Beranda Opini Opini ǀ Ketahanan Industri Pariwisata di Tengah Pandemi COVID-19

Opini ǀ Ketahanan Industri Pariwisata di Tengah Pandemi COVID-19

295
0
Maria Leonora Ali, warga Flobamora diaspora Jakarta, mahasiswa Program Studi Hospitality, Fakultas Administrasi Bisnis dan Ilmu Komunikasi, Universitas Katolik, Atma Jaya, Jakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Maria Leonora Ali*

Ibarat pertandingan tinju, Covid-19 telah memukul telak industri pariwisata. Meski belum sampai jatuh dan dinyatakan knock-out (KO), ‘pukulan hook’ yang dilontarkan Covid-19 telah membuat industri pariswisata terhuyung-huyung.

Secara global, industri pariwisata memang sedang sempoyongan menyusul pemberlakukan lock down dan pembatasan perjalanan untuk mencegah penyebaran Covid-19. World Tourism Organisation, sebuah organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan, kedatangan wisatawan internasional  menurun 20-30% selama 2020, dan berpotensi merugi antara US $ 30 hingga US $ 50 miliar. Bahkan, di  banyak kota di dunia, perjalanan wisata yang direncanakan mengalami penurunan antara  80-90 persen.

Sementara itu, pandemi Covid-19 juga membuat  banyak tempat wisata di seluruh dunia, seperti museum, taman hiburan dan tempat olahraga, ditutup. World Travel and Tourism Council, memproyeksikan, secara global pandemi Covid-19 menghilangkan 75 juta pekerjaan dan meraibkan pendapatan AS$ 2,1 triliun. Bahkan, Covid-19 menimbulkan kerugian setiap hari. Pada tanggal 2 April 2020 misalnya, British Airways dilaporkan siap untuk merumahkan  36.000 staf.

Baca juga: https://www.florespost.co/2020/04/26/opini-%c7%80-urgensi-resistansi-transportasi-udara-di-tengah-pandemi/

Memukul Telak Pariwisata Nasional

Di Indonesia, dampak pademi Covid-19 yang telah berjalan dua bulan ini telah membuat para pelaku industri pariwisata puyeng. Ibarat seorang petinju yang baru kena pukulan telak lawannya.  Begitulah gambaran singkat dari sharing dan diskusi para pelaku industri pariwisata nasional, dalam cara Webinar  untuk memperingati  ulang tahun ke-35 Fakultas Pariwisata  Universitas Udayana–Denpasar, Bali belum lama ini.

Aktivis pariwisata, I Made Gunarta, mengungkapkan bahwa bisnis pariwisata yang dikelolanya sudah pernah mengalami  krisis berat akibat Bom Bali I tahun 2002 dan Bom Bali II Oktober 2005. Namun, krisis yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19 ini jauh lebih dasyat. Sampai-sampai Bali Spirit Festival ke-13, event yang sudah diagendakan sejak lama batal dilaksanakan.

Pada kesempatan lain, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung, IGA Rai Suryawijaya mengatakan, perekonomian Bali saat ini dalam kondisi terburuk sepanjang sejarah. Karena tingkat hunian hotel nyaris mencapai titik nol. Padahal, jumlah hunian kamar hotel di Bali sekitar 146.000 kamar, khusus untuk Kabupaten Badung terdapat 102.000 kamar.

Surya mengatakan, sejak April, hampir 96 persen hotel sudah tutup, karena tidak ada kunjungan wisatawan lagi. Jumlahnya akan terus meningkat hingga 100 persen, karena wisatawan manca negara (wisman) yang ada akan dipanggil pulang ke negaranya masing-masing. Bahkan, saat ini, Pariwisata Bali kehilangan pendapatan hingga miliaran rupiah per harinya. Sebab kunjungan wisman mencapai 16.000- 17.000 orang setiap hari, dengan spending per orangnya sekitar Rp20 Juta.

Kondisi industri pariwisata di Nusa Tenggara Timur (NTT), juga tak jauh berbeda. Semenjak Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menerbitkan siaran pers penundaan pelaksanaan festival pariwisata dan penutupan seluruh obyek wisata, Sabtu (21/3/2020) untuk mencegah penyebaran Covid-19, pariwisata NTT langsung terhuyung.

Menurut Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi NTT Agus Bataona, pandemi Covid-19 telah membuat  seluruh anggota pramuwisata NTT saat ini kehilangan mata pencahariannya. (Kompas, 18/4). Memang, belum diungkap berapa potensi kerugian yang menimpa industri pariwisata NTT. Meski demikian, kalau dihitung jumlah kerugiannya tentu tidak kecil. Sebab, menurut data Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  (Dinparekraf) Provinsi NTT memiliki 13 Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional (KPPN) dan 1146 daya tarik wisata (DTW), yang terdiri dari 557 obyek wisata alam, 476 obyek wisata budaya, 106 obyek wisata minat khusus dan 7 obyek wisata buatan.

Baca juga: https://www.florespost.co/2020/04/18/opini-%c7%80-membantu-membangun-indonesia-bisa-dilakukan-di-rumah-saja/

Sistem Ketahanan Pariwisata

Sebetulnya krisis akibat pandemi Covid-19 merupakan bagian dari rententan krisis ekosistem yang silih berganti dalam sejarah peradaban umat manusia. Oleh karena itu, krisis industri pariwisata yang timbul akibat pandemi Covid-19 seharusnya dikaitkan dengan mekanisme dan sistem resilience (ketahanan). 

Karen Reivich, Andrew Shatte Ph.D., (2003) menjelaskan, ‘ketahanan’ adalah kemampuan umat manusia untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi/lingkungan yang sulit. Melalui sistem ketahanan, manusia dapat memahami krisis dan berupaya untuk menyesuaikan diri dengannya agar tetap eksis dan bisa bertumbuh.

Jadi, ‘ketahanan’ adalah suatu konsep yang mengandaikan adanya sumber daya manusia yang memiliki daya tangguh, daya lenting, dan gaya kenyal yang luar biasa untuk beradaptasi dengan situasi yang sulit. Bertolak dari konsep ini pula, akan timbul dalam hati umat manusia suatu keyakinan bahwa setelah konsisi krisis yang suram  akan datang suatu masa depan yang cerah.  

Sesungguhnya, teori mengenai ketahanan diajukan pertama kali oleh ahli ekologi, F. ‘Buzz’ Holling pada tahun 1973. Holling  menawarkan landasan teori yang kuat untuk sistem masyarakat, ekonomi dan lingkungan yang saling tergantung dalam wacana ‘pembangunan berkelanjutan’.

Kemudian konsep tersebut dielaborasi dan diaplikasikan ke sistem sosial dan ekologis di berbagai bidang. Penerapan konsep ketahanan dalam bidang pariwisata diinisasi oleh Farrell dan Twining-Ward (2004 dan 2005), sebagai kritik atas Faulkner dan Russell (1997) dan McKercher (1999) yang menggunakan teori chaos dalam menganalisis krisis di dunia pariwisata, dan memandang pariwisata sebagai sebuah sistem yang stabil dan linier.

Baca juga: https://www.florespost.co/2020/04/11/opini-%c7%80-pendidikan-yang-membebaskan-peluang-atau-tantangan/

Selanjutnya, konsep ketahanan  digunakan berturut-turut, pertama, oleh Lepp (2008a) untuk menganalisis sikap penduduk terhadap pariwisata di sebuah desa di Uganda; kedua, oleh Schianetz dan Kavanagh (2008) sebagai framework guna melihat  indikator keberlanjutan dalam sistem pariwisata; ketiga, oleh Stevenson et al. (2009) untuk menyerukan penilaian kembali pembuatan kebijakan pariwisata; keempat, oleh McDonald (2009) menggunakannya untuk menganalisis pengembangan pariwisata di daerah Perth, Australia; dan kelima oleh Janet Cochrane (2010) untuk menjelaskan kehadiran community-based tourism di Asia pasca bencana tsunami 2004.

Pada hakekatnya, konsep ketahanan dalam industri pariwisata menggunakan suatu model yang disebut ‘Sphere of Tourism Resilience.’ Model ini mengandaikan tiga elemen utama yaitu, pertama, kekuatan pasar. Ketahanan industri pariwisata mengandaikan kesadaran akan kekuatan pasar dan kemampuan untuk memanfaatkannya. Tanpa melibatkan pasar, maka industri pariwisata tak mampu bertahan dan akan sulit pula keluar dari situasi krisis.

Elemen kedua adalah kohesi pemangku kepentingan. Supaya industri pariwisata dapat bertahan dalam situasi krisis dan bisa keluar dari situasi tersebut, maka sektor swasta dan sektor publik (pemerintah) harus bersatu dan bekerja sama, saling mengisi dan saling mendukung. Pemerintah misalnya membuat kebijakan pemotongan pajak, sementara sektor swasta terus mengoptimalkan pengembangan berbagai potensi pariwisata yang tersedia.

Elemen kunci ketiga adalah kepemimpinan yang kuat dan konsisten yang diekspresikan melalui visi dan manajemen yang jelas, baik dari individu atau institusi. Para pemimpin, baik di sektor publik maupun swasta, dituntut untuk menciptakan struktur untuk mengatasi benturan penggunaan sumber daya secara berlebihan, mendorong perubahan, dan memicu kekompakan dan keterlibatan pasar di antara para pemangku kepentingan.

Pertanyaannya sekarang, apakah sphere of tourism resilence sudah diterapkan di sektor industri pariwisata NTT? Jawaban yang akurat atas pertanyaan ini tentu ada di tangan para pemangku kepentingan papriwisata NTT sendiri. Sebagai anak NTT di perantuan, penulis hanya bisa berharap agar mereka semua melakukan yang terbaik. Supaya industri pariwisata NTT yang baru saja mekar, tidak  mati layu akibat pandemi Covid-19.***

*Penulis adalah warga Flobamora diaspora Jakarta, mahasiswa Program Studi Hospitality, Fakultas Administrasi Bisnis dan Ilmu Komunikasi,  Universitas Katolik, Atma Jaya, Jakarta.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here