Beranda Sastra Cerpen ǀ Cekdam

Cerpen ǀ Cekdam

243
0

Tampak awan bergerak pelan seperti kapas. Seekor elang berputar-putar dan sesekali melengking. Kami berjalan melewati jalan setapak, kemudian memasuki hutan dan beberapa kebun milik warga, sebelum akhirnya tiba dipinggir Cekdam.

Dari kejauhan, tampak beberapa orang sedang memancing di seberang Cekdam. Tinus lalu mengeluarkan setumpuk cacing dari ember. Ia kemudian menaruh seekor cacing sebesar lidi di atas telapak tangannya. Cacing itu menggeliat seperti ular. Tinus bangkit mengambil sehelai daun keladi, menaruh segenggam tanah, dan memindahkan cacing-cacing itu ke dalamnya.

Baca juga: https://www.florespost.co/2020/04/19/puisi-%c7%80-salam-hormat-untukmu-presidenku/

“Pegang ini.” Tinus menyeka keringat dengan lengan kirinya. Ia mengambil seekor cacing dan memotong tubuhnya dengan kukunya yang hitam. Ia lalu meludah beberapa kali pada mata kail.

“Enos, kita pindah ke sebelah sana saja,” kata Tinus sambil menunjuk ke arah tembok setinggi setengah meter.

Dekat pinggir Cekdam ada sebuah tembok bekas penghalang air yang sebagiannya telah jebol. Tinus menyuruh saya memegang kail. Ia lalu memanjat tembok itu. Saya menyusul di belakangnya. Kami duduk berdampingan. Angin berhembus menerpa rambut dan wajah kami. Air di sini tampak tenang. Tinus bersiul dan melempar kailnya. Jauh di seberang Cekdam tampak beberapa ekor sapi sedang minum.

Di sebelah kami ada dua orang sedang memancing. Sepertinya mereka juga baru saja memancing. Ember mereka terlihat belum terisi ikan. Kami menunggu kail bergerak dengan lamunan masing-masing. Entah tentang apa. Hanya diri sendiri yang tahu.

“Dua orang itu pernah mati di sini.” Sekilas dalam pikiran saya berkelibat cerita ayah tentang dua orang yang pernah mati ditarik setan. Tapi saya tidak merasakan apa-apa. Tidak ada yang menarik saya dan Tinus. Tidak ada setan di sini. Ayah sengaja menakuti agar saya tidak datang ke Cekdam.

“Enos, kau pernah memancing sebelum ini?”

Baca juga: https://www.florespost.co/2020/04/12/puisi-%c7%80-jalan-mendung/

Belum sempat saya menjawab, kail Tinus ditarik oleh sesuatu. Benang kail semakin dekat. Jantung saya berdegub tak beraturan. Tinus mencoba menariknya tetapi gagal. Napas saya tertahan di tenggorokan sampai kemudian seekor ikan gabus sebesar betis orang dewasa menggantung di udara.

“Awih! besar sekali.”

Saya melepasnya dari mata kail. Satu per satu ikan-ikan terperangkap. Saya memasukkannya ke dalam ember berwarna hitam. Tinus kembali membuang mata kailnya ke dalam air dan kami kembali duduk. Tali-temali terdiam di atas permukaan air. Bila ada riak berarti itu awal kegembiraan.

Sebelum matahari terbenam, ikan-ikan sudah memenuhi Ember. Mereka terkelepar-kelepar. Saya senang sekali. Sudah lama saya tidak melihat ikan-ikan sebesar ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here