Beranda Sastra Puisi ǀ Jalan Mendung

Puisi ǀ Jalan Mendung

110
0
Ilustrasi (Foto: Bru-nO/Pixabay)

Oleh: Amelia Yulianti*

Semilir angin menggoyangkan rerumputan yang basah

sebab sisa gerimis kemarin sore

bak rumput yang layu mendayu-dayu

rupanya kau pun makin berlalu layaknya mimpi-mimpi burukku di petang lalu

benar saja rupanya kau pergi bersama musim semi

namun kucoba tak percaya atas kepergianmu

kususuri koloni batu yang kerap kita lewati

mereka bersorak sorai  sambil bertepuk riuh

menertawakan kepergianmu yang telah berlalu

barangkali memang benar

jika aku sekadar lentera di hidupmu

yang dibutuhkan kala gelap gulita

dan kau buang kala terang menyapa

bahkan api yang kujaga tak mampu melupa bayang-bayang akan dirimu

kucoba menghapus dengan cahaya pagi

namun senyumanmu membekas menusuk jiwa kalbuku

mengapa jiwa ini begitu sekarat selepas kepergianmu?

hingga aku terjungkal oleh kenangan yang kau ukir di dalamnya

di jalan persimpangan ini kau tinggalkan secercah harapan

dengan sebuah sampul janji yang manis bersamaku

sedang awan mendung pun turut menjadi saksi bisu kala itu

hingga daun-daun berhenti merontok

akankah sang mendung juga berpaling dariku?

berpesta pora bersulang gelas atas janjimu yang membusuk

andai dimensi waktu dapat kutebas

mungkin kini dirimu tetap di jalan ini

menikmati secangkir kopi hitam pekat kesukaan kita

seraya memecah pundi-pundi rindu yang kita punya

menghapus sekat jarak yang kita buat

sembari menikmati lagu klasik dari piringan hitam sang empunya kafe

hingga semburat malu menjalar ke pipiku

sampai kita lupa bahwa kita tak lagi memesan kopi yang sama

kopi tlah dingin

kamu tlah pergi

dan kini mendung pun makin menjadi

ia bersekongkol dengan jalan

dalam misi menghapus jejak menuju kenangan

biar saja semesta menghukumku

menertawakan kepergian dan janji-janjimu

barangkali memang dirimu bahagia di sana

semoga mimpi buruk ini segera berakhir

hingga esok kita bertemu kembali dengan wajah yang berseri

(Paguyangan, 30 Desember 2019)

*Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Peradaban Kabupaten Brebes, Jateng.

**)Mohon maaf apabila ada kesamaan kisah, tempat dan nama. Puisi ini hanyalah hasil imajinasi penulis semata. Terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here