Beranda Sastra Cerpen ǀ Cekdam

Cerpen ǀ Cekdam

127
0
Ilustrasi (Foto: denihermawan)

Oleh: Honing Alvianto Bana*

Makanan di piring itu belum juga habis. Ketika saya mendengar suara yang samar-samar dari kejauhan.

“Awuaa..wuaaa. Awuaa..wuaaa.”

Saya berhenti mengunyah nasi, mengarahkan telinga ke arah jendela, dan …suara itu tak terdengar lagi. Kecuali suara dua ekor babi di balik dapur yang entah kenapa tak pernah kenyang.

Saya kembali mengunyah nasi, mengambil sepotong ikan, menggigitnya, lalu melemparkan tulangnya ke bawah. Dua ekor anjing saling gigit, berebut tulang di bawah meja.

“Usir itu anjing,” teriak ibu dari uembubu [1].

“Huuuss..Asu la’i (anjing ini)”. Saya berdiri sambil menendang anjing-anjing itu. Ketika saya hendak kembali duduk, suara itu kembali terdengar.

“Awuaa..wuaa. Awuaa..wuaa.”

Kali ini suara itu terdengar jelas. Saya mengenal suara itu. Itu suara Tinus. Ia memberi isyarat agar saya segera menemuinya di ujung setapak.

Baca juga: https://www.florespost.co/2020/04/22/cerpen-%c7%80-kapan-hujan-turun/

Saya lalu berdiri sambil melangkah ke dinding yang membatasi ruang makan dan dapur. Saya membungkuk, menutup salah satu mata, dan melihat kearah dapur melewati sebuah lubang sebesar ibu jari.

Dari celah dinding, saya melihat ibu sedang sibuk meniup api. Matanya sedikit tertutup. Kepulan asap membuatnya kewalahan. Potongan-potongan kayu itu seakan sedang mempermainkannya. Beberapa kali asap mengepul, tapi kayu-kayu itu tak hendak menyala. Setiap ia menarik napas dan menghembuskannya ke tengah tungku, selalu terdengar suara batuk beberapa kali. Di sebelah ibu, terlihat seekor ayam sedang menatap ibu dengan rasa iba.

Saya memang perlu memastikan bahwa ibu tidak sedang mengawasi ketika saya hendak keluar dari rumah.

Saya lalu berbalik ke arah meja makan, mengangkat tudung saji, memasukan sisa makan lalu menutupnya. Kemudian saya berjalan ke arah pintu depan, memegang gagang pintu, menariknya, dan…

“Enos?” terdengar ibu memanggil dari dapur. Saya tak menjawab. Hanya diam. Saya bimbang antara harus menjawab ataukah berpura-pura tuli. Seketika terlintas pesan guru sekolah minggu saya: ”Kalau ingin masuk surga, kalian harus mengikuti setiap perintah orang tua. Tidak boleh melawan. Tuhan tak suka anak yang nakal!”

Guru sekolah minggu saya bernama Ibu Meri. Rambutnya lurus seperti penggaris. Ia sangat baik. Ia menganggap kami seperti anaknya sendiri.

Ibu Meri telah menikah 4 tahun lalu, tapi belum juga memiliki anak. Entah apa penyebabnya, tapi kata orang-orang di sini, suaminya mandul. Suaminya seorang guru olah raga.

Mereka telah mengikuti banyak saran perihal itu, mulai dari pergi ke dokter spesialis kandungan, melakukan naketi [2], pergi ke tim doa, hingga pergi ke seorang dukun di kaki Gunung Mutis. Tapi selalu tak membuahkan hasil. Ibu Meri tak pernah hamil. Mereka seakan dikutuk untuk saling mencintai dan hidup bersama tanpa memiliki keturunan.

“Enos?” ibu memanggil sekali lagi.

“Iya?” Saya menjawab sambil menutup kembali pintu dengan perlahan.

“Bawa minyak tanah ke sini dulu.” Ibu berkata dengan setengah berteriak. Sepertinya ibu telah putus asa berurusan dengan masalah api.

“Di mana?” saya bertanya.

“Di sekitar kolong meja.” ibu menjawab.

“Tidak ada”, saya kembali menjawab.

“Lihat dulu sebelum bertanya”, suara ibu semakin meninggi.

Saya menggaruk kepala, menggeser sebuah kursi plastik lalu menunduk di sekitar kaki meja. Ada empat buah botol di sini, tapi hanya satu yang terisi. Yang lain kosong, seperti hatinya Pe’u- pemuda yang setiap hari berdiri di ujung gang, tapi belum pernah memiliki kekasih.

Saat saya hendak memegang botol itu, sepasang kecoa berlari di antara kaki saya. “Wuhuhu”, saya terkejut sambil setengah melompat.

Saya kemudian mengambil botol berisi minyak tanah, berjalan ke arah dapur, menyodorkannya kepada ibu dan ikut duduk di situ. Saya membantu ibu menaruh beberapa belahan kayu di tungku dan sesekali melihat ke tanah. Di sebelah kanan tungku, terlihat semut-semut merah berpapasan, lalu kembali berjalan, berpapasan lagi, begitu seterusnya.

Baca juga: https://www.florespost.co/2020/04/12/cerpen-%c7%80-nenek-susu-panjang/

Tiba-tiba terdengar bunyi klakson sepeda motor di depan rumah, ayah baru saja pulang dari kantor. Saat bunyi sepeda motor ayah berhenti, dua ekor babi terus berteriak di balik dapur. Keras sekali. Entah karena lapar ataukah kerasukan.

“Cepat kasih makan itu babi. Ayah akan marah kalau mendengar mereka berteriak seperti itu“, ibu berbicara sambil menuangkan minyak tanah ke beberapa potong kayu.

Saya benci sekali babi-babi itu, ayah pernah memukul saya hanya karena lupa memberi makan. Saya menangis tersedu-sedu di balik dapur. Ayah sepertinya lebih mencintai babi dari pada anaknya sendiri.

Saya kemudian berjalan ke arah babi-babi itu, mengambil setumpuk daun lamtoro dan menaruhnya di dalam palungan. Tapi mereka tak juga ingin makan. Mereka terus berteriak. Seakan tak sudi makan dari hasil pemberian musuh. Saya tak peduli. Saya lalu menyelinap di antara beberapa rumpun pisang  kemudian diam-diam berlari ke arah setapak, tempat Tinus menunggu.

“Awuaa..”, Tinus berhenti berteriak ketika melihat saya muncul dari ujung jalan. Ia berdiri di dekat bahan [3] sambil memegang sebuah ember berwarna hitam. Di sampingnya terlihat sebuah pancing bersandar dengan gagah pada sebatang pohon gamal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here