Beranda Opini Opini ǀ Hidup dalam Pesismistis : Hoaks dan Gosip

Opini ǀ Hidup dalam Pesismistis : Hoaks dan Gosip

119
0
Ilustrasi

Oleh: Fransiskus Dopen Tukan*

Ngeteh sambil baca koran udah menjadi kebiasaan setiap kali sehabis sarapan pagi. Surat kabar, Kompas edisi 18/03/2020, menjadi sajian utama untuk disimak, meskipun posisinya sudah satu tingkat di bawah tumpukan edisi koran hari ini. Dari kesekian halaman yang dibaca, perhatian saya tersedot pada salah satu halaman, tepatnya pada kolom kaum muda, terdapat satu gambar karikatur bertulis demikian, “di dunia maya banyak hoaks, di dunia nyata banyak gosip“.  Kalimat tersebut tentu tidak lain adalah tentang fenomena hoaks dan gosip. Ini adalah fenomena yang selalu menjadi polemik hangat yang sangat merealita. Oleh karena itu, adalah baik untuk merefleksikan lebih jauh kedua fenomena ini.

Kita telah lama memasuki zaman yang disebut zaman Post-Truth. Pertama, saya memulainya dengan hoaks. Perkembangan dalam dunia modern dengan teknologinya yang begitu canggih, membuat kita tidak asing lagi dengan istilah medsos. Medsos dapat dikatakan sebagai suatu hadiah istimewa hasil kemajuan teknologi, yang memudahkan kita dalam banyak hal: membangun komunikasi, relasi, alat kontrol sosial, mengakses pengetahuan dan informasi dan lain sebagainya dalam langkah yang serba cepat.

Di satu sisi memberikan manfaat yang positif, di satu sisi  media “daring ” menghempaskan kita ke tepian kehancuran. Demikian mudah dan cepatnya informasi yang diakses, memudahkan oknum-oknum tertentu untuk menyebarkan berita yang mengandung unsur-unsur kebohongan, memutarbalikan fakta untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Inilah hoaks atau “kabar burung”. Para konsumer (masyarakat pengguna) informasi yang lapar akhirnya tidak secara kritis menyimak, dan menelan mentah-mentah informasi yang ada. Mengupload atau pun share kepada yang lain. Tidak jarang banyak yang mudah terkecoh dengan hoaks karena dalam suasana ketergesaan, dorongan ingin menjadi orang yang ter-update dengan informasi. Kebenaran informasi pun menjadi tanggung dan justru absurd.

Lantaran sulit untuk memilah informasi yang ada sebagian orang cenderung pesimis dengan media “daring”. Banyak yang menarik diri dan tidak menaruh perhatiannya pada dunia maya. “alih-alih memikirkan dunia sana, dunia sini akhirnya dilupakan”. Meskipun memilih untuk menjauh bukan berarti benar terbebaskan dari perbudakan kata-kata. Di kehidupan “sini” pun mempunyai perhelatannya sendiri. Inilah fenomena kedua yang juga penting untuk  diperbincangkan. Gosip.

Kehidupan terjalin dari dari dua benang kehidupan hitam dan putih. Orang-orang yang datang pun beragam, ada yang mengamini kehidupan seseorang tapi ada juga yang malah mengutuk dan membenci, irihati. Mengamini tentu adalah daya positif yang membangkitkan, daya optimisme. Irihati dan kebencian justru menjadi substansi untuk menjatuhkan seseorang. Senjatanya adalah gosip.

Dikatakan istilah gosip berasal dari kamar tidur pada saat melahirkan. Melahirkan digunakan untuk menjadi acara sosial yang secara eksklusif dihadiri oleh wanita. Kerabat dan tetangga perempuan wanita hamil itu akan berkumpul dan bercakap-cakap santai. Seiring waktu, gosip berarti pembicaraan orang lain. (If Walls Could Talk: The History of the Home, Lucy Worsley, BBC). Kenyataan gosip sering dirujukan kepada ibu-ibu (pengalaman penulis sendiri, kalau ibu-ibu sudah berkumpul bersama, pasti ada topik tentang seeorang yang diperbincangkan). Namun sangat naif bila rujukannya hanyalah kepada ibu-ibu. Gosip dapat mengandung unsur kebenaran dan juga kekeliruan. Benar dalam artian membeicarakan kenyataan yang benar atau yang memang terjadi tentang dan pada seseorang. Tapi kekeliruannya adalah membicarakan hal-hal atau kenyataan yang tidak benar tentang seseorang, memfitnah. Inilah letak kepararelannya dengan hoaks. Gosip, sebagaimana hoaks menjadi penyakit masa. Sengaja dimanfaatkan untuk menjatuhkan seseorang. Tidak hanya di kalangan ibu-ibu sebagaimana pengalaman penulis, entah itu bapak-bapak ataupun di kalangan remaja, semua orang.

Ketika sebagian orang setuju bahwa gosip sangat menjengkelkan dan jahat, namun terdapat ahli yang percaya bahwa gosip sangat bermanfaat. Dalam bukunya Jack Levin yang berjudul Gossip: The Inside Scoop hasil observasinya menjelaskan bahwa, gosip sangat bagus untuk tingkat kesehatan emosi seseorang. “Meskipun ‘berbicara di belakang’ dapat menyakitkan seseorang, secara umum hal tersebut bisa mendekatkan satu individu dengan individu lainnya,” ujar Levin. Tapi, tidak dapat dipungkiri jika faktanya seseorang yang menjadi target gosip, akan berakhir seperti diisolasi dan merasa terkuras secara emosi.

Merujuk ke dalam sejarah filsafat, khususnya filsafat Yunani kuno, hoaks sering dialamatkan kepada kaum Sofis (450-280 SM). Kaum Sofis adalah para profesional yang dalam dialekgiknya terlepas dari sebuah kenyataan yang ada tetapi mementingkan cara untuk menenangkan suatu argumen yang mempengaruhi orang lain.

Dalam kepintaran yang dimilikinya kaum Sofis menyatakan bahwa nilai moral hanyalah konvensi belaka, tetapi tidak nampak jelas. Ilmu retorika yang diminati kaum Sofis menjadi sarana yang ampuh dengan memusatkan perhatian pada kemenangan dari sebuah argumen tanpa menilai kebenaran dari sebuah informasi. Memang pemikiran kaum Sofis selalu dikaitkan dengan sebuah retorika, yaitu suatu cara persuasif yang memberi argumen untuk meyakinkan orang lain tanpa realitas yang sesungguhnya. Dalam hal ini, hoaks juga mempunyai bahkan lebih dari suatu cara berargumen tanpa tujuan yang jelas bahkan tanggung nilai kebenarannya.

Hoaks itu mengandaikan seperti yang diungkapkan oleh kaum Sofis sebuah pandangan yang nakal, dengan kehebatan mereka dalam seni berargumentasi (menyampaikan informasi) yang dianggap menghalalkan segala cara untuk memenangkan perkara, mendapat simpati massa, dituduh tidak mengupayakan kebenaran, cerewet, pintar bersilat lidah tetapi tidak mendalam, tajam-pedas namun dangkal, (Simon P.L. Tahtjadi, Petualangan Intelektual. Yogyakarta: Kanisius, 2004).

Hoaks tentu tidak jauh berbedanya dengan gosip. Gosip, juga hoaks sumber dan substansinya informasinya belum jelas dan berisikan tentang hal-hal yang menggemparkan, berisikan provokasi, fitnah, dan kebohongan-kebohongan besar lainnya, dengan sebuah retorika yang digunakan Sofisme, yang tidak berkomitmen terhadap realitas. Jadi orang yang menyebarkan hoaks dan seorang yang suka bergosip di sini sama dengan seorang Sofis.

Kedua fenomena ini bagi penulis adalah penyakit masa yang harus dibendung. Hampir tak ada distingsi di antara keduanya. Fenomena dengan substansi yang sama. Di dunia nyata pun hoaks tumbuh subur, contoh kecilnya penipuan. Sebaliknya di dunia maya, gosip pun tumbuh subur, acara-acara di TV bahkan sering diberi nama gosip (pengalaman penulis). Hoaks sering mengandung gosip, begitupun sebaliknya dalam gosip ada unsur hoaksnya.

Kedua fenomena ini tentu selalu menghantui. Dampak selanjutnya  adalah banyak orang semakin pesimis menghadapi kedua kenyataan ini. Tidak jarang banyak yang berusaha untuk lari dari padanya. Dalam menghadapi hoaks manifestasinya: menghapus akun media, aplikasi, hanya sekadar memantau, dan lain-lain (hasil Jajak pendapat Litbang Kompas , Kompas, 18/03/2020).

Lalu bagaimana jalan keluar menghadapi dua fenomena ini. Sebagai seseorang yang pernah mengalami dua kenyataan ini, saya menawarkan kepada para pembaca yang budiman beberapa jalan keluar. Pertama, dalam menghadapai fenomena hoaks salah satu hal terpenting adalah aktivitas membaca. Membaca adalah kegiatan yang membutuhkan konsentrasi sendiri. Tampak bahwa kegiatan membaca adalah suatu kegiatan yang berjalan dengan lambat. Namun bagi saya, justru ini adalah cara yang lebih produktif. Kelambatan dalam membaca adalah salah satu pengimbang untuk melawan berita bohong yang sebaliknya, bergerak dengan sangat cepat. Kelambatan tersebut membuat kita harus aktif memilih mana yang mau dibaca dan tidak. Membaca akan membawa penggunanya pada suatu kedalaman informasi, keutuhan informasi, hingga sampai pada pemikiran kritis. Kebiasaan ini akan mengubah pola pikir kita untuk tidak tergesa-gesa. Daya kritis akan tumbuh dengan sendirinya.

Membaca berulang-ulang, dan beragam buku. Ini adalah cara sederhana agar kita dapat membendung informasi yang mengandung hoaks. Dengan begitu kita tidak pesimis dengan medsos (Apalagi saat ini informasi seputar Coranavirus lagi membumi, akan sangat baik bila kita bersikap Kritis terhadapnya). Di samping itu adalah baik untuk menyinggung sedikit tentang media prantara, dalam arti media yang menjadi lahan atau tempat informasi diberitakan, tanpa pelu panjang lebar, agar penting untuk memilah kelayakan informasi.

Kedua, dalam kenyataan mengahadapi fenomena gosip. Bagi para korban gosip tak perlu harus pesimis menjalani hidup. Bila yang digosipkan adalah sesuatu fakta kita hanya butuh keterbukaan hati, dalam artian membiarkan itu terjadi, karena memang begitulah faktanya. Namun, bila yang digosipkan tak sesuai fakta maka biarkanlah itu terjadi, cuek, di samping itu tetaplah fokus menjalani hidup.

Kesimpulanya bahwa di era post truth dengan segala macam keterbukaan ini kita hanya perlu untuk tetap kritis menjalani hidup dan selalu melihat yang posif untuk diri kita. “Don’t jugje a book by its cover“.

*Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta. Hobby : Membaca buku filsafat, Sastra dan Politik, Menulis puisi dan Opini.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here