Beranda Opini Opini| Misteri Penderitaan dan Peran Soteriologi Menurut Edward Schillebeeckx

Opini| Misteri Penderitaan dan Peran Soteriologi Menurut Edward Schillebeeckx

196
0
Ilustrasi foto. (Foto/ Ist)
Oleh : Vredigando Engelberto Namsa, OFM

Edward Schillebeeckx, lahir pada 12 November 1914 di Antwerp, wilayah Kerajaan Belgia. Selama 32 tahun awal hidupnya, Edward Schillebeeckx menetap di Belgia bagian utara dan tengah.

Ketika berumur sekitar 16 tahun, muncul keinginan untuk menjadi imam. Pada mulanya ia berpikir menjadi Jesuit. Tetapi akhirnya ia memilih untuk menjadi seorang Dominikan (OP). Ia belajar filsafat dan teologi di Gent dan Leuven.

Pada 10 Agustus 1941 Edward Schillebeeckx ditahbiskan menjadi imam. Ia adalah seorang imam dominikan yang sekaligus filsuf dan teolog. Ia meninggal pada 23 Desember 2009 dalam usia 95 tahun.

Sedikit gambaran tentang siapa itu Edward Schillebeeckx, pada tulisan selanjutnya kita akan melihat pemikirannya tentang misteri penderitaan dan peran soteriologi.

Edward Schillebeeckx memberikan perhatian utama pada misteri penderitaan dan pada pengalaman kontras yang dipancingnya, berakar dalam pertemuannya dengan Mazhab Frankfurt, khususnya karya Max Horkheimer dan Theodor Adorno (Robert J, “Edward Schillebeeckx: His Continuing Significance, New York: Fordham University Press, 2002, hlm. 189).

Keprihatinan dengan penderitaan manusia menjadi tema tetap dalam karya Schillebeeckx sejak akhir tahun 1960-an. Masalah ini mewarnai secara intensif uraiannya tentang soteriologi.

Atas dasar ini Schillebeeckx semakin kuat melibatkan diri dengan komunitas kristiani yang kritis dan memperhatikan teologi pembebasan.

Ada beberapa suasana yang berbeda berhubungan dengan tema ini dalam karya Schillebeeckx. Tentu perhatiannya bagi yang konkret dan bagi pengalaman sejarah menyebabkan ia suka tidak suka mengangkat tema penderitaan.

Tetapi perlu diperhatikan bahwa Schillebeeckx memandang penderitaan sebagai misteri dan bukan sekadar sebagai problem yang harus diselesaikan dalam pendekatan teknis rasional. Ia memandang kedalamannya yang menakjubkan dan mengerti bahwa hanya Allah bisa membebaskan kita secara definitif dari penderitaan itu.

Namun, pada waktu yang sama, realitas penderitaan berarti bahwa setiap kesalehan autentik mesti merupakan sebuah kesalehan politis; sebuah kesalehan yang tidak hanya mencari Kerajaan Allah dalam batin pribadi, tetapi menjalin ikatan solidaritas dengan mereka yang berusaha untuk mencapai dan memperjuangkan peri-kemanusiaan yang lebih penuh.

Kekudusan dan kesalehan autentik mempunyai dimensi etis dan konsekuensi praktis untuk gaya hidup.

Schillebeeckx tidak hanya merenungkan misteri penderitaan, juga meneliti di pelbagai tempat dalam karyanya sifat revelatoris dari pengalaman kontras yang dipicu oleh penderitaan.

Kontras itu tidak hanya membuka situasi terbalik dari kenyataan derita yang dialami sebelumnya, melainkan sering membuka juga situasi dan pandangan baru yang tidak disangka-sangka sebelumnya.

Situasi historis yang sebelumnya ditekan dan disembunyikan muncul kembali. Banyak orang mengerti iman secara baru dan menjadi lagi anggota dalam Gereja berdasarkan pengalaman perjuangan dan pengalaman kontras berhubungan dengan penderitaan masif itu.

Ketika pada tahun 1990-an muncul pelbagai kegiatan kekerasan berbasis pencaharian identitas pelbagai kelompok sosial dan etnis, Schillebeeckx mulai memberikan perhatian pada problem relasi antara agama dan kekerasan.

Sama seperti banyak orang lain, ia bertanya apakah klaim absolutSebagaimana dikemukakan oleh agama-agama monoteistis barangkali justru memicu kekerasan dan intoleransi.

Ia bergumul dengan persoalan ini dengan mencari di satu pihak suatu horizon pengertian yang universal dan di pihak lain distingsi antara universalitas dan keabsolutan.

Hal ini diungkapkannya berhubungan dengan klaim dari pihak agama Kristen bahwa Kristus mempunyai relevansi soteriologis yang universal, yakni menyangkut semua orang pada segala zaman. Oleh karena itu kita masih perlu melihat sedikit gagasan Schillebeeckx mengenai daya penyelamatan Yesus Kristus. (Georg Kirchberger, “Memahami Iman dalam Dunia Sekitar, Maumere: Ledalero, 2014, hlm. 191).

Berhadapan dengan penderitaan dan pengalaman kontras sebagai tempat di mana orang bisa mendapat suatu wahyu tentang Allah dan sikap-Nya, Edward Schillebeeckx mengembangkan suatu soteriologi baru bagi dunia pascamodern.

Model satisfaction (Penyilihan) dari Anselmus Canterbury tidak bisa secara kuat menjelaskan bagi manusia dewasa ini apa yang dibuat Allah bagi kita dalam diri Yesus. Selain menjadi suatu penjelasan baru, Edward Schillebeeckx juga memberikan peran baru bagi soteriologi dan menganggapnya lebih utama daripada penjelasan mengenai kodrat dan pribadi dalam diri Kristus yang mempengaruhi kristologi klasik itu.

Penekanan semacam ini tentu bukan suatu masalah. Penekanan soteriologi bisa memisahkan peran dan fungsi Yesus bagi kita dari peran dan fungsi Yesus historis dan mereduksi arti soteriologis-Nya menjadi semacam proyeksi dari kebutuhan kita. (Georg Kirchberger Red, hlm. 195).

Bisa jadi bahwa pengalaman revelatoris akan seorang Allah yang menyelamatkan direduksi menjadi pengalaman manusiawi semata-mata seperti dalam teologi liberal abad ke 19 atau sebagaimana dituduhkan pada teologi pembebasan (meskipun secara tidak tepat).

Schillebeeckx tidak jatuh dalam bahaya itu, karena ia secara saksama meneliti tradisi mengenai Yesus historis dan juga karena teorinya yang serba kritis dan detail mengenai pengalaman. Schillebeeckx tidak hanya menekankan pentingnya Yesus historis, ia juga secara konkret berusaha secara serius untuk mengangkat hidup Yesus historis ke dalam kesadaran dan refleksi kristologis. Penekanannya pada Yesus historis sebagai nabi eskatologis dan cara merekonstruksi pengalaman pertumbuhan para murid dalam iman akan pembangkitan, menjamin suatu link yang kuat antara Yesus historis dan Kristus kepercayaan. Pandangan yang kritis dan saksama mengenai relasi antara pengalaman manusia dan revelasi yang tidak mengidentikkan keduanya; menjamin bahwa ia tidak jatuh dalam kesalahan teologi liberal (Edward Schillebeeckx, “Church The Human Story of God, New York: Crossroad, 1990, hlm 320).

Maka, bagaimana Schillebeeckx menggarisbawahi primat dari aspek soteriologis dalam teologi? Soteriologi itu tampak penting, karena Schillebeeckx di dalam karyanya merujuk pada tradisi kenabian dan pneumatik.

Perlunya untuk menegaskan dimensi soteriologis dari kristologi menjadi paling kentara, ketika Schillebeeckx menemukan bahwa aspek tersebut tidak cukup diperhatikan. Dalam kasus itu dimensi profetik dan pneumatik dalam tradisi diangkatnya untuk mengatasi penekanan ontologis dan dogmatis.

Edward Schillebeeckx mengenai eskatologi pada bagian kedua tahun 1960-an menyiapkan tekanan yang semakin kuat pada dimensi profetis pada tahun 1970-an. Ia malahan pernah mengatakan bahwa buku ketiga dalam trilogi mengenai kristologi itu akan berbicara mengenai Roh Kudus, akan merupakan suatu pneumatologi.

Teologinya yang lebih kemudian, dengan jelas diwarnai oleh usaha menyingkapkan dimensi soteriologis dari rahmat dalamnya Allah menyatakan diri. Pencarian akan momen redemptif di dalam sejarah mengubah pemahaman tentang Gereja dan jabatan di dalam Gereja.

Minat Schillebeeckx terhadap soteriologi dalam dimensinya yang profetik mengubah wajah teologi Kristen dan wajah Gereja, bila ia diikuti dan dilaksanakan dengan sungguh. Kenyataan bahwa banyak orang merasa perlu adanya perubahan itu untuk sebagian besar menjelaskan mengapa teologi Schillebeeckx dan tulisannya tentang Gereja dan jabatan demikian disukai banyak orang pada akhir abad ke-20 (Georg Kirchberger Red, hlm. 196).

Pada saat Gereja Eropa menjadi Gereja Sedunia, dan saat pikiran postmodern menuntut pemahaman dan praktik baru menyangkut iman kristiani, kita mesti mengambil resiko untuk meneliti kembali dimensi soteriologis iman kita, justru demi kredibilitas pelaksanaan iman kita. Iman kristiani hanya meyakinkan orang, bila ia dialami sebagai relevan, sebagai sarana efektif untuk mengatasi kemalangan dunia ini pada masa kita saat ini.

Kita mesti memperhatikan juga tema penciptaan yang memegang posisi penting dalam tulisan Schillebeeckx dan yang disinggung lebih sering sejak tahun 1990-an berhubungan dengan persoalan ekologi. Seperti sudah dijelaskan di atas, Schillebeeckx menegaskan bahwa penciptaan bersifat dasariah bagi seluruh teologi.

Namun ia sadar dan ingin menyadarkan pembacanya bahwa penekanan pada penciptaan tidak boleh menyingkirkan eskatologi dalam pikirannya.

Tetapi, apakah penekanan pada penciptaan mengubah perhatian Schillebeeckx bagi dimensi soteriologi? Rupanya tidak. Soteriologi jadi dihubungkan juga pada penciptaan, dan mungkin penekanan pada penciptaan justru harus dilihat dalam rangka rencananya untuk menerangi soat soteriologi dengan lebih konkret. Karena pembaruan yang dikerjakan Allah justru ingin memulihkan rencana awal yang dimiliki Allah ketika ia menciptakan dunia.

Schillebeeckx dalam seluruh teologinya selalu berusaha untuk mencari jalan baru yang membantu orang untuk mengatakan ya dan menerimah inti pewartaan Injil. Schillebeeckx secara fundamental tertarik pada Allah yang secara serius memperhatikan kepentingan manusia, Allah tidak acuh tak acuh (masa bodoh) terhadap pengalaman konkret, penderitaan dan pengharapan manusia.


*) Penulis adalah Mahasiswa pascasarjana SFTF Fajar Timur Abepura, Papua.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here