Beranda Sastra Cerpen ǀ Gadis Berkerudung Putih

Cerpen ǀ Gadis Berkerudung Putih

168
0
Ilustrasi (sumber: google)

Oleh: Gusti Padang Guche*

“Perhatian…perhatian…kapal Feri Ine Rie II rute Kupang Aimere satu jam lagi akan berlayar”, itulah pengumuman dari pihak Pelabuhan Tenau, Kupang, NTT. Ribuan penumpang saling berdesakan-desakan mengantri dari ruang tunggu sampai di jalur menuju kapal, untungnya jalur menuju kapal itu didesain dengan pagar kalau tidak mungkin banyak penumpang jatuh ke laut. Suara ombak yang memecah tembok pelabuhan, bunyi kendaraan baik roda dua maupun roda empat ditambah suara brisik dari ribuan penumpang bergabung menjadi satu membentuk sebuah irama musik yang tak berirama dan berakord.

Panas dan teriknya sang mentari seolah-olah tidak mampu menghalangi gelombang manusia yang terus bergerak walaupun gerakannya tidak lebih cepat dari siput soalnya penumpang sangat banyak sedangkan jalan masuk menuju pelabuhan sangat sempit. Apakah ini disengaja atau karena kurangnya perhatian dari pemerintah. Kalau disengaja dengan alasan agar bisa menahan laju penumpang hal ini masih bisa diterima oleh akal sehat, tetapi apabila karena kurang perhatian dari pemerintah, sungguh ironis, bukan?

Setiap 5 menit pihak keamanan pelabuhan akan menghimbau para penumpang agar berhati-hati dengan barang bawaan berharga seperti uang, perhiasan dan juga semua barang bawaan yang lainnya sebab sering terjadi kasus pencurian di pelabuhan ini. Sungguh sangat menyedihkan. Itulah tindakan yang tidak terpuji yang sering terjadi di tanah air kita ini.

Kasus pencurian bukan hanya terjadi di pelabuhan ini saja tetapi terjadi juga di semua instansi, namun di sana bukan disebut pencuri tetapi disapa dengan julukan yang lebih elegan yaitu “koruptor”, eh maaf terlalu jauh melantur dari topik.

***

Di antara ribuan penumpang, aku terhimpit hu…h…sungguh sangat menyiksa, bernafas pun terasa sulit. Benar-benar sebuah petualangan yang mengerikan. Terlintas dalam benakku tentang nasib anak-anak dan kakek/nenek yang juga mungkin mengantri di antara ribuan penumpang ini. Apakah mereka bisa bertahan, aku mencoba beretorika dengan keadan yang tengah dialami ini. Situasi dan kondisi yang sulit seperti ini tidak berarti bagi para penumpang yang terus bergerak berdesakan untuk bisa lebih cepat sampai di kapal. Tangisan bayi akibat kepanasan juga teriakan pedagang mamiri (makanaan dan minuman ringan) mampu mengalihkan pendangan, perhatian dan pendengaran banyak orang walaupun hanya sekedar menolehkan kepala saja.

Posisiku sangat tidak memungkinkan untuk bergerak sedikit lebih bebas karena aku berada di tengah-tengah lautan penumpang. Meskipun demikian aku tetap berusaha melemparkan pandangan ke sekeliling melihat mungkin ada seseorang yang kukenal, sehingga bisa menjadi teman ngobrol di kapal nantinya. Tetapi hasilnya tak ada seorangpun yang aku kenal, “sial”, gumam-ku.

Tanpa disadari kini aku telah berada di pintu masuk kapal, meskipun telah berada di tempat yang sedikit nyaman namun tetap saja terasa sulit untuk melangkahkan kaki sebab harus berdempetan dengan mobil-mobil dan motor yang terparkir dalam dek pertama.

Aku bersyukur bisa masuk sedikit lebih awal. Aku terus melangkah menuju dek tiga, walaupun dek pertama belum terlalu sesak dan dek kedua juga sama tetapi aku tidak tergiur untuk berhenti di dek pertama atau kedua soalnya tidak bebas untuk bergerak dan menikmati keindahan lautan. Untuk sampai ke dek tiga memang dibutuhkan perjuangan yang ekstra sebab kita harus harus melewati tangga yang kecil dan sempit, juga sesama penumpang yang saling berdesakan untuk sampai di dek tiga, sungguh sangat menderita.

Tiba-tiba, “Adu…tolong tasku jatuh…tolong,”, sedikit gerakan refleks aku menangkap tas yang jatuh itu, kini tas itu sudah berada di tanganku namun tidak mungkin langsung dikembalikan ke pemiliknya soalnya aku berada di anak tangga paling terakhir, jadi tidak mungkin bisa. Aku tetap memegang tas itu, dan terpaksa harus membawanya.

“Makanya nona jalan tu hati-hati”,

“Untung jatuhnya dalam kapal bagaimana kalau jatuhnya di laut”,

“Sudah tahu kapal ini penumpangnya sarat, kenapa membawa banyak barang”

Itulah beberapa komentar para penumpang yang berada di tangga ketika melihat kejadian kecil tersebut yang sempat aku rekam. Meskipun aku belum melihat wajah pemilik tas yang sedang aku pegang ini tetapi dari komentar para penumpang aku tahu bahwa pemilik tas itu seorang perempuan. 

Gadis pemilik tas ternyata telah berdiri di pintu masuk dek tiga, aku bergegas menuju tempat sang perempuan berdiri, aku tahu alasan ia berdiri adalah menunggu kedatanganku untuk mengambil tasnya.

“Makasih atas bantuanya…untung ada kamu kalau tidak aku tidak bisa mengambil tasku dengan situasi seperti ini”, katanya dengan ekspresi sedingin es.

“Oh…ya…”, kataku sedikit terbata-bata.

Yang tersedia di dek tiga hanya dua pasang meja dan bangku itu pun semua terbuat dari kayu. Beda dengan vip atau ruang ekonomi yang telah disiapkan dengan tempat tidur dan kursi. Di dek tiga ini kita harus mencari tempat sendiri. Saat itu juga tergeraklah hatiku oleh rasa kasihan padanya, bagaimana tidak gadis manis ini membawa barang melebihi kemampuannya dua tas ransel dan satu dus. Aku mencoba untuk menawarkan jasa untuk membawa tasnya.

“Biar saya bantu bawa tasnya, kamu tenang saja saya tidak akan mengambil tasmu dan…oh saya akan carikan tempat untuk kita berdua”, kataku sambil mengangkat tasnya lalu pergi mendahuluinya meskipun ia belum memberi persetujuan, aku melirik ke arahnya jangan sampai dia tidak mengikuti langkahku, tetapi ternyata dia mengikutiku dari belakang.

Penumpang telah memadati setengah tempat di dek tiga, suasana sangat panas. Dan satu lagi dek tiga merupakan tempat terbuka yang sebenarnya mungkin bukan untuk penumpang, tetapi keadaan yang memaksa penumpang untuk menempatinya. Yang menjadi ketakutanku seandainya terjadi gelombang besar di tengah laut atau hujan dan badai pasti semua yang berada di dek tiga ini menjadi sasaran pertama yang terjun bebas ke laut. Semoga ketakutan yang aku kuatirkan ini tidak menjadi sebuah kenyataan. Tetapi tetap perlu berwaspada dan berjaga-jaga sebab segala sesuatu bisa terjadi di luar dugaan dan kemampuan kita.

Aku memutuskan untuk memilih tempat tepat di bawah skoci di letakan, dengan maksud agar terhindar dari sengatan matahari dan juga dari penumpang yang lalu-lalang ke kantin dan ke kamar kecil selama dalam perjalanan.

Sampai sejauh ini kami belum saling mengenal, sekedar untuk memperlancar komunikasi. Gadis berkerudung putih kini berada tepat di sampingku tengah asik dengan handphonenya entah untuk apa akupun tak ambil pusing lagian itu menyangkut ruang privasi seseorang.

Aku sendiri sibuk mengamati suasana penumpang yang sedang berebutan masuk kapal Ile Mandiri dengan rute perjalanan Kupang-Larantuka. Pemandangannya tidak jauh berbeda dengan yang aku alami ketika hendak masuk ke kapal Ine Rie II. Melihat situasi yang ada ini pikiran liarku mulai mengandai-andai tentang situasi yang sedang terjadi ini. Asyik bermain dengan pikiranku sendiri tanpa menyadari ternyata gadis berkerudung putih yang berada di sampingku tengah menatapku.

“Kak…sorry ya, kita belum kenalan, saya Sri Ayu Permatasari, panggil saja Sri”, sambil mengulurkan tangannya. Aku sedikit kaget tetapi dengan cepat aku menyesuaikan diri dengan situasi agar tidak terlihat kaku.

“Oh…ya, saya Samuel Lalu, kamu bisa panggil saya Muel”, kataku sambil menjabat tangannya. Setelah perkenalan itu kami mulai mengobrol tentang segala hal yang kami lihat baik di kapal yang sedang kami tumpangi ini maupun di pelabuhan.

“Dua puluh lima menit lagi kapal akan berangkat, bagi para pengantar dan penjual mamiri diharapkan untuk segera meninggalkan kapal karena sebentar lagi pintu akan ditutup”, itulah bunyi pengumuman yang memotong obrolan kami.

Kini semua penumpang yang berada di dek tiga seperti dikomando berebutan berdiri di geladak sambil melambaikan tangan ke arah pelabuhan, akupun turut berdiri dan melambaikan tangan entah kepada siapa aku sendiri juga bingung. Ketika melihat hal ini aku mengingat adegan dalam film Titanic, ketika kapal hendak berlayar semua penumpang melambaikan tangan dan mengucapkan selamat tinggal, tetapi bukan tentang tenggelamnya kapal Titanic. Begitu juga Sri dalam kebingungan dia juga mengikuti apa yang aku lakukan tanpa tahu apa tujuannya.

***

Kini kapal tengah berlayar, penumpang yang tadinya berdiri perlahan-lahan kembali ke tempat duduk masing-masing, sedangkan aku dan Sri masih berdiri menatap indahnya pulau Timor dan Semau. Burung pelikan berterbangan sangat rendah melihat ikan dalam lautan yang akan menjadi santapannya.

“Muel apa yang kamu harapkan dalam perjalanan ini”, tanya Sri membuka percakapan.

“Aku sih…berharap agar kapal ini bisa tiba di Pelabuhan Aimere dengan selamat. Lalu kamu harapannya apa”, tanyaku kepadanya.

“Aku berharap agar kapal ini tidak pernah sampai di Pelabuhan Aimere”, katanya dengan nada sedikit kecewa diikuti dengan tarikan nafas yang panjang.

“Memangnya kenapa, apakah kamu tidak kasihan dengan penumpang yang ada di kapal ini. Jika  kapal ini tidak sampai… berarti ada ribuan orang yang akan meninggal hari ini, apakah kamu tidak kasihan…dan apa kamu tidak merasa bahagia ketika besok pagi kamu bisa sampai di tempat kamu dilahirkan dan dibesarkan, di sana juga kamu akan berkumpul dengan semua orang yang mencintai dirimu”, aku mencoba untuk mencairkan suasana kacau dalam dirinya.

“Tapi Muel aku tidak kuat…harus menerima kenyataan hidup yang akau alami ini, aku…..”, ia tidak melanjutkan kalimatnya membuat aku penasaran sebenarnya ada apa.

“Memangnya apa yang terjadi dengan hidupmu, atau dengan keluargamu, apa yang terjadi dengan dirimu….”,

“Sebenarnya…aku…aku…”. Obrolan kami terputus lagi ketika petugas kapal (ABK) yang datang memeriksa tiket.

Pulau Timor dan Semau tak kelihatan lagi, senja telah berubah menjadi malam cahaya mentari telah diganti oleh cahaya rembulan dan ribuan bintang yang menghiasi angkasa, deruh mesin kapal dan ombak yang ditabrak kapal menggema menutupi suara para penumpang yang telah lelah dipanggang sinar matahari selama hampir enam jam.

Penumpang kini tengah sibuk dengan kegiatanya masing-masing ada yang makan, main kartu, mengisi tts (teka-teki silang), menonton dan berbagai kegiatan lainya. Aku dan Sri tengah menikmati nasi ikan, bekal yang dipersiapakannya untuk perjalanan. Jujur aku merasa beruntung bisa makan di kapal padahal selama ini aku tidak pernah membawa bekal paling hanya minum kopi, rokok dan roti itu pun kalau ada.

Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam, suasana semakin dingin. Angin berhembus semakin deras membuat bulu badan berdiri, aku memasukkan kedua tanganku dalam saku jaket agar dapat mengusir sedikit rasa dingin, bermaksud untuk menghisap rokok tapi aku takut asap rokok mengganggu gadis berkerudung putih yang ada di hadapanku ini. Aku terpaksa menahan diri berusaha menunjukkan etika dalam pergaulan yang sering diajarkan oleh guru kewargaan masih SLTA dulu.

“Muel…minta tolong ya, temani aku ke kamar kecil”

Aku belum sempat memberi persetujuan Sri telah menarik tanganku, aku pun tanpa komentar langsung mengikutinya dari belakang,

“Makasih ya Muel”, kata Sri ketika kami telah kembali dari toilet. Tanpa ba..bi…bu lagi ia langsung merebahkan badannya dan sibuk mengutak-atik handphonenya, aku sendiri bingung mau buat apa. Mau tidur tapi tempat tidak ada, mau di sebelah Sri, takutnya dibilang tidak sopan, lagian kami tidak ada ikatan apa-apa entah teman atau keluarga. Apa aku harus berjaga sampai pagi, mau cari tempat jam begini mana ada huh…nasib.

Tanpa memberitahu Sri, aku bergegas menuju geladak sekedar menyaksikan indahnya suasana malam di tengah lautan lepas ditemani cahaya lembut sang rembulan dan ribuan bintang malam, sambil menikmati rokok Surya 12. Pikiranku terus berputar mencari dan memilih kenangan mana yang akan menemaniku menikmati rokok ini. Batang demi batang kuhabiskan maklum dingin sekali.

Tanpa disadari ternyata Sri kini sudah berada di sampingku dengan penampilan yang membuatku sulit tuk berkata-kata. Sri yang berdiri di depanku tampak seperti bidadari tidak berlebihan hampir saja aku tidak mengenal dirinya kalau ia tidak menyapaku. Rambut panjangnya terurai jaket hujau muda dipadu celana 3/4 hitam membuat penampilannya sempurna.

“Wah, ternyata ia telah membuka kerudungnya” gumamku dalam hati.

“Hay…kenapa bengong…”, sapa Sri membuat aku kaget.

“Hmmm…m aku cuma tidak percaya saja melihat kamu tidak mengenakan kerudung”,

“Memangnya kenapa ada yang salah ya, atau…”

“Kamu cantik sekali…kecantikanmu mampu mengalahkan bulan yang bersinar malam ini”, tanpa kusadari kata-kata pujian itu meluncur begitu saja dari mulutku.

“Hahahahah makasih…atas pujianya”, jawabnya sambil tersenyum malu-malu.

“Muel…kenapa kamu ke sini tidak ajak-ajak biar kita sama-sama, atau jangan-jangan kamu maunya sendiri ya…”

“Aku tidak bermaksud begitu, tadinya aku pengen mengajak kamu tapi ketika pulang kamar kecil tadi kamu langsung tidur jadi aku batalkan untuk mengajak kamu…takutnya tidur kamu terganggu”.

“Oh…kiranya maunya sendiri-sendiri biar bisa bebas buat ini, itu…hahaha”, kata Sri sambil tertawa.

“Sri, bisa tanya sesuatu tidak”,

“Wa…pake tanya segala, ya bisa la….emangnya kenapa”,

“Tapi kamu janji tidak tersinggung ya…”

“Memangnya kamu mau tanya apa, pake tersinggung segala, lagian kalau pertanyaannya benar buat apa tersinggung”, ia menegaskan kepadaku.

“Sri kamu ingat tidak, siang tadi ketika kita ngobrol di sini, kamu pengennya mati, kapal ini tenggelam. Sebenarnya ada apa dan katanya kamu, sori ya…soalnya aku penasaran, kalau memang itu masalah pribadi dan sulit untuk dibagikan ya sudah tidak usah diceritakan”.

“Oh…itu rupanya…sebenarnya aku….aku hamil dan yang lebih paranya lagi pacarku telah pergi entah ke mana dan tidak bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi ini. Minggu lalu dia telah berbicara dengan orang tuaku bahwa dia akan ke rumah untuk bertemu dengan orang tuaku dan membicarakan tentang hubungan kami.

Tetapi apa yang terjadi, dua hari sebelum kami berangkat ia pergi tanpa pesan, aku mencoba sms, telpon tapi tidak ada jawaban aku benci dia, dasar laki-laki tidak tahu diri”, katanya sambil menahan air matanya, kini raut wajahnya telah berubah dari yang tadinya bersinar bak rembulan malam kini seolah-olah redup dan nyaris tidak bercahaya. Aku tidak tahu harus berkata apa, aku merasa bersalah dengan pertanyaan yang kulontarkan ingin menarik kembali pertanyaan itu tetapi semua telah terjadi ibaratnya nasi telah menjadi bubur.

“Muel aku bingung dan takut bagaimana aku harus pertanggungjawabkan semua ini di hadapan kedua orang tua dan keluarga besarku”, katanya diakhiri dengan isakan, terlihat butiran bening telah turun dari sudut matanya membasahi pipinya.

“Sri aku minta maaf…ya, telah membuat kamu menangis, aku tidak bermaksud begitu, tapi aku penasaran saja…maaf ya…”, sambil menyodorkan sapu tanganku agar ia menghapus air matanya.

Lama kami terdiam dalam sepi, hanya deru mesin kapal dan ombak yang terdengar. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Kini aku hanya bisa menghabisi rokok yang terjepit di kedua jariku. Pikiranku terus berputar mencari solusi untuk Sri. Aku akui sejak melihat dan mengenal Sri aku telah jatuh cinta padanya. Jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Sri…apakah pacar kamu telah berkenalan dengan kedua orang tuamu”, tanyaku dengan nada serius.

“Belum…memangnya kenapa…”

“Jujur sebenarnya sejak pertama kali aku kenal kamu aku merasakan sesuatu yang berbeda, satu perasaan yang berbeda entah karena apa tapi aku merasa kalau akau jatuh cinta padamu…dan aku berjanji untuk menggantikan posisi pacar kamu itu sebagai suami dan ayah dari anak dalam kandunganmu. Itupun kalau kamu tidak merasa keberatan dan mau menerima diriku apa adanya…tuk mendampingimu”

“Muel…apakah kamu tidak menyesal dengan keadaan diriku ini, aku hamil dan aku rasa aku tidak pantas mendapatkan cinta dari dirimu. Satu hal lagi kita berdua memeluk kepercayaan yang berbeda, kamu Katolik sedangkan aku Islam hal ini akan membuat suasana menjadi rumit dan aku tidak mau hanya karena merasa kasihan kamu memutuskan untuk menjadi pendamping hidupku, aku menghargai cintamu itu tetapi…..”

“Sri…jujur aku jatuh cinta padamu. Memang hal ini kedengarannya tidak masuk akal tetapi inilah kenyataan yang terjadi. Aku sendiri bingung dengan perasaan yang aku rasakan ini. Apakah aku salah jatuh cinta dan mencintai kamu. Sri…, apakah pintu hatimu telah tertutup untuk kusemaikan benuh cinta suci ini”, kataku sambil menggenggam kedua tangannya.

“Sri apakah kamu mau menerima aku sebagi pendamping hidupmu…kamu tidak usah memikirkan hal-hal yang bakal terjadi, aku sudah siap tuk menghadapi semuanya, percayalah padaku….”, kataku dengan tegas untuk menyakinkanya kalau aku serius.

“Muel aku tidak tahu harus berkata apa…jujur aku juga merasakan hal yang sama. Sejak bertemu kamu saat mengembalikan tasku tadi, tetapi jujur aku masih ragu dan tidak percaya dengan semua ini. Muel apa semua ini tidak terlalu cepat…aku”, belum sempat dia melanjutkan kalimatnya…

“Sri… aku tahu ini memang sangat berat bagi kamu…, tetapi percayalah aku tulus menerima dan mencintaimu, Sri jika memang kamu belum percaya izinkan aku besok pergi bersamamu untuk menemui kedua orang tuamu dan kalau bisa aku langsung malamar kamu besok…, jujur aku mencintaimu…aku mencintaimu tulus dari hati bukan karena aku kasihan sama kamu, dengan keadaan kamu yang seperti ini”, kataku sambil memeluk Sri dengan lembut.

Di antara deburan ombak dan deru mesin kapal dan diterangi oleh cahaya sang rembulam malam serta ribuan bintang yang menghiasi langit, kami berdua terlarut dalam pelukan. Antara benar dan tidaknya aku mendengar bisikan halus dari mulut Sri yang tepat berada di bawah telingaku. 

“Muel…aku cinta kamu,,…”, bisik sri dengan manja sambil mempererat pelukannya. Aku pun tidak mengetahui entah berapa lama kami berpelukan, lalu aku menggandengnya menuju tempat di mana tas dan barang-barang kami diletakkan. Aku mengantuk sekali demikian pun Sri akhirnya kami tertidur sambil berpelukan, di bawah terang rembulan malam, di atas dek tiga kapal Feri Ine Rie II tute pelayaran Kupang- Aimere, Bajawa.

***

Aku tersadar dari tidurku oleh suara gaduh para penumpang yang berebutan untuk turun, juga suara dari pengeras suara yang menghimbau para penumpang untuk berhati-hati dengan barang-barang bawaan. Ternyata Kapal Ine Rie II telah sandar di Pelabuhan Aimere 15 menit yang lalu. Aku dengan gesit bangun merapikan tas. Aku merasa ada sesuatu yang berbeda ah…ternyata Sri tidak ada di sampingku, aku berpikir mungkin dia ada di geladak namun aku tidak melihat dia di sana, tas-tasnya pun hilang bersamanya, berarti dia telah pergi.

Aku mengangkat tasku dan mencoba berjalan melewati ratusan penumpang yang sangat padat memenuhi tangga turun ke dek dua, aku memutuskan untuk lewat depan saja, menuruni tangga sambil melihat ke dalam kapal dan ke pelabuhan mungkin Sri masih berada dalam lautan penumpang yang berjalan menuju tempat parkir namun semuanya sia-sia. Bagaimana aku bisa menemukan Sri dalam lautan penumpang ini.

Hampir di semua dek aku mencari namun sosok yang kucari tak kunjung dapat. Aku memutuskan untuk mencari di pelabuhan, di tempat parkir, di kios-kios, di rumah makan namun aku tidak menemukan gadis berkerudung putih itu ia seolah-olah hilang ditelan badai “sial…”, gumamku.

Kaki terasa berat untuk berlangkah, aku terus memikirkan gadis berkerudung putih itu, di manakah dia sekarang apa dia masih di dalam kapal dan kembali ke Kupang atau dia telah bertemu kedua orang tuanya. Oh Tuhan bagaimana nasib gadis itu, aku mohon lindungi dia ya Tuhan. Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku hanya bisa berdoa saja semoga gadis berkerudung putih itu bisa bahagia.

Hampir 20 menit aku berdiri bak patung di tengah keramaian itu, pikiranku hanya tertuju pada gadis berkerudung itu, mencoba untuk menghubunginya tetapi aku lupa meminta nomornya di atas kapal tadi malam, itulah kebodohanku. Ketika aku hendak mengambil rokok di saku jaketku, untuk mengusir rasa stres dalam hati, namun bukannya rokok yang kudapat tetapi secarik kertas yang dilipat dengan sangat rapih. Aku mengambil kertas itu membukanya dan betapa terkejutnya aku ternyata itu adalah surat yang ditulis Sri untukku. Tanpa mempedulikan orang di sekitarku yang berjalan ke sana-kemari mencari bemo, travel, bus dan ojek aku membuka surat itu dan mulai membacanya.

Teruntuk kak Samuel

Muel…maafkan aku ya…..aku berharap kamu mau memaafkan aku yang pergi begitu saja tanpa pamit, aku tahu mungkin saat ini kamu sedang mencariku di pelabuhan, aku mohon kamu tidak usah mencariku lagi sebab yang pasti aku telah pergi. Aku terima jika kamu memaki diriku, memarahiku atau apa, aku akan menerima semuanya. Muel terima kasih karena telah menguatkan diriku, menolongku dan menemaniku selama di kapal tetapi secara khusus terima kasih karena telah mencintaiku apa adanya. Muel aku juga mencintaimu tetapi aku sadar aku tidak pantas menerima cinta sucimu, aku tahu dan pasti kamu juga tahu akan keadanku aku tidak mau kau menanggung semua ini. Muel maafkan aku…aku berjanji akan membawa cintamu dan semua kenangan kita di kapal walau hanya semalam sampai akhir hidupku…aku sayang kamu Muel,,,,,,dan aku berjanji akan memberi nama anak dalam kandungan ini dengan namamu Samuel. Aku cinta kamu Samuel.

Sri Ayu Permatasari

Setelah membaca surat itu, aku terdiam untuk beberapa saat berdiri bak patung, dalam diamku aku berdoa memohon berkat dan perlindungan Tuhan untuk Sri dan buah hatinya terkhusus masalah yang sedang dihadapinya.

*) Penulis asal Mbarungkeli, Riung, Ngada  (NTT), sekarang tinggal di Jogjakarta sebagai mahasiswa.

**)Mohon maaf apabila ada kesamaan kisah, tempat dan nama. Cerita ini hanyalah hasil imajinasi penulis semata. Terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here