Beranda Opini Opini ǀ “Sebuah Refleksi Kritis” Bersama Bourdieu Stay At Home: Mencegah Virus...

Opini ǀ “Sebuah Refleksi Kritis” Bersama Bourdieu Stay At Home: Mencegah Virus Atau Leaving Home: Bekerja Untuk Memenuhi Kebutuhan Hidup?

206
0
Foto Ilustrasi Net

Oleh: Petrus Selestinus Mite*

1. Pengantar

Pandemik Covid 19 membuat Pemerintah dan masyarakat kebingungan, dilema dan depresi tingkat tinggi. Pemerintah dilema dan kebingungan setelah membuat berbagai kebijakan, agar semua tempat lockdown atau tidak memperbolehkan masyarakat beraktivitas di luar rumah, namun ada banyak orang yang melanggar aturan tersebut. Masyarakat terpaksa melanggar aturan dan kebijakan pemerintah, bukan karena ingin melawan dan tidak mengindahkan kebijakan itu, tetapi masyarakat dituntut untuk survive dalam aspek ekonomi sehari-hari. Masyarakat harus bekerja untuk mendapatkan sepiring nasi dan tidak peduli dengan persebaran virus yang mematikan itu. Singkatnya masyarakat harus membuat semacam pilihan, dan kedua pilihan itu jelas sangat tidak menguntungkan bagi kebaikan dan kesejahteraannya.

Bayangkan saja, ketika seseorang memilih untuk stay di rumah, dan sebagai konsekuensinya kebutuhan hidup sehari-hari tidak terpenuhi, anak, istri, orang tua dan keluarganya harus kelaparan, kehilangan pekerjaan dan terbelenggu dalam penderitaan atau bisa saja mati. Kemudian sebagiannya lagi memutuskan untuk membangkang dan tetap beraktivitas di luar rumah. Resikonya adalah ada kemungkinan terjangkit virus Corona dan bisa saja menular kepada anggota keluarga yang lain. Benar-benar tragis dan sadis, hampir tidak ada celah untuk keluar dari lingkaran ketidakpastian itu.

Pertanyaannya adalah apa yang bisa dilakukan masyarakat dan pemerintah (Negara dan Lokal) dengan situasi demikian? Ranah perjuangan (field of struggle) seperti apakah yang bisa diaplikasikan di tengah pandemik ini? Bagaimana dengan fungsi kepemilikan capital (modal) terhadap orang yang mempunyai modal lebih dan yang tidak banyak modal pasca covid 19? Lalu bagaimana dengan realitas habitus dari masing-masing posisi dalam masyarakat untuk survive terhadap pandemik sekaligus mempertahankan struktur-struktur yang ada di dalam kehidupannya?

Baca juga: https://www.florespost.co/2020/05/07/opini-%c7%80-ketahanan-industri-pariwisata-di-tengah-pandemi-covid-19/

2. Warisan Bourdieu

Ada tiga hal atau konsep penting dalam kerangka berpikirnya Bourdieu, yakni: Ranah Perjuangan (field of struggle), Modal (Capital) dan Habitus. (Bourdieu, 1986). Bourdieu menjelaskan tiga konsep ini dalam relasinya dengan pendidikan, di mana ia melihat pendidikan sebagai reproduksi kelas sosial. Namun tidak berarti pemikirannya bertumpu pada aspek pendidikan saja dan tidak bisa dihubungkan dengan aspek lain. Justru pemikirannya bisa menjadi tombak analisis untuk menyingkap berbagai persoalan dan fenomena tentang kehidupan masyarakat secara general.

Ranah perjuangan (field of struggle) dipahami sebagai suatu ruang kompetisi, ruang pertarungan, tempat atau konteks perjuangan, ada kekuatan, ada energi dan ada semangat dan ada modal (ekonomi, sosial, politik, pendidikan dan budaya). (Hermansyah, 2015). Di sinilah ketiga aspek tersebut saling berhubungan (hubungan dialektika) untuk menjelaskan tentang posisi sosial dan struktur yang ada. Misalkan: para perempuan melihat ruang publik sebagai ranah perjuangan untuk keluar dari ruang privat (dapur, sumur dan kasur). Ada perjuangan di situ, tetapi tidak cukup hanya dengan mengandalkan perjuangan kalau tanpa ada modal atau capital. Lantas, modal juga menjadi aspek penting dalam perjuagan itu, di mana modal tidak hanya dalam bentuk barang dan uang (ekonomi), melainkan modal dapat terwujud dalam berbagai bentuk, seperti status sosial, kekuasaan, jaringan dan simbolik. Dengan kata lain modal itu terwujud dalam aspek ekonomi, sosial, politik dan budaya. Selanjutnya ada “habitus” yang juga terhubung dengan modal untuk menggambarkan seperti apa ranah perjuangan itu terealisasi.    

Boerdieu mengartikan habitus sebagai “akal sehat”, mental atau kognitif yang merefleksikan pembagian objektif dalam struktur kelas (seperti kelompok usia, jenis kelamin atau kelas sosial. Dalam hal ini habitus merupakan fenomena kolektif yang memungkinkan orang memahami dunia sosial dan strukturnya beragam. Hal ini berarti bahwa habitus dibangun atas teori produksi pelaku sosial dan logika tindakannya dalam wujud sosialisasi untuk pengintegrasian habitus kelas tersebut. Proses sosialisasi ini menjadi penting karena proses ini memproduksi kelas dalam bentuk kelompok-kelompok yang memiliki kesamaan habitus. Pierre Bourdieu juga melihat habitus sebagai pengkondisian yang dihubungkan dengan keberadaan suatu kelas. Artinya ada sistem disposisi tahan waktu yang dapat diwariskan habitus (berapa lama kelas itu berada), ada struktur yang dibentuk di sana dan struktur itu berfungsi sebagai hasil dari suatu habitus (kelas itu terbentuk dan dikondisikan berdasarkan struktur-struktur yang ada, seperti ekonomi, sosial, politik dan budaya). Sederhananya habitus dilihat sebagai struktur yang dinternalisasikan sehingga bisa menjadi kebiasaan yang terus menerus diwujudkan individu. (Damanik, 2019).

Baca juga: https://www.florespost.co/2020/04/26/opini-%c7%80-urgensi-resistansi-transportasi-udara-di-tengah-pandemi/

 Lalu pertanyaan yang muncul adalah  apa yang dimaksud dengan hasil habitus? Hasil habitus itu dapat berbentuk dalam wujud hasil keterampilan dari suatu tindakan praktis (baik yang disadari ataupun tidak disadari), yang kemudian diterjemahkan sebagai kemampuan yang kelihatan secara alamiah dan berkembang dalam lingkungan sosial tertentu.  Sederhananya seperti bakat atau potensi yang ada dalam diri subyek atau individu. Misalkan: hal penguasaan bahasa, penulisan atau pikiran, yang terwujud dalam seniman, sastrawan, penulis, filsuf dengan menghasilkan karya-karyanya. Karya-karya tersebut lahir berkat kebebasan kreatif mereka, yang pada dasarnya mereka tidak menyadari tanda-tanda atau gaya yang sudah mereka integrasikan ke dalam diri mereka sendiri. Singkatnya, habitus merupakan sumber penggerak tindakan, pemikiran dan representasi.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here