Beranda Opini Opini ǀ Covid-19: Dosa Siapa? Paskah Ekologis: Mungkinkah?

Opini ǀ Covid-19: Dosa Siapa? Paskah Ekologis: Mungkinkah?

286
0
Ferdinand Rondong, Pegiat Sosial, tinggal di Surabaya (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Ferdinand Rondong*

Bila masih mungkin kita bertanya, Siapakah yang paling bertanggung jawab atas tragedi kemanusian akibat Covid-19? Siapa yang salah?

Atas nama jiwa dan hati yang tulus ikhlas, marilah kita hening sejenak dan bertanya sembari mencari jawabannya, bencana Covid-19 terjadi karena dosa siapa? Tapi, jangan bertanya pada rumput yang bergoyang seperti kata Ebiet G. Ade. Tak ada jawaban di sana. Atau, jangan hanya diam membisu. Alias tidak peduli. Karena tak selamanya diam itu emas, kata almarhum Broery Pesolima. 

Covid-19: Salah Siapa? 

Inti dari pewartaan dan renungan Paskah oleh Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Mgr. Prof. Dr. Ignatius Suharyo, pada Hari Raya Paskah, 12 April 2020, yang disiarkan melalui TVRI, setidaknya, memberi inspirasi bagi kita untuk mengurai tabir dari pertanyaan gelitik itu, “dosa siapakah ini semua”. Saya bisa mengatakan bahwa refleksinya ibarat sebuah “alarm” yang membangunkan dunia manusia dari tidur lelapnya yang panjang dan mengantarkan orang, termasuk saya, kepada titik permenungan yang mendalam terkait asal-muasal, sebab-akibat Covid-19, dosa siapa?  

Beliau mengatakan bahwa boleh jadi Covid-19 adalah reaksi alamiah karena dosa ekologis manusia. Wabah muncul karena manusia telah merusak ekosistem alam. Pembangunan merusak lingkungan. Sampah berserakan di mana-mana. Polusi di mana-mana. Akibatnya, alam menjadi tak seimbang lagi. Alam tidak harmonis lagi.

Ketidakseimbangan alam ini kemudian menyebabkan ketidakseimbangan manusia. Imunitas manusia menjadi terganggu dan tidak seimbang, yang mengakibatkan daya tahan tubuh biologis manusia menjadi rapuh dan oleh karenanya rentan dijebol oleh virus apapun, termasuk Covid-19.

Beliau menekankan bahwa wabah Covid-19 adalah peringatan dan juga kartu merah bagi umat manusia untuk stop bermain kasar dengan alam. Menjaga keselarasan alam adalah tugas pokok dari eksistensi dan perutusan umat manusia sebagai gambar Allah (Imago Dei) di dunia, bukan merusak alam. Merusak alam adalah penyangkalan manusia terhadap predikat Imago Dei itu. 

Saya setuju dengan Uskup Ignatius. Covid-19 terjadi karena ketidakseimbangan alam lantaran dosa ekologis manusia. Manusia menjarah bumi seakan-akan manusia pemiliknya. Kecenderungan manusia untuk mengeksploitasi dan merusak lingkungan alam membuat manusia lupa bahwa alam juga makhluk Allah yang butuh kasih sayang. Butuh perlindungan. Keseimbangan alam tergantung pada perilaku manusia terhadapnya. Ketika nafsu mengeruk kekayaan dan mengeksploitasi alam secara membabi buta bercokol kuat, berakar dan menggurita dalam diri dan dunia manusia, maka yang keluar adalah praktik-praktik destruktif, kerakusan, ketamakan dan kesewenang-wenangan atas lingkungan alam. Dampak buruknya pun kembali pada manusia itu sendiri. Siapa yang menabur angin, dia akan menuai badainya. Barangkali, hukum tabur-tuai menjadi relevan dalam mengurai benang kusut perihal sebab-akibat tragedi kemanusian akibat Covid-19. 

Alam semesta tidak tidur (ora sare). Libido manusia merusak dan berserakah atas lingkungan alam dibalas oleh alam semesta dengan cara dan logikanya sendiri. Alam mengamuk atas tindakan manusia adalah reaksi yang pantas dan masuk akal. Mereka berhak membela dirinya. Alam memberi musibah adalah ganjaran sepadan yang harus manusia terima akibat dosanya merusak alam. Lewat Covid-19, alam berontak dan melawan kedigdayaan dan keperkasaan makhluk manusia mengeksploitasi mereka. Mengeksploitasi bangsa kelelawar demi memenuhi napsu akan makanan yang ekstrim. Betapa, alam (yang diwakilkan oleh burung kelelawar yang tersiksa) sudah bosan, enggan dan bahkan terlampau muak bersahabat dengan manusia. Boleh jadi, manusia abad ini, telah menjadi musuh bebuyutan dari alam semesta lantaran kesombongan, keserakahan dan egoisme manusia menimpah lingkungan alam semesta. Kini virus corona dan manusia sedang saling berperang, siapa yang kuat, dia yang menang atau manusia. Hukum rimba semesta kembali mulai unjuk gigi, mengancam keberadaan jiwa manusia sebagai bagian dari semesta.  

Amukan alam itu pun tidak main-main karena menyebabkan tragedi kemanusiaan dan kematian di pihak manusia. Mereka muncul dalam berbagai rupa seperti tsunami, gempa bumi, banjir, air bah, wabah, dan lain-lain. Sejarah mencatat, sebagai contoh, gempa bumi di Alepo (Suriah) tahun 1138 menewaskan 230 ribu orang. Tsunami Aceh tahun 2004 merenggut nyawa dari 230 ribu hingga 280 ribu orang. Sekitar 46 ribu hingga 85 ribu orang mati karena gempa bumi di Haiti tahun 2010.

Kini, Covid-19 hadir dalam bentuknya yang tidak kelihatan menyerang manusia. Virus ini, menyerang orang tanpa pandang bulu. Baik kaum penguasa dan rakyat jelata, elit dan non-elit, raja dan hamba, orang kaya dan miskin, orang tua dan muda, perempuan dan laki-laki; dia sikat semuanya tanpa tebang pilih. Saya kira, Covid-19 ini adalah penyakit yang paling demokratis, yang pernah ada dalam sejarah dunia dan peradaban umat manusia sejauh ini. 

Serangan brutal dan tak kelihatan dari Covid-19, yang berawal dari Wuhan pada akhir tahun 2019, membuat bumi manusia seketika terguncang tak berdaya. Kedigdayaan fundamen ekonomi dunia terancam tumbang. Hubungan sosial terisolasi dan membuat manusia, makhluk sosial itu, sakit secara sosial (asosial). Dia harus menjaga jarak dari sesamanya dan mengisolasi diri dalam ke-diri-an dan ke-sendiri-an. Isolasi diri agar sehat secara ilmu kesehatan, tapi pada bagian lain, manusia mengalami kesakitan secara sosial. Itulah paradoks Covid-19. 

Amerika, Rusia, Eropa, Australia, Jepang dan China; negara-negara yang mengaku diri paling hebat di mata manusia itu, terutama di bidang IPTEK, kini mereka menjadi “negara pasir”, rapuh dan tak berdaya diterjang ombak Corona. Mereka menjadi mati kutu, panik, gagap, gugup dan gemetar. Sejumlah negara mulai mengisolasi diri. Lockdown. Negara tanpa batas atau borderless, sebagaimana yang diagung-agungkan oleh globalisasi, kini dikunci mati oleh Covid-19. Barangkali, tak lama lagi, globalisasi itu mati suri alias KO (Knock Out).    

Eskalasi badai pandemi virus corona pada bumi manusia kian ganas dan tak terbendung. Hingga hari ini (12 April 2020), saat umat Kristiani sedunia merayakan Paskah, Corona terus bergerilya. Sejauh ini, ia telah menewaskan 109 ribu nyawa manusia. Lebih dari 1.8 juta orang dilaporkan positif kena virus ganas itu. Mereka semua sedang dalam antrian, dibayang-bayangi perasaan optimis dan takut, entah mereka antri pada jalan menuju kesembuhan atau kematian? Tak ada seorang pun yang tahu. Kecuali Tuhan sendiri yang tahu karena Dia yang memegang otoritas atas kehidupan dan kematian manusia.

Mumpung masih ada waktu, sebagai manusia yang beriman, kita terus bersyukur dan berharap pada Tuhan agar badai ini cepat berlalu dari bumi manusia. Mereka yang terpapar virus, diberi karunia kesembuhan dan yang sudah meninggal diberi kehidupan kekal di Surga. Kita, manusia hendaknya tidak hanya percaya pada Tuhan, tetapi juga mempercayakan kehidupan beserta suka-dukanya kepada kehendak Tuhan. Seperti Yesus yang berdoa sebelum penyalibanNya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Senada dengan Yesus, marilah kita juga berdoa: “Ya Bapa-Ku di dalam kerajaan surga, musnahkanlah Covid-19 dari lingkungan dan bumi manusia, tetapi biarlah mukjizat itu terjadi seperti yang Engkau kehendaki”.

Kematian Yesus: Dosa Siapa? 

Yesus disalibkan ibarat penjahat kelas kakap dan mati di kayu salib karena dosa manusia. Yesus tampil sebagai tebusan atas utang manusia yaitu utang dosa. Dosa manusia dibayar lunas oleh Yesus dengan nyawaNya sendiri sebagai tebusan. Atas dasar itu Yesus disebut sebagai Anak Domba Allah yang dikurbankan untuk menebus dosa manusia. Yesus adalah Penebus dosa manusia. Dari atas kayu salib Yesus berseru, “Tetelestai” artinya “Selesailah sudah”. Sabda sakti “Tetelestai” dari Yesus itu menunjukkan bahwa Yesus telah menyelesaikan tugasNya dengan sempurna untuk membebaskan manusia dari perbudakan dosa. Atas dasar itu, Gereja memperingati penyaliban Yesus sebagai sesuatu peristwa rohaniah yang agung. Gereja memperingatinya pada hari Jumat Agung, tidak disebut Jumat Sengsara. Karena sengsara Yesus berujung pada kebangkitan. Ia mengalahkan maut dan hidup kembali. Di situlah letak keagungannya dari kisah sengsara Yesus.

Kematian Yesus akibat dosa manusia disertai dengan bencana ekologis. Alam semesta berduka. Saat Yesus disalibkan, mulai jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah Golgota dan sekitarnya sampai jam tiga. Lalu, pada saat Yesus wafat, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadi gempa bumi dan bukit-bukit batu terbelah. 

Ketika Yesus ditangkap di taman Getsemani, murid-muridNya pun panik, takut dan kehilangan harapan. Mereka takut dibantai oleh Pilatus, prajurit, dan orang-orang Yahudi. Petrus menyangkal tiga kali dan bersumpah kalau ia tidak mengenal Yesus. Mereka semua lari meninggalkan Yesus dan mengisolasi diri dalam rumah. Mereka membuat jarak fisik dengan Yesus. Kisah historis ini, persis seperti kondisi sekarang ini, di mana manusia sejagat takut dan panik pada amukan Covid-19. Manusia menjaga jarak dari sesamanya dan mengisolasi diri dalam rumah masing-masing.  

Paskah Ekologis

Malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Duka para murid dan semesta alam, seketika diubah menjadi sukacita oleh kebangkitan Yesus. Kematian dan kebangkitan Yesus tak hanya untuk menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa, tetapi juga menyelamatkan alam semesta dan isinya. Wafat dan kebangkitan Yesus menjadi jalan untuk memulihkan dan memuliahkan alam yang rusak akibat dosa manusia yang menjarah dan mengeksploitasi alam semesta secara serakah. 

Manusia Paskah adalah Manusia Ekologis

Suasana takut, suasana kubur, suasana kematian, diubah oleh Yesus melalui peristiwa kebangkitanNya. Manusia Paskah adalah manusia yang mengalami kebangkitan dan dibangkitkan. Dalam konteks teologis dan ekologis, Manusia Paskah adalah manusia yang berani bangkit untuk menjaga dan melindungi alam semesta serta tidak takut melawan penguasaan atas alam semesta oleh kekuatan-kekuatan negaraisme, kapitalisme dan neoliberalisme. 

Manusia Paskah adalah manusia ekologis yang berani melawan industri pertambangan yang merusak alam dan bumi manusia, seperti menggunduli bumi, merusak dan menjarah hutan, mengeruk gunung, menyebabkan ketidakseimbangan alam, mengganggu iklim, memicu terjadinya pencemaran air, tanah, udara dan ekosistem lingkungan semesta. Manusia Paskah adalah manusia ekologis yang telah bertobat total dari perilaku merusak alam. Tidak membuang sampah sembarangan. 

Paus Fransiskus menyerukan pertobatan ekologis global mewujud pada sikap melindungi Bumi Pertiwi sebagai rumah kita bersama. Rumah kita bersama ini mesti dirawat dengan mencari bentuk pembangunan berkelanjutan dan integral dengan menjunjung tinggi aspek kemanusiaan, keadilan dan kesejahteraan yang bermartabat. 

Manusia Paskah adalah manusia yang memiliki kesadaran ekologis, yang memperlakukan alam sebagai ibu kandungnya. Ibu yang menjaga rahim bagi kehidupan dirinya dan alam semesta. Menjaga alam semesta adalah bagian dari perwujudan kehidupan rohani kita yang sejati. kehidupan rohani yang sejati itu harus dibangun di sini dan sekarang. Jika tidak, habislah kehidupan rohani kita. Karena setelah mati, kita tidak punya waktu lagi membangun kehidupan rohani yang baru. Kehidupan rohani untuk melindungi alam, merawat ibu kita, dan menjaga rumah kita, harus dimulai dari saat sekarang. Mulailah dari hal yang kecil yaitu membuang sampah di tempat sampah. 

Selamat Paskah 2020. Semoga rahmat dan kasih kebangkitan Yesus telah mengubah hidup kita menjadi manusia baru yang memiliki kesadaran ekologis.  

*Penulis adalah Pegiat Sosial, tinggal di Surabaya.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here