Beranda Sastra Cerpen ǀ Nenek Susu Panjang

Cerpen ǀ Nenek Susu Panjang

500
0

“Ssst, diam!” Tinus memberi aba-aba dengan jari telunjuk di depan mulutnya. Ia lalu melihat ke arah pepohonan. 

“Tolong pegang ini!” Tinus menyeka keringat dengan lengan kirinya. Ia lalu mengambil dua buah batu sebesar bola pimpong. Ia seperti tak mendengar apa yang saya katakan tentang Nenek susu panjang. Ia kemudian melempar burung-burung pipit di balik ranting-ranting pohon. 

Tampak awan bergerak pelan seperti kapas. Seekor elang berputar-putar dan sesekali melengking. “Kolam di sana tak begitu dalam. Kemarin hanya setinggi lutut, tapi sudah saya halangi aliran sungai itu dengan batu-batu yang saya ambil ditepi sungai.” Saya mengikuti Tinus dari belakang. Ia meninggalkan jejak kakinya yang kurus. Tinus tidak memakai sepatu. Ia memang telah melepas dan menggantungkan sepatu di lehernya-sejak kami mulai menyusuri sungai.

“Kalau Nenek susu panjang ada, kenapa ia tak menangkap saya?” Tinus menyergah ingusnya.

“Mungkin kau belum pernah bertemu dengannya, Tinus.”

“Tidak. Saya sudah berulang kali mandi di sana. Tidak ada apa-apa, Enos.”

Saat mendekati kolam, tiba-tiba Tinus meminta saya untuk berhenti. “Diam!”, Tinus menyuruh saya melihat ke arah semak-semak. “Seperti ada orang di balik pohon-pohon itu,” bisik Tinus. Saya ketakutan. Napas saya tertahan di tenggorokan hingga Tinus tiba-tiba tertawa dengan sangat puas. 

“Haha…itu bukan Nenek susu panjang! Itu sapi milik kakek Amle’ut ”, ia memang suka mengikat sapi di balik pepohonan itu.

Tinus kemudian membuka baju dan berlari menuruni bebatuan. Ia lalu membuka celana dan terjun ke kolam. Kemudian ia mengangkat kepala dari dalam air dan berkata dengan terengah-engah.

“Tidak ada Nenek susu panjang, Enos. Ayolah….”

Tinus menyelam dan berenang. Ia mengepak-ngepakkan air dengan kedua kakinya. Sudah lama saya tidak mandi di sungai. Hampir setengah jam Tinus berenang dan tidak terjadi apa-apa. Saya tak kuasa menahan dorongan untuk mandi. Dingin akhirnya merambat ke seluruh tubuh saya. Dalam beberapa menit, saya mendapati tubuh saya sudah berada di dalam air.

Kami berenang berdua. Tinus memercikkan air ke wajah saya. Saya  membalas memercik ke wajahnya. Kami tertawa cekikikan.

“Di sini Nenek susu panjang pernah menangkap anak-anak.” Sekilas dalam pikiran saya berkelibat cerita ibu bahwa Nenek susu panjang menarik kaki terlebih dulu, kemudian membenamkan tubuh dan baru melepasnya sampai dua atau tiga jam kemudian. Tapi saya tidak merasakan apa-apa. Tidak ada yang menarik kaki saya. Tidak ada nenek susu panjang. Ibu sengaja menakuti agar saya tidak bermain di sungai. 

Tinus mengajak melakukan hal yang sudah lama tidak kami lakukan: siapa yang paling lama bisa menahan nafas dalam air. Sementara saya menyelam, Tinus memperhatikan sambil berhitung dalam hitungan detik. Dan ketika saya mencoba menyelam, di bawah sana saya melihat sesuatu.

“Ada sesuatu di bawah sini!”

“Ada apa?” Tinus berenang ke arah saya dan mulai menyelam. 

Saya keluar dari kolam dengan tubuh gemetar. Beberapa menit kemudian saya melihat gelembung-gelembung udara bermunculan di atas permukaan air. Saya semakin ketakutan, sudah 1 jam Tinus tak muncul ke permukaan. Kepala saya terasa berat. Detak jantung saya seakan tak beraturan. Seperti sedang disuruh mengerjakan tugas matematika oleh Pak Hala – guru terjahat di sekolah kami.

Tiba-tiba saya melihat sesosok tubuh mengapung di sudut kolam. Saya semakin ketakutan. Saya melihat ke arah kiri-kanan sebelum mendekat. Perutnya mengembung seperti perempuan yang sedang hamil 7 bulan. Tinus telah mati tenggelam. Saya menengadah ke langit. Berusaha menahan air mata. Kerongkongan saya seperti tercekik. Dada saya sesak sekali. Air mata tak sanggup lagi saya tahan. Saya menangis sambil memukul-mukul tanah. 

Saya teringat cerita ibu. Nenek susu panjang ternyata ada. Ia ada di dasar kolam ini. Ia lah yang menarik Tinus hingga kehabisan napas. Tinus mati sebelum mengikuti ujian nasional.  

Keterangan:

  • Nenek susu panjang: Sosok setan yang sering digunakan untuk menakuti anak-anak di Pulau Timor.
  • Sopi: Arak tradisional orang Timor.
  • Suanggi: Orang yang suka menggunakan santet.  

*Penulis adalah Mahasiswa Universitas 17 Agustus Surabaya.

**)Mohon maaf apabila ada kesamaan kisah, tempat dan nama. Cerita ini hanyalah hasil imajinasi penulis semata. Terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here