Beranda Florata News 154 KK Luwuk dan Lingko Lolok Dukung Pabrik Semen

154 KK Luwuk dan Lingko Lolok Dukung Pabrik Semen

2554
0

FLORESPOST.CO, Borong Sebanyak 154 kepala Keluarga  (KK) yang berada di Kampung Lingko Lolok dan Kampung Luwuk Desa Satar Punda Kecamatan Lamba Leda mendukung kehadiran pabrik semen diwilayah mereka, sementara 9 kepala keluarga lainnya menolak.

Ferdinandus Hasman, Klemens Salbin, Benediktus Uni, Gordianus Bas warga Lengko Lolok yang ditemui sejumlah awak media Kamis (7/5/2020) mengatakan, untuk Kampung Lingko Lolok ada 103 orang atau 89 kepala keluarga dan 2 kepala keluarga dari 89 yang menolak.

Menurut warga mereka sudah menjalankan kontrak perjanjian antara pihak perusahan dengan warga Lingko Lolok. Dia mengatakan adapun butir perjanjian yakni rumah ukuran 60 M2, air bersih, listrik 1300 W, uang kompensasi 150 juta per kk, uang perabot 50 juta, harga tanah. Poin-poin kesepakatan mereka antara lain harga tanah nonsertifikat Rp 12 ribu/m2, harga lahan bersertifikat Rp 14 ribu/m2, serta tanaman seperti kayu jati, jambu mente. Saat ini di lokasi pabrik semenmasih melakukan patok lahan.

Saat ditanya terkait ada penolakan dari pihak luar, Benediktus mengatakan bahwa selama ini pihak luar tidak pernah membicarakan Kampung Lingko Lolok dan mau membantu warga keluar dari kemiskinan dan selama ini mereka itu ke mana.

Terhadap dinamika adanya aksi penolakan dari berbagai elemen masyarakat diluar sana, Benediktus menegaskan warga Lingko Lolok tetap menyerahkan lahan mereka.

“Jangan hanya karena perusahan semen mau membantu warga di sini, tetapi yang di luar kampung justru membuat keributan, kalau mau tahu tentang keberadaan warga silakan datang dan saksikan kehidupan Warga Lingko Lolok,” kata dia.

Ia pun tidak mempersoalkan adanya aksi penolakan itu, karena menurut dia tanah yang diserahkan juga adalah bukan tanah milik orang luar, tetapi tanah milik masyarakat. Dan tambah dia, mereka (kontra-red) tidak punya hak untuk membatalkan itu.

“Silakan mereka menolak, tetapi kami di Lingko Lolok tetap menyerahkan lahan untuk mendukung hadirnya perusahan tersebut. Tanah yang diserahkan warga bukan tanah milik orang di luar sana, tanah gereja, tetapi tanah milik masyarakat dan mereka tidak punya hak untuk membatalkan itu,” kata Benediktus Uni.

Benediktus pun mempersilahkan warga di luar sana berdebat tentang Lingko Lolok. situasi di Kampung Lolok pun, kata dia, sama seperti biasanya tidak ada keributan di antara mereka, karena menurut dia mereka semua adalah saudara.

“Yang pro dan kontra pun tidak pernah memaksa, karena semua itu atas kemauan kami bukan karena tekanan dari pihak manapun,” kata dia.

Senada juga juga disampaikan Ferdinandus Hasman warga Lingko Lolok, bahwa dalam pengalaman mereka sebelumnya saat ada tambang Arumbai, pendapatan warga di atas 3 juta. Namun sekarang hanya mengharapkan jual hasil jambu mente dan jual kayu api.

Saat perusahaan PT. Singga Merah NTT hadir dan mau mendirikan perusahaan semen, warga menurut dia tentu senang.

“Kami bersyukur diwariskan tanah terjanji yang berlimpahkan susu dan madu, batu yang tak berguna itu sudah jadi roti dan roti itu, kami tidak mau jadi batu lagi karena penolakan orang di luar sana,” ungkap Ferdinandus.

Saat ditanya apakah ada warga yang menolak penerimaan kompensasi tahap kedua, Ferdinandus menegaskan tidak ada penolakan, dan kata dia belum bisa diterima karena Covid- 19. Walaupun mereka sudah mematok batas tanah mereka sesuai dengan kesepakatan pada saat keboro atau musyawarah yang sah.

Ditambahkannya, tanah yang diserahkan saat ini hanya yang dibutuhkan pihak perusahaan, karena masih beberapa bidang tanah miliknya belum dibutuhkan perusahaan.

Tanah milik Nenek Moyang

Kami menjumpai Isfridus Sota salah satu dari dua orang yang menolak hadirnya perusahan semen itu. Isfridusn mengungkapkan alasan dirinya menolak kehadiran perusahaan tersebut. Dirinya justru tidak menjual tanah yang merupakan warisan leluhurnya. Menurut Isfridus, menjual tanah sama dengan menjual kenangan.

“Tidak ada alasan. Memang saya mempunyai lahan banyak di tempat dan luasnya puluhan hektar. Saya tidak tergiur, jika saya menjalaninya nenek moyang saya pasti marah,” kata dia.

Saat ditanya apakah sudah mendengar informasi dan sosialisasi bahwa perusahaan akan menyediakan lahan baru beserta bangunan tempat tinggal, Fridus sapaannya mengatakan bahwa dirinya belum mengetahui sebab sejak pertemuaan pertama dirinya sudah menolak. Sehingga dalam musyawarah (keboro) dalam bahasa setempat ia tidak dilibatkan sehingga tidak mengetahui hal itu.

Data yang dihimpun, Lingko Lolok merupakan asal muasal bahan baku (batu gamping) yang akan diproses pada pabrik semen di Luwuk. Untuk mewujudkan rencana pabrik Semen dari PT Singga Merah maka, Luwuk dijadikan tempat pabrik semen lokasi itupun ada pro dan kontra.

Menurut Maksimus Rambung salah seorang warga Kampung Luwuk yang baru pulang merantau dari Jakarta pada bulan November 2019 yang lalu mengatakan, pihaknya menolak kehadiran pabrik Semen di Luwuk karena tidak sesuai dengan pengamanan mengelola tambang di tempat lain di mana dia bekerja.

Menurut Maksi sapaan akrabnya, semua kesepakatan tentang hadirnya pabrik di tempat ini tidak secara terbuka disampaikan kepada masyarakat seperti, dampak mengenai lahan masyarakat. Apalagi kata dia, lahan pertanian merupakan tumpuan masyarakat.

“Apa yang dijanjikan oleh perusahaan untuk bekerja di perusahaan itu harus disadari, sebab masyarakat semua petani,” kata Maksi.

Menurut Maksi kehadiran perusahan selalu dan tidak membutuhkan masyarakat. Sebab kata dia kehadiran perusahaan akan merusak lingkungan dan tatanan budaya.

“Saya bicara sesuai dengan pengalaman yang saya alami. Apa yang janjikan merupakan janji angin surga sementara panasnya neraka tidak pernah disampaikan,” ungkapnya.

Sementara itu Vinsensius Kasim, Alo Nambu, dan Bernabas Raba yang mendukung kehadiran perusahan semen itu mengatakan, sebanyak 65 kepala keluarga (KK) di Kampung Luwuk mendukung kehadiran tambang dan sudah menerima kompensasi sedangkan 7 KK menolak kehadiran pabrik semen.

Menurut Vinsensius alasan ia menerima kehadiran tambang adalah untuk membawa perubahan dalam keluarganya.

“Dengan kehadiran perusahaan, anak bisa hidup yang baik, anak cucu saja juga bahagia. Karena selama ini tidak ada penghasilan tetap,” kata dia.

Vinsensius mengatakan dirinya sudah menerima dana kompenasi dari perusahaan, dan juga rumah akan direnovasi oleh perusahaan. Renovasi rumah senilai 50 juta dan juga kata dia sedang dikerjakan secara swadaya.

Sementara itu Bernabas Raba mengatakan sangat mendukung kehadiran tambang, walaupun dirinya merupakan warga Gongger namun Ia memiliki beberapa bidang tanah yang dijadikan lokasi pabrik. Dirinya merupakan anak moso dari tua adat (tua teno) Romanus Rabon.

Mantas Kades Satar Punda itu mengatakan bawah tanah yang diberikan merupakan tanah miliknya. Oleh karena itu Ia meminta agar orang-orang yang di luar sana yang kontra terhadap kehadiran perusahaan ini tidak membatasi usaha mereka untuk mendukung ketidakhadiran pabrik tersebut.

Sementara itu Tua Teno Torong Luwuk Romanus Rabon sangat mendukung kehadiran pihak pabrik semen tersebut. Alasan mendasar mereka hanya ingin memperbaiki kehidupan ekonomi di tengah penghasilan yang tidak menentu.

“Saya mempunyai hak untuk mendukung pihak pabrik untuk kesejahteran warga kampung Luwuk, dan juga keluarga. Karena orang di luar sana tidak tau tentang suka duka kami di sini,” ungkapnya.

Ia menambahkan, ia mempunyai sawah di lokasi yang akan dijadikan pabrik tersebut, namun kata dia lahannya tidak maksimal.

“Karena di sawah, saya hanya bekerja satu tahun dan makan hanya untuk 12 hari. Karena ada campuran air laut sehingga, sawah saya tidak menjaminkan untuk kehidupan kami ke depannya,” imbuhnya.

Laporan : Acong Harson
Editor: Tarwan Stanis

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here