangkan bagi ODP maupun PDP diharapkan agar tidak boleh berinteraksi dengan keluarga, maupun orang lain di luar rumah walaupun mereka sehat. Hal ini dilakukan untuk mencegah agar virus Corona tersebut tidak tertular.

Terhadap cara pencegahan yang dilakukan oleh masyarakat Kampung Lopa, Regina mengatakan pencegahan yang dilakukan itu sangat efektif agar terhindar dari penularan Covid-19. Sedangkan Paulus Arman yang sejak kepulangannya dari perantauan dan melakukan isolasi dan karantina mandiri ke kebun, Regina berharap agar makan dan minumnya juga harus diperhatikan agar kekebalan tubuh Paulus tetap stabil.

Terkait dengan informasi ini, pada hari Minggu (29/3/2020) florespost.co, melakukan penelusuran lebih lanjut ke Kampung Lopa.

Untuk menuju ke Kampung Lopa, kita harus melewati jalan Nceang – Borong, lalu belok kiri di kampung Ntangis, dengan jarak sejauh 4 kilo meter (km). Karena jalannya belum beraspal, menyebabkan medan jalan pun dilalui dengan cukup ekstrem.

Ditemani oleh rekan seprofesi Saya dari media online Vox NTT, kami pun tiba di kampung Lopa dengan disambut oleh kabut awan yang menyelimuti seiisi kampung. Yah, pemandangan yang tak diduga sebelumya, ternyata kampung ini sepih seakan tanpa penghuni. Tak terdengar suara- suara bocah yang biasanya selalu menuntuni para tamu yang datang. Aku pun mencoba mengabaikan keheningan itu dengan tetap konsisten pada tujuan investigasi.

Langkah kami pun perlahan menuju kantor desa. Lazimnya bagi para tamu yang datang, kami dipersilakan mengisi buku tamu oleh staf desa dengan tetap memperhatikan kehadiran kami di kantor desa itu. Kami mengawali perbincangan dengan segelas kopi yang disiapkan oleh Kepala Desa Golo Leda Martinus Jenama. Jaga jarak saat berdiskusi tetap kami jaga dalam perbincangan kami.

Kepada kami, kepala desa Martinus Jenama menyampaikan, semenjak kedatangan Paulus Arman dari perantauan tiba kampung Lopa pada, Rabu tanggal 25 Maret 2020 lalu, warga mengatahui kehadiran Paulus itu pun memilih mengsungsi ke kebun-kebun milik mereka, dan bahkan ada warga yang memilih tinggal di kampung tetangga.

Alasan mendasar warga kampung menghindar kata Martinus, mereka khawatir dan takut akan bahaya virus Corona yang tengah mewabah dunia saat ini. Apa lagi kata dia, Paulus bagi masyarakat adalah orang yang baru tiba dari Malaysia.

“ Kalau di kampung ini, ya beginilah keadaanya. Sepi sekali tidak seperti biasanya. Ada yang tidur di kebun, ada yang ke kampung tetangga,” kata Martinus Jenama.

Pemerintah desa sebelumnya juga tambahnya, sudah melakukan himbauan dan sosialisasi kepada masyarat untuk menjauhi dia (Paulus-red), serta memasang informasi yang di tempel di kantor desa .

“Saat tiba di kampung ini, Saya sudah menghimbau kepada warga untuk menjaga jarak dengan Paulus, hingga masa inkubasi. Namun ada warga yang sudah memilih meninggalkan kampung setelah tahu akan kehadiran Paulus,” ungkapnya.

Untuk meredam kepanikan warga serta ketakutan yang berlebihan terhadap Paulus, Martinus berharap agar tim penanganan covid-19 ini harus datang ke kampung Lopa, guna melakukan pemeriksaan serta menginformasikan perkembangan kesehatan Paulus dan melakukan pencerahan kepada masyarakat tentang Covid-19.

Minimnya Informasi Terkait Covid-19

Klara Nas salah satu tetangga Paulus kepada kami mengungkapkan ketakutannya atas bahaya virus Corona ini. Bahkan kata Klara, Ia tidak pernah membuka pintu bagian depan rumah miliknya.

Ketakutan Klara juga beralasan, selain minimnya informasi terkait dengan Covid-19, juga belum ada informasi perkembangan kesehatan Paulus semenjak tiba di kampung tersebut baik oleh tim kesehatan maupun oleh Dokter.

Akibat masih diselimuti rasa takut yang berlebihan, selain menjauhi Paulus, warga pun tidak melewati lagi di depan rumah Paulus. Padahal jalan rabat beton yang ada depan rumah Paulus sebelumnya sangat ramai dilewati.

Perlu Adanya Edukasi ke Masyarakat Tentang Covid-19

Sekda Manggarai Timur, Boni Hasudungan Siregar dalam penanganan kasus ini mengingatkan pemerintah agar terus melakukan sosialisasi dan edukasi pada masyarakat terkait Covid-19.

“Hal ini mengingatkan kepada kami untuk tetap dan terus melakukan sosialisasi mengedukasi masyarakat tentang Covid-19, bagaimana menghindarinya, bagaimana menyikapinya jika ada yang terjangkit, termasuk bagaimana jika ada warga yang baru datang dari negara atau daerah yang terpapar Covid-19, dan warga tersebut dengan sadar mau melakukan isolasi mandiri sesuai ketentuan yang ditetapkan,” kata Sekda Boni kepada media ini pada Minggu (29/3/2020).

Ditambahkan Boni Hasudungan, salah satu ketentuan isolasi mandiri, adalah warga tersebut menggunakan kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya dengan jaga jarak 1 meter.

Kesulitan penerapan kata Sekda Boni Hasudungan, adalah pada keluarga yang memilih ukuran rumah dan jumlah kamar yang terbatas. Apalagi kata Dia, jika ada anggota keluarga baru pada rumah tersebut.

Menjawabi kondisi Paulus di Kampung Lopa, Sekda menyampaikan, faktor faktor tersebut juga mungkin atas kesepakatan bersama, atau inisiatif sendiri dari yang bersangkutan untuk tinggal terpisah, namun keluarga juga harap Sekda, tetap memperhatikan kebutuhan hidupnya.

“Saya akan minta Camat mengecek dahulu berita ini, menghubungi pihak desa dan keluarga. Kemudian melakukan sosialisasi terkaid Covid-19, seperti yang saya sampaikan diawal tadi,” katanya.

Sementara itu, dalam penanganan Covid-19 Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur mengucurkan dana sebesar Rp 6,3 miliar.

Untuk tahap awal Rp 3.161.152.600, yang bersumber dari rasionalisasi belanja pada Dinas Kesehatan dan Dinas PUPR.

Untuk mengantisipasi jika pada tahap satu dana tersebut kurang, akan ditambahkan sebesar Rp 3.150.000.000, dicadangkan pada Belanja Tidak Terduga yang bersumber dari rasionalisasi biaya perjalanan dinas. (*)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here