Beranda Opini Opini ǀ Pendidikan Yang Membebaskan (Peluang atau Tantangan)

Opini ǀ Pendidikan Yang Membebaskan (Peluang atau Tantangan)

179
0
Ilustrasi (Sumber: Google)

Oleh: Orias Lazarus Selan, M.Pd*

Seringkali terdengar kalimat “kami dulu tidak seperti kamu anak muda sekarang, kami dahulu pada usia seperti kamu telah memiliki kebun sendiri, tidak pernah berbantah dengan orang tua, patuh, suka menolong, rajin, ketika melihat guru sedapat mungkin menghindar atau bersembunyi, ketika bersua dengan orang yang lebih tua di tengah jalan wajib menyapa atau memberi salam.” Atau kalimat seperti “ukuran seorang perempuan menikah pada masa lalu pada kemampuan menenun kain atau juga kami lulusan tahun 1980-an ke bawah menghitung penjumlahan tidak tergantung pada kalkulator.” Inilah beberapa pernyataan yang sering di ucapkan oleh orang tua. Mereka sepertinya mengagungkan masa lalu mereka dan melihat masa kini sebagai chaos. Kalimat seperti di atas dibantah oleh orang muda kini dengan kalimat seperti ini, ”masa lalu bapak, mama itu tidak modern, tidak ada yang namanya hand phone, internet, TV, dst.”

Wacana di atas menegaskan kebenaran siaran-siaran TV, tertulis di media-media massa, terdengar dari siaran-siaran di radio, tentang kenakalan remaja, kasus pembunuhan, pemerkosaan, pencurian bahkan ada yang bom bunuh diri. Pelakunya 60 % mereka masih berusia 20 s/d 40-an tahun, bahkan ada yang di bawah 20 tahun. Semua yang melakukan kekerasan ini rata-rata pernah mengenyam pendidikan agama menurut agamanya di lembaga-lembaga pendidikan. Kondisi ini pun menggambarkan kegagalan lembaga pendidikan mencapai tujuan pendidikan untuk membuat perubahan hidup secara positif bagi semua yang pernah mengenyam pendidikan. Seperti yang dipertanyaan oleh N K Atmadja-Hadinoto (1989:215) “Sejauh mana edukasi itu mengubah manusia? Dapatkah manusia sama sekali diubah identitasnya dari semula?”

Banyak pihak memprihatinkan masalah ini. Rasanya pendidikan hampir kehilangan nilai-nilai luhurnya, nilai luhur yang dimaksud adalah menjadikan manusia lebih manusiawi (homo hominimus). Pendidikan secara sederhana pun sudah menjadi ladang bisnis. Para pendiri-pendiri pendidikan tidak lagi mengarahkan tujuan pendidikan lembaganya pada menjadikan manusia yang manusiawi (homo hominimus) tetapi mendidik manusia untuk memenuhi kebutuhan pasar. Misalnya terungkap pada misi sekolah A adalah yang mampu dan berdaya saing di masyarakat. Dengan kata lain lembaga tersebut menghasilkan calon masyarakat yang selalu memiliki tekad untuk bersaing. Jika pendidikan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar maka masyarakat akan sampai pada teori Charles Darwin tentang seleksi alam, siapa yang kuat dia yang menang. Siapa yang kaya dia yang bertahan hidup. Masih segar dalam ingatan kita tentang punahnya beberapa makluk hidup karena tidak sanggup beradaptasi dan bersaing dengan alam sekitarnya, seperti dinosaurus, dll.   

Masa lalu bagi orang tua adalah surga, kondisi kini adalah kecelakaan. Bagi orang muda, masa lalu jauh dari yang namanya modernitas, keadilan, gender dst. Apakah benar kondisi ini. Tulisan ini salah satu jawaban dari sekian banyak jawaban, tentunya jawaban ini jauh dari harapan berbagai pihak sehingga tulisan ini perlu dipandang sebagai bahan pertimbangan yang memberikan perubahan dalam kehidupan bermasyarakat di Nusa Tenggara Timur lebih khusus dalam bidang pendidikan.

Sadar akan kondisi seperti tertulis pada paragraf di atas, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional terus membenahi kurikulum 2013, yang sudah dilaksanakan di seluruh Indonesia, tetapi sampai dengan saat ini, penulis belum mendapatkan informasi tentang pelaksanaan evaluasi keberhasilan pelaksanaan kurikulum 2013. Bahkan kini ada perampingan perangkat pembelajaran agar lebih efektif dengan alasan bahwa guru terlalu dibebani dengan tugas administrasi berdasarkan Surat Edaran Menteri Pendidikan Nasional Nomor 14 tahun 2019.

Pertanyaannya apakah perubahan kurikulum dapat menjembatani masa emas masa lalu dengan kondisi kehidupan masa kini. Mengurangi kekurangan-kekurangan masa lalu dan meningkatkan kelebihan masa lalu; menanamkan prinsip cinta kasih, penyayang, pemurah, nasionalisme, dll. Berbarengan dengan keprihatinan ini Menteri Pendidikan Nasional menghembuskan pendidikan yang merdeka. Prinsip ini sejalan dengan model pendidikan yang ditawarkan oleh Paulo Freire tentang pendidikan yang membebaskan. Pertanyaannya apakah masalah pendidikan di Indonesia sama dengan masalah pendidikan di Brasil atau Chile pada tahun 1960-an ke bawah sehingga perlu menerapkan model pendidikan yang memerdekakan. Apakah dunia pendidikan kini belum merdeka. Apakah yang dimaksudkan oleh Menteri Pendidikan hanyalah kemerdekaan dalam pengertian administrasi?   

Dimengakui kebenaran pendapat Paulo Freire tentang pendidikan pembebasan seperti yang disampaikan oleh N K Atmadja-Hadinoto (1989:215) bahwa “pendidikan pembebasan dari Freire besar manfaatnya bagi proses edukasi, terutama dari segi mengubah manusia (education of change)”. N K Atmadja Hadinoto memberikan kesimpulan demikian setelah melalui suatu penelitian yang matang baik itu dalam bentuk penelitian kepustakaan maupun penelitian lapangan. Hasil penelitian N K Atmadja-Hadinoto terhadap model pendidikan yang membebaskan mampu mengubah prilaku hidup manusia menjadi lebih baik. Bagi N K Atmadja-Hadinoto model ini baik digunakan. Model ini pantas digunakan untuk mengubah prilaku masyarakat yang jauh dari kebaikan dan kebenaran.   

Semua pihak memprihatinkan masalah perubahan kehidupan di masyarakat, seperti kenakalan remaja yang terus meningkat setiap tahun, penggunaan narkoba yang grafik statisnya terus menggunung. Lembaga pendidikan pun memiliki tanggung jawab mengatasi masalah pendidikan ini. Misalnya mengubah cara berpikir eksklusifisme menjadi pluralis atau moderat atau juga egoistis menjadi penyayang, suka menang sendiri menjadi penyabar, rendah hati. Inilah ciri-ciri manusia yang memiliki kerinduan hidup bersama, di tengah-tengah arus badai perubahan, manusia tetap tinggal pribadinya, demikian harapan Martindale dalam N K Atmadja-Hadinoto (1989:216). 

Pendidikan merupakan pergumulan berbagai pihak sehingga pendidikan berubah menjadi masalah global. Semua pihak berjuang bersama. Pertanyaannya apakah benar bahwa perjuangan yang dilaksanakan bebas kepentingan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita awali dengan akar kata pendidikan yang dipakai bangsa Indonesia dalam mendefiniskan pendidikan. Ada dua kata yang sering digunakan secara bersamaan yaitu kata paedagogiek (pendidikan) dan paedagogiek (ilmu pendidikan). Kata paedagogiek berasal dari kata Yunani paedagogos dipahami sebagai seorang pelayan atau bujang pada zaman Yunani kuno yang pekerjaannya mengantarkan dan menjemput anak ke dan dari sekolah. Paedogogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing, memimpin). Dengan demikian kata paedogogos awalnya merupakan kata untuk pekerja-pekerja rendahan. Kini kata paedogogos berubah menjadi paedagoog (pendidik atau ahli didik). Paedagoog dipahami sebagai seseorang yang tugasnya membimbing anak dalam pertumbuhannya agar mandiri. Dari pengertian ini tergambar tujuan pendidikan agar seorang anak mandiri. Pertanyaannya apakah pendidikan yang dilaksanakan sekarang sudah mengarah pada kemandirian anak? Apakah model saintifik dapat membuat anak mandiri, dan menjawab kebutuhan hidupnya pada masa depannya? Apakah kebutuhan anak di masa depan identik dengan kebutuhan pasar?  

Pemahaman tentang pendidikan terus berkembang seturut perkembangan bangsa seperti yang dialami oleh banyak Indonesia. Secara sederhana perkembangan arah pendidikan Indonesia tertulis dalam TAP MPRS No XXVII/MPRS/1966 bab II pasal 3 menuliskan bahwa tujuan pendidikan membentuk manusia Pancasila sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki Pembukaan dan Isi Undang-Undang Dasar 1945. Yang dimaksudkan dengan manusia Pancasila adalah masyarakat Indonesia yang hidup menurut isi Pancasila (Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).

Tujuan ini sangat sejajar dengan semangat nasionalisme yang sementara diperjuangkan pemerintahan saat itu. Tujuan ini pun perlu di sederhanakan lagi sehingga lahirlah TAP MPR No. IV/MPR/1978, TAP MPR No.II /MPR/1988, Undang-Undang No 2 Tahun 1989 dan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Bab 1 Pasal 1 menuliskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara. Dari pengertian tertulis di atas terbaca bahwa Negara memberikan kebebasan kepada guru dan siswa berproses untuk mengembangkan seluruh potensi tanpa merasa takut. Takut jika dana tidak mencukupi, takut karena ada yang mengganggu kenyamanan proses pembelajaran di kelas, di lingkungan dan seterusnya. 

Jika demikian model pendidikan yang membebaskan merupakan sarana yang tepat untuk membentuk seorang anak mandiri. Mandiri dalam berpikir, mandiri dalam bertindak, mandiri dalam merencanakan dan mandiri dalam menikmati seluruh hasil karyanya. Faktanya model pendidikan yang membebaskan masih jauh dari harapan dunia pendidikan. Salah satu contoh model evaluasi yang digunakan oleh sekolah-sekolah di Indonesia. Model evaluasi akhir baik itu ujian berstandar nasional maupun ujian sekolah selalu memberikan ruang tertutup seorang anak berinovasi. Misalnya model evaluasi pilihan ganda. Dalam model ini anak diwajibkan memilih jawaban yang disediakan, artinya jawaban anak tidak boleh keluar dari empat atau kelima obsen yang tertulis. Ini salah satu model evaluasi yang tidak membebaskan siswa tetapi memudahkan guru dalam menentukan standar pencapaian hasil belajar. Kita berbeda soal ini tetapi argumentasi ini merupakan salah satu bentuk pertimbangan lainnya untuk menerapkan pendidikan yang membebaskan.

Pertanyaannya apakah semua yang memudahkan guru merupakan model pendidikan yang yang membebaskan? Tidak semua model yang memudahkan guru merupakan model pendidikan yang membebaskan, atau pun sebaliknya tidak semua yang memberatkan guru adalah model pendidikan yang membebaskan. Oleh karena itu model pendidikan yang membebaskan adalah model pendidikan yang tidak menuntut lebih dan tidak lepas kendali dalam proses pembelajaran. Artinya model model pendidikan yang tumbuh atas dasar kesadaran bahwa mengajar bagi pengajar adalah panggilan iman, belajar bagi pelajar adalah ibadah dan mendukung proses pendidikan di sekolah tanpa menuntut adalah ekspresi iman kepada Tuhan pemberi hidup.   

Model pendidikan yang membebaskan menjadi salah satu alternative meningkatkan kemandirian siswa. Dalam hubungan dengan kebebasan manusia Adolf Hitler menjelaskan bahwa, ”terdapat jalan menuju kebebasan. Tonggak-tonggak penunjuk jalannya adalah ketaatan, usaha kejujuran, kerapian, pengekangan diri, bisa dipercaya, korban dan cinta tanpa pamrih pada ibu pertiwi.” Dari pernyataan Hitler ini tergambar bahwa jalan kebebasan selalu ada. Untuk mencapai kebebasan itu butuh ketaatan, usaha kejujuran, kerapian, pengekangan diri, bisa dipercaya, dll. Untuk menjadi taat, jujur, rapi, pengekangan diri dll butuh proses belajar. Proses belajar merupakan bagian dari pendidikan, sehingga pendidikan yang membebaskan mengarahkan seseorang menjadi lebih manusiawi (homo hominimus).  

Pertanyaannya apakah tepat jika Menteri Pendidikan mencanangkan kampus yang merdeka? Kampus yang merdeka menjadi salah satu alternatif meningkatkan mutu pendidikan. Di kampus mahasiswa tidak boleh takut berinovasi, berkreasi dan bereksperimen. Di kampus mahasiswa harus mampu mendaur ulang kembali seluruh pengetahuan yang dimiliki untuk meningkatkan sifat kemanusiaannya. Jadi bukan soal jadi apa setelah seorang mahasiswa tamat kuliah tetapi sejauhmana meneruskan kehidupan yang penuh damai dan lestari dalam dunia yang tambah sesak oleh pertumbuhan penduduk, tambah kacau oleh karena beragamnya kenakalan remaja, radikalisme, terorisme dan tambah hitam oleh karena rusaknya lingkungan hidup.

Jika demikian maka pendidikan yang membebaskan bagi bangsa Indonesia merupakan peluang terbaik meningkatkan mutu pendidikan. Bukan berarti bahwa tidak ada tantangan dalam melaksanakan pendidikan yang membebaskan. Peluang merupakan proses memanfaatkan tantangan yang ada dalam mencapai pendidikan yang membebaskan. Salam pendidikan dari pulau bunga di Ngada.

*Penulis adalah ASN di Kemenag Kabupaten Ngada.Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here