Beranda Kesehatan Opini| Stroke, Penyakit yang Masih Asing Bagi Masyarakat Flores Timur

Opini| Stroke, Penyakit yang Masih Asing Bagi Masyarakat Flores Timur

236
0

Stroke, penyakit di bidang neurologi yang sifatnya mendadak dan merupakan salah satu penyebab kecacatan serta kematian tertinggi di beberapa negara di dunia. Indonesia sendiri masih belum bebas dari penyakit tidak menular yang mematikan ini. Menurut data RISKESDAS tahun 2018, angka kejadian stroke di Indonesia mencapai 10.9 permil. Dari data BPJS, stroke menempati urutan ketiga sebagai beban BPJS Kesehatan tertinggi yaitu mencapai 1.62 triliun (12.65% dari seluruh penyakit di Indonesia).

Flores Timur, yang terdiri dari tiga kepulauan besar yaitu pulau Flores, Solor dan Adonara, adalah kepulauan di Propinsi Nusa Tenggara Timur yang membentang luas dan dikelilingi oleh perairan yang amat luas. Sebagian besar penduduk Flores Timur bermata pencaharian sebagai petani dan juga nelayan. Dengan kondisi demografis seperti inilah hasil bumi dan laut di Flores Timur sangatlah melimpah. Ikan laut, ikan asin, cumi-cumi, dan kepiting sudah menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat Flores Timur.

Hal inilah yang membuat Flores Timur tidak luput dari penyakit stroke. Faktor resiko dari stroke sendiri dibagi menjadi dua: faktor resiko yang bisa dimodifikasi dan yang tidak bisa dimodifikasi. Faktor resiko yang tidak bisa dimodifikasi meliputi jenis kelamin, usia, genetik, dan ras tertentu, Sedangkan faktor resiko yang bisa dimodifikasi seperti Hipertensi, Diabetes, Obesitas, Merokok, Dislipidemia (kadar lemak berlebih), gangguan jantung, alkohol dan masih banyak lagi lainnya. Di Flores Timur, faktor resiko tertinggi untuk penyakit stroke adalah Hipertensi, Dislipidemia dan Merokok. Hal ini tidak lepas dari gaya hidup atau lifestyle dari masyarakat-masyarakat Flores Timur.

Stroke adalah penyakit yang sangat mendadak. Dengan rentang waktu 3 – 4,5 jam saja, penderita sudah harus mendapatkan pengobatan untuk mencapai luaran yang optimal. Namun di Flores Timur, rentang waktu tersebut relatif sulit dicapai. Hal ini dapat disebabkan karena dua hal yang utama, yaitu akses penderita ke rumah sakit yang jauh dan rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat Flores Timur tentang penyakit stroke itu sendiri.

Stroke secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu stroke iskemik dan stroke perdarahan. Stroke iskemik terjadi akibat sumbatan pembuluh darah di otak yang bisa disebabkan karena sumbatan lemak yang makin lama makin membesar, maupun sumbatan yang berasal dari fungsi pompa jantung yang kurang bagus sehingga menyumbat di pembuluh darah otak. Sedangkan stroke perdarahan terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di otak, yang sangat erat kaitannya dengan tekanan darah yang terlalu tinggi. Kedua jenis stroke ini dapat dibedakan dari pemeriksaan CT-Scan, untuk penatalaksanaannya pun berbeda tergantung dari jenis strokenya.

Gejala klinis dari stroke sangatlah luas dan bervariasi. Namun beberapa gejala yang paling umum terjadi antara lain: kelemahan satu sisi tubuh (hanya kanan atau kiri), ketidakmampuan untuk berbicara ataupun memahami pembicaraan yang terjadi tiba-tiba, bicara pelo, wajah mencong ke satu sisi dan menjadi tidak simetris, rasa kebal atau baal di satu sisi tubuh, gangguan penglihatan mendadak maupun nyeri kepala hebat merupakan gejala klinis stroke yang paling sering dijumpai.

Oleh karena itu, penulis merasa bahwa sangatlah penting untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat Flores Timur untuk mengenali tanda-tanda awal dari penyakit stroke; dan tidak kalah pentingnya, mengedukasi tentang faktor-faktor resiko stroke yang sebenarnya bisa untuk dicegah dan dikontrol. Mencegah lebih baik daripada mengobati, kenalilah gejala-gejalanya dan kendalikan gaya hidup kita agar tercapai kualitas hidup yang lebih baik. (*)


Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here