Beranda Sastra Cerpen ǀ Nenek Susu Panjang

Cerpen ǀ Nenek Susu Panjang

500
0

Semalam hujan turun deras sekali. Berbantalkan lengan, saya berbaring di kamar sambil memperhatikan tetes air hujan jatuh melalui atap rumah yang bocor. Saya telah menaruh ember bekas dan mendengar bunyi air jatuh seperti suara detak jarum jam. 

Ketika dingin mulai mencucuk tulang, saya menarik selimut. Dan saya mulai bermimpi lagi tentang Nenek susu panjang. Dalam mimpi, Nenek susu panjang itu tidak memakai baju. Puting susu-nya hampir menyentuh pinggang. Rambutnya kelihatan putih. Ia berdiri di dekat jendela kamar saya. Ia memanggil saya dengan begitu lembut. “ayo ke sini….” Saya tidur dengan tubuh bergetar. Saya menutup mata dengan kedua tangan sambil menangis. Sesekali saya mengucapkan doa “bapa kami”, doa yang sering diajarkan oleh guru sekolah minggu saya.

Bludoor..bludoo. Bunyi guntur tiba-tiba membuat saya terjaga. Saya tidak dapat melihat apa-apa. Semuanya gelap seperti arang. Saya masih mendengar suara hujan yang mulai sedikit reda. Lalu di sela-sela itu, telinga saya menangkap suara yang aneh lagi. Saya mendengar suara orang melangkah. Sesekali menghilang, lalu muncul lagi.

Saya takut sekali. Saya menutup telinga. Seekor tikus menyelinap masuk ke dalam selimut saya dan ikut bersembunyi di sana.

“Tidak ada suara apa-apa, Enos. Ibu tidak mendengar suara apa-apa. Kau diganggu Nenek susu panjang itu. Nenek susu panjang akan menyelinap dan mengganggu anak-anak yang nakal.”

Ibu tak mendengar suara itu. Tak ada yang mendengar suara itu, kecuali saya sendiri. Biasanya, agar tidak teringat pada suara-suara itu lagi, saya selalu meninggalkan ibu dan berlari keluar menuju rumah Tinus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here