Beranda Opini Opini ǀ Urgensi Resistansi Transportasi Udara di Tengah Pandemi

Opini ǀ Urgensi Resistansi Transportasi Udara di Tengah Pandemi

120
0
Ilustrasi (Foto: Ist)

Oleh: Muhammad Amir Ma’ruf*

Pandemi COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) telah membuat para pelaku ekonomi gamam. Anjuran untuk tetap di rumah dan melakukan physical distancing menghambat aktivitas perekonomian, tak terkecuali di Provinsi NTT. Tidak dapat dimungkiri, ketakutan masyarakat turut menyumbang beban terhadap kesulitan para pelaku ekonomi.

Kondisi ini memaksa berbagai sektor untuk melakukan penyesuaian tidak hanya sistem kerja, melainkan perhitungan ulang prospek bisnis yang sudah berjalan. Salah satu penyesuaian yang dilakukan adalah mengganti sebagian atau seluruh kegiatan tatap muka menjadi berbasis online.

Baca juga: https://www.florespost.co/2020/04/18/opini-%c7%80-membantu-membangun-indonesia-bisa-dilakukan-di-rumah-saja/

Dampak terhadap Sektor Transportasi

Indonesia, seperti halnya negara di Asia lainnya, adalah negara dengan tingkat mobilitas yang tinggi. Transformasi sistem kerja menjadi berbasis online membuat dampak signifikan terhadap sektor transportasi, yaitu mobilisasi orang menjadi berkurang. Hal ini berimbas pada permintaan pada sektor transportasi.

Meskipun pemeritah RI baru mengonfirmasi kasus pertamanya pada bulan Maret 2020, efek COVID-19 sudah mulai terasa sejak Februari. Data BPS menyebut secara rata-rata terjadi penurunan penumpang di bandara-bandara Provinsi NTT sebesar 9,61 persen pada bulan Februari dibanding bulan Januari 2020.

Bahkan, Bandara Komodo di Labuan Bajo mengalami penurunan yang cukup besar dibanding bandara lain di Bumi Flobamora, yaitu sebesar 20,81 persen. Di bulan Maret, maskapai Transnusa menghentikan seluruh penerbangan di Provinsi NTT. Terbaru, Pemerintah RI resmi melarang seluruh penerbangan komersial dan charter sampai 31 Mei 2020 yang membuat bandara-bandara di NTT semakin sepi.

Baca juga: https://www.florespost.co/2020/04/24/kemenhub-terbitkan-aturan-pengendalian-transportasi-mudik-idul-fitri-1441-h/

Depresiasi transportasi di NTT tidak hanya terjadi pada sektor angkutan udara, pelarangan kapal Feri mengangkut penumpang oleh Pemprov NTT baru-baru ini turut menyumbang lunglainya sektor transportasi. Tidak hanya itu, perusahaan-perusahaan logistik juga turut terkena imbas.

Terbatasnya mobilisasi orang juga turut memengaruhi sektor jasa angkutan barang. Terbukti, laporan BPS menyebut bahwa ekspor barang Provinsi NTT pada bulan Februari 2020 menurun 11,81 persen dibanding bulan sebelumnya. Sedangkan untuk transportasi darat, kebijakan work from home (WFH) berbagai instansi dan perusahaan sedikit banyak memengaruhi jumlah penumpang.

Angkutan udara mengalami pukulan paling telak dibanding transportasi lainnya. Berbagai agen travel dan customer care maskapai kelimpungan menangani permintaan penundaan dan pembatalan jadwal akibat maskapai dilarang mengangkut penumpang, hanya diperbolehkan mengangkut kargo. Padahal, mayoritas pesawat yang beroperasi di bandara-bandara NTT berjenis propeller. Pesawat jenis ini biasanya memang tidak dikhususkan untuk kargo. Akibatnya, pesawat-pesawat tersebut praktis terparkir di bandara.

Dampaknya, tenaga kerja yang dibutuhkan menjadi lebih sedikit. Mau tidak mau, maskapai harus melakukan efisiensi demi menjaga stabilitas keuangan mereka. Dampak lain dari pengurangan operasional pesawat adalah terhambatnya pengiriman kargo melalui udara. Semua kargo yang dikirim ke berbagai kabupaten di NTT harus melalui darat/laut yang tentunya membutuhkan waktu lebih lama. Biasanya, para perusahaan jasa pengiriman dapat “menitipkan” kargonya melalui penerbangan reguler. Selain itu, sepinya bandara berdampak juga pada usaha-usaha yang ada di dalamnya. Termasuk taksi/travel dan ojek-ojek, mereka sangat bergantung dengan jumlah pengunjung bandara.

Baca juga: https://www.florespost.co/2020/04/08/opini-%c7%80-hidup-dalam-pesismistis-hoaks-dan-gosip/

Perlu Stimulus

Sektor transportasi harus memiliki resistansi. Sebab, transportasi merupakan urat nadi bagi masyarakat. Terlebih bagi masyarakat daerah kepulauan. Di Provinsi NTT, Sektor ini berkontribusi terhadap 5,46 persen PDRB pada tahun 2019 (sumber: BPS).

Transportasi udara adalah jembatan roda perekonomian. Jika sektor ini runtuh, maka roda perekonomian tidak akan berjalan maksimal. Akibatnya, kesenjangan akan semakin nyata. Harga-harga akan berbeda signifikan pada masing-masing wilayah. Selain itu, mobilisasi juga akan terhambat dan akan berdampak pada sektor perekonomian lainnya seperti pariwisata. Padahal, pariwisata digadang-gadang akan menjadi tulang punggung perekonomian di masa yang akan datang.

Baca juga: https://www.florespost.co/2020/04/25/penerbangan-lokal-ntt-tetap-beroperasi/

Pelarangan mudik bagi masyarakat seolah menambah suram sektor transportasi. Terlebih maskapai yang melayani penerbangan di Provinsi NTT. Seperti kita ketahui bersama, banyak pesawat operasional maskapai yang didapat dari leasing. Pelarangan mudik yang disertai sanksi akan berdampak pada keberlangsungan sektor transportasi.

Saat ini, pemerintah gencar melakukan stimulus pagi para driver ojol. Namun, pemerintah seperti menganggap sebelah mata terhadap sektor transportasi lainnya. Pelarangan mudik namun tetap membuka terminal, bandara, dan pelabuhan tanpa adanya stimulus yang nyata bagi pelaku ekonomi di dalamnya dapat membuat dampak yang serius.

Pemerintah pusat harus melakukan langkah penyelamatan terhadap pelaku industri penerbangan. Sebab, industri ini merupakan salah satu sektor yang memiliki biaya operasional yang besar. Di tengah pandemi ini, maskapai sangat rentan kolaps. Stimulus seperti penurunan harga avtur yang signifikan, parkir pesawat, dan jasa navigasi sangat membantu maskapai. Insentif lain yang sangat mungkin dilakukan adalah penurunan pajak.

Baca juga: https://www.florespost.co/2020/03/15/opini-semana-santa-di-tengah-corona/

Meskipun akan berdampak pada penerimaan negara, insentif ini dapat menyelamatkan maskapai dari kebangkrutan. Sedangkan stimulus terhadap pelaku usaha terkait pada bandara seperti UMKM, travel, dan ojek bandara dapat dilakukan oleh pemerintah daerah.

UMKM dapat diberikan subsidi untuk biaya retribusi atau jasa sewa tempat di bandara. Sedangkan untuk pengemudi ojek bandara dapat diberikan bantuan pangan agar tetap dapat melangsungkan perekonomiannya.

Transportasi adalah jantung ekonomi masyarakat. Keberlangsungannya sangat membantu tercapainya tujuan pembangunan. Kelancaran transportasi dapat meningkatkan investasi serta pemerataan ekonomi. Oleh karena itu, menjaga resistansi sektor transportasi udara di tengah pandemi harus menjadi perhatian. Karena bukan hanya berdampak pada para pelaku ekonomi di dalamnya, namun demi pembangunan yang berkelanjutan.

*)Penulis adalah Statistisi Ahli BPS Kota Kupang.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here