Beranda Sastra Cerpen ǀ Cekdam

Cerpen ǀ Cekdam

243
0

Malam jatuh dengan ubun-ubun terluka. Gelap telah menombaki senja yang terkenal manis itu. Saya berjalan mengikuti Tinus dari belakang. Saya dan Tinus pulang dengan perasaan bangga. Seperti pahlawan yang baru saja pulang dengan kemenangan di medan tempur. Awalnya saya senang sekali, tapi kemudian rasa itu berubah menjadi rasa takut. Saya mulai memikirkan tentang ayah dan ibu yang pasti sedang cemas. Mereka mungkin sedang mencari saya ke mana-mana.

Ketika mendekati rumah, ketakutan itu semakin menjadi-jadi. Saya dan Tinus kemudian berpisah di ujung setapak.

Dari ujung jalan, terlihat ibu sedang berdiri sambil melihat ke arah setapak. Ia sepertinya sedang gelisah. Saya pasrah. Saya memasuki halaman rumah seperti tak terjadi apa-apa. Ibu hanya melihat saya dengan wajah cemberut, sedangkan ayah hanya duduk di muka pintu. Ayah hanya diam, namun saya paham bahwa itu adalah marahnya yang paling dalam. Saya menuju kamar mandi, membersihkan badan lalu berjalan menuju kamar. Saat memasuki rumah,  tak ada suara apa-apa. Saya heran, ayah dan ibu belum juga mengeluarkan sepatah kata pun. Kami seakan sedang berdebat dalam diam dan bertengkar dalam sunyi.

Baca juga: https://www.florespost.co/2019/10/23/cerpen-%c7%80-lakon-bisu-di-ruang-tunggu/

Beberapa saat kemudian terdengar suara ayah bertanya dengan nada yang meninggi.

“Kau dari mana sampai pulang malam-malam?”

Belum sempat saya jawab, sebuah tangan mendarat tepat di pelipis saya. Ayah telah menumpahkan amarah yang ia simpan entah sejak kapan. Ia meninju seperti sedang memukul orang dewasa. Darah keluar dari lubang-lubang di sekitar kepala. Saya mulai merasa kunang-kunang mulai menyerang. Bumi seakan berputar seperti gasing. Mata saya masih terbuka, melihat darah saya sendiri. Kental merah kehitaman.

“Nobah nai (Sudah lagi)”, ibu berteriak menggunakan bahasa dawan.

Selanjutnya saya tak ingat apa-apa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here