Beranda Sastra Cerpen ǀ Kapan Hujan Turun

Cerpen ǀ Kapan Hujan Turun

124
0
Ilustrasi (Foto: Ist)

Oleh: Marsel Koka*

Aku memutuskan untuk berlibur di kampung, tanah kelahiranku. Libur bersama keluarga memang selalu kurindukan selama ini. Reuni bersama orang tua serta saudara dan saudariku adalah impian yang terpendam sejak beberapa tahun silam. Saya harus akui bahwa mereka segalanya bagiku. Mereka adalah orang-orang hebat yang telah memungkinkan segala sesuatu dalam hidupku.

Liburan kali ini akan terasa sangat istimewa. Apalagi setelah hampir belasan tahun aku berada jauh dari tempat kelahiranku. Ada semacam kerinduan yang sejak lama sudah kutahan. Aku yakin ada banyak yang telah berubah. Mungkin ada beberapa tetangga yang telah tiada, mungkin saja keadaan kampung yang sudah lebih maju, barangkali keadaan alam yang semakin hijau atau mungkin kondisi jalan sudah lebih mulus dari sebelumnya. Semua masih sebatas teka-teki yang belum bisa kujawab.

Saya memang dibesarkan di sebuah kampung yang belum diketahui banyak orang. Sebuah kampung yang bahkan tidak akan ditemukan dalam peta. Ya, kampungku ini berada jauh dari pusat keramaian. Kira-kira enam jam perjalanan dari pusat kota. Dulu, kalau saya pergi ke kota, saya selalu merasakan dua hal.

Yang pertama, saya sungguh menikmati perjalanan. Kira-kira setelah puluhan kilo, saya dengan sangat gratis menikmati indahnya hamparan sawah sepanjang jalan. Apalagi ketika melintasi saat musim panen. Di pinggir jalan akan terlihat karung padi yang siap diangkut ke rumah masing-masing.  Pada sore hari, di setiap sawah akan dipenuhi oleh para petani yang sedang asyik memanen padi mereka. Seperti itu. 

Baca juga: https://www.florespost.co/2020/04/07/cerpen-%c7%80-gadis-berkerudung-putih/

Kampungku ini memiliki komoditi pertanian yang unggul dan menjanjikan. Hasil pertanian itu mensupport hidup banyak orang di pusat kota. Semua jenis tanaman tubuh dengan subur di kampung saya. Mulai dari tanaman musiman seperti padi dan jagung. Juga tanaman jangka panjang seperti kopi, kemiri, kakao, cengke, fanili dan komoditi lainnya. Kampung yang dikelilingi perbukitan ini juga memelihara hewan besar seperti kerbau, kuda, sapi dan kambing. Itu sebuah keistimewaan yang saya akui. 

Realitas kedua yang saya rasakan ketika melintasi daerah ini adalah rasa letih. Saya selalu sangat merasa letih yang luar biasa. Sebab sebelum sampai di kampung ini, saya akan harus melewati jalan berlubang yang berjarak puluhan kilometer. Kondisi jalan yang sudah bolong di mana-mana membuat perjalanan menjadi lebih lama. Para sopir dan para ojek harus ekstra hati-hati setiap melintasi jalan ini. Keadaan jalan yang rusak berat ini menjadi masalah utama sejak lama di kampung ini. Dulu banyak orang selalu berharap agar pihak yang berwajib lebih peka terhadap kenyataan ini. Kalau boleh segera diperbaiki demi kenyamanan dan keselamatan para pengendara. Bagiku, harapan masyarakat di kampungku memang wajar. Itu tugas negara. Pada akhirnya negara harus hadir untuk menjawab kebutuhan rakyatnya. Pengabaian terhadap hak-hak dasariah seperti ini merupakan sebuah kekerasan yang secara halus dipertontonkan oleh negara.

Dulu saat saya ke pusat kota, sepanjang jalan selalu melihat beberapa rumah reot yang letaknya persis di pinggir jalan. Rumah yang sebenarnya tidak pantas untuk dihuni oleh pemiliknya. Kalau musim hujan tiba, para penghuni rumah itu akan sangat menyedihkan. Air dengan bebas masuk dan mengenangi rumah mereka. Rumah-rumah reot itu sejak dulu tetap sama. Katanya sudah beberapa kali mereka dijanjikan menerima bantuan dari yang berwajib tapi janji belum juga direalisasikan. Mereka hanya menunggu dan menunggu sampai rumah mereka roboh.

Itu hanya beberapa hal-hal kecil yang saya rasahkan beberapa waktu yang silam. Saya berharap semua sudah sangat berubah. Pasti. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here