Beranda Sastra Cerpen ǀ Nenek Susu Panjang

Cerpen ǀ Nenek Susu Panjang

414
0
Ilustrasi (Sumber: Google)

Oleh: Honing Alvianto Bana*

Siang itu ketika pulang sekolah,  kami berjalan sambil menendang-nendang rumput di tepi jalan. Tinus memegang sepotong kayu kering sebesar ibu jari. Matanya memperhatikan rumput-rumput di sepanjang jalan. Celana olah raga-nya melorot ke bawah, membuat belahan pantatnya hampir kelihatan. 

Hari itu adalah hari Jumat. Di sekolah kami, setiap siswa wajib menggunakan pakaian olah raga. Celananya berwarna hijau, sedangkan bajunya berwarna kuning – mirip warna partai penguasa saat orde baru itu. 

“Jangan tendang lagi, Enos. Kau membuat mereka ketakutan.” 

Tinus berjongkok dan memukul sebuah batu sebesar kepala bayi. Seekor belalang melompat ke celah semak-semak.

Ada banyak potongan kayu kering berserakan di tepi jalan ini. Tinus   mengambil salah satunya, dan mulai memukul rerumputan itu. Setiap ia menghantamkan kayu ke rumput, ingus kental mengalir dari hidungnya yang pesek.

Saya melihat sebatang pohon beringin terlentang di tepi jalan. Pohon itu dulunya sangat rimbun. Orang-orang suka berteduh di bawahnya ketika pulang dari pasar. Mungkin ada yang ingin membangun rumah di tempat itu.

Sebagian tanah di sini memang sudah dijual oleh pemiliknya. Dulu tanah di sekitar sini milik Pak Lurah. Orangnya sangat jahat. Jika marah, wajahnya mirip Firaun. Kata Tinus, Pak Lurah membutuhkan uang untuk anaknya yang sedang bersekolah di Jawa. Sebab itulah, Pak Lurah menjual sebagian tanahnya. 

Kami berjalan menuruni bukit dan melewati jalan setapak, sebelum akhirnya menyebrangi sungai. Rumah dan sekolah kami memang dipisahkan oleh sebuah sungai dan bukit. 

Saya melihat seekor sapi mencoba menyeberang sungai. “Itu sapi-nya Om Taosu,” teriak saya. Saya mengenal cap dipunggungnya. Sebetulnya saya ingin berjalan lebih cepat untuk memberi tahu Om Taosu bahwa sapinya sedang terlepas. Tapi kata Tinus, tidak usah. Kita harus mandi dulu di kolam sebelum pulang ke rumah. 

Tinus bilang kolam itu tak begitu dalam. Sangat cocok buat anak seumuran kami. Kalau kami langsung pulang hanya untuk memberi tahu Om Taosu, nanti kami tak bisa kembali lagi. 

“Sapi itu tidak akan nyasar, Enos. Sapi akan kembali ke kandangnya. Mereka sama seperti manusia yang akan kembali ke rumah,” kata Tinus dengan begitu meyakinkan.

Saya dan teman-teman memang suka bermain dan berenang di sungai. Saya belajar berenang dari Tinus. Dia pandai sekali berenang. Di kampung saya, kalau kau belum bisa berenang, kau seakan tak ada harga diri. Kau akan diejek seperti alfret – bencong yang punya banyak teman perempuan itu.  Tinus juga yang mengajari saya cara menyelam di dasar kolam. Tak jarang kami bertanding siapa yang bisa menahan napas paling lama. Tapi itu kami lakukan diam-diam.

Suatu hari, ketika pulang sekolah, kami mandi hingga sore hari. Ibu cemas ketika saya belum juga pulang. Saat kembali, saya dipukul dengan ranting lambtoro. Rasanya sakit sekali. Pantat dan kaki saya seperti sedang ditato sarang laba-laba. 

Sejak saat itu, ibu lalu bercerita, di sungai itu ada penunggu-nya, Nenek susu panjang(1) namanya. Ia suka menangkap anak-anak. Matanya merah. Kukunya panjang. Susu-nya tergantung seperti buah alpukat. Rambutnya mirip rambutnya tanta Takaeb. Ia tinggal di gua peninggalan Belanda di dekat sungai. Sepuluh tahun yang lalu, ada anak laki-laki hilang. Lima hari kemudian mayatnya yang pucat dan kembung mengapung seperti batang pisang di kolam itu.

“Kau tahu Nenek susu panjang, Tinus?”

Tinus menggeleng dan terus berjalan. Kuku-nya panjang. Mata-nya merah. Mirip mata-nya Om Uskono yang suka minum sopi(2) itu. “Kata ibu saya, ia tinggal di gua di sekitar jembatan itu.” Saya menyuruhnya melihat ke arah gua di dekat jembatan. “Kadang-kadang ia turun ke sungai. Ketika ia bertemu dengan anak-anak, ia akan menangkap dan membenamkan tubuh kita ke dalam kolam. Waktu napas sudah habis, baru tubuh kita dilepas.”

Tinus melihat ke arah gua, “Tapi saya sering menangkap kelelawar  bersama Om Taklale di gua itu. Tidak ada Nenek susu panjang di sana.” Ia mengelap ingusnya. Bulir-bulir keringat keluar di tengkuknya.

Dari kejauhan tampak pohon-pohon yang rimbun seperti rambut Nenek Bet. Ibu bilang, di pohon-pohon itulah para suanggi(3) itu tinggal. Mereka menyatu dengan pohon-pohon tua yang besar. Para suanggi itu kemudian menguasai setiap jengkal sungai yang mengalir. Mereka bersembunyi di balik air yang tenang. Tangan-tangannya menjulur panjang seperti selendang raksasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here