Beranda Pilihan Editor Obituari ǀ “Lalat Liar” Itu Telah Pergi: Mengenang EP da Gomez

Obituari ǀ “Lalat Liar” Itu Telah Pergi: Mengenang EP da Gomez

608
0
Eugenius Paceli da Gomez (Foto: Ist)

Oleh: Wilfrid Valiance*

Hidup terbentang dalam pusaran waktu. Waktu, kehidupan dan peristiwa terjalin secara niscaya dan  bersama-sama mencipta sejarah. Dan sepeninggal waktu, sejarah bergegas menjadi tua. Menatap sejarah berarti menatap patahan kehadiran seseorang atau sebuah  generasi – pada masa lalunya – entah sebagai sesuatu untuk dihargai dan diwariskan atau   sesuatu untuk diperiksa dan dikoreksi. Kemajuan dan kebangkrutan, kesetiaan dan pengkhianatan, ketenangan dan kegelisahan, kesalahan dan perbaikan ada untuk memastikan bahwa sejarah sesungguhnya adalah sebuah dialektika.

Banyak orang takut pada sejarah karena sejarah tak bisa berbohong. Ia menghadirkan masa lalu apa adanya. Ketelanjangannya memungkinkan generasi kini atau nanti bertamasya padanya untuk meneliti apa-apa yang pernah ada. Kejujurannya membuat ia lugas mengatakan apapun tentang siapapun. Sejarah yang gemerlap membuat bangga pemiliknya, menjadi ruh  yang mengobarkan api perjuangan orang-orang sesudahnya, menjadi guru yang senantiasa mengajar;  lantera peradaban.

***

Eugenius Paceli da Gomez. Lahir tahun 1940. Ia  populer dengan nama EP da Gomez. Filosofi hidup, pandangan politik, mode fashion hingga pilihan literaturnya khas generasi baby boomers. Berbeda dari genereasi mileneal, atau lebih mutakhir anak-anak mereka, generasi iGen yang akrab dengan gadget dan piranti pintar semacamnya, ia penghuni generasi yang digempur tekanan dari hampir segala arah: sosial, politik, ekonomi dan budaya. Jika William Strauss dan Neil Howe membabtis dan mengklaim mileneal sebagai kaum yang dibesarkan dengan rasa bangga bahwa mereka istimewa, optimis dan bisa apa saja; EP da Gomez dan orang-orang sejamannya adalah negasi dari semua itu. Perang, kemiskinan dan keterbelakangan merampok hak-haknya untuk  merasa istimewa.

Tetapi sejarah yang megah tidak selamanya hanya milik orang-orang yang lahir di atas rasa bangga. Tekanan dan kesulitan sering dapat melontarkan orang ke spektrum kemewahan sejarah. Richard Wright, contohnya. Ia  anak hitam di tepi sungai Mississippi yang berhasil membuktikan bahwa anak negro tidak selamanya tetap melarat di tepi Mississippi, ketika ia akhirnya terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat. “Tidak ada sesuatupun yang tetap sama, jika kita tidak menghendakinya begitu. Bukan nasib, bukan keadaan, bukan juga karena kita dilahirkan demikian yang menyebabkan kita harus menjadi demikian,” begitu pidato Azie Tylor Morton di hadapan ribuan mahasiswa Amerika ketika memperkenalkan diri sebagai perempuan hitam pertama yang menjadi Menteri Keuangan Amerika Serikat.

Dan sejarah selalu berulang. Pada EP da Gomez, perulangan itu bermula dari sebuah titik di masa lampau, ketika  sebagai anak muda penuh idealisme ia menolak menerima ketiadaan rasa bangga sebagai takdir. Jiwanya menggenggam ambisi suci untuk “mengarahkan” takdir dan “menulis” sejarahnya sendiri.

Tidak banyak orang tahu, “jalan sunyi” yang dilalui EP da Gomez demi menulis sejarahnya. Jejaknya mulai ditelusuri orang setelah ia mentakhtakan diri di jagat politik Sikka, lebih luas NTT. Bukan sekedar sebagai politisi, tetapi melampaui itu: “tokoh.” Lintasan akademisnya ternyata tidak mentereng. Menyelesaikan pendidikan SR di Maumere, ia lalu melanjutkan ke SMP Yapenthom juga di Maumere, kemudian  meneruskan ke SMA Syuradikara Ende. Cuma itu!  Benar bahwa ada deretan pejabat, pegawai, pebisnis dan politisi yang sukses dengan hanya mengakhiri pendidikan menengah di Syuradikara, tetapi belum satupun dari antara mereka seperti EP da Gomez, pernah menjadi macam-macam: guru, penulis, orator, motivator, aktifis sosial, fungsionaris pastoral, dan politisi.

Bukan hanya ilmu di ruang kelas, tentu saja, yang membuatnya menjadi begitu. Demi merangkai sejarah yang elok, EP da Gomez menempuh jalan yang tidak banyak orang dapat lalui. Kosa kata modern menyebut jalan itu sebagai out of the box, berpikir dan bertindak lebih dari apa yang kebanyakan orang lakukan. Dia membaca ribuan buku dengan dahaga intelektual yang tetap terjaga hingga akhir hayatnya. Dia mencatat detail peristiwa-peristiwa penting dunia, nasional dan lokal dengan kharisma daya ingat yang istimewa, sehingga dikagumi sebagai ensiklopedi hidup. EP da Gomez bukan akademisi, tetapi informasi yang dimilikinya banyak, wawasannya luas. Dia juga banyak menulis. Tulisannya tersebar di koran-koran lokal, buku-buku, tidak sedikit yang menumpuk di laci mejanya.

Saya lebih suka menyebut dia penulis populer-praktis. Selain  tidak mengandalkan gaya menulis saintifik yang mengharuskan basis teoritis dan metode pendekatan yang canggih, tulisan-tulisan EP da Gomez spontan, renyah, to the point, dengan diksi-diksi yang menghargai semua kelas pembaca. Apa yang ditulisnya penting, mewakili pertanyaan dan gugatan orang banyak dan sering mempengaruhi hasil-hasil politik. Persis ini untungnya memiliki politisi yang sekaligus penulis – sayang, jenis ini makin sulit ditemukan di antara politisi jaman ini. EP da Gomez dan tulisan-tulisannya memberi jawaban tentang kekuatan jurnalisme warga,   jurnalisme yang memastikan bahwa pertanyaan dan gugatan rakyat atas keputusan dan pilihan-pilihan politik diungkapkan terang benderang, apa adanya, memakai bahasa rakyat, dan terutama berdampak perubahan secara meyakinkan.  Perisi ini legacy  EP da Gomez. 

***

Lalat liar. ”Mungkin kedengaran lucu bahwa aku adalah lalat liar di tengkuk seekor kuda.” Kata-kata ini bukan  milik EP da Gomez. Socrates, filsuf Athena yang mati diracun bangsanya sendiri, mengucapkan kata-kata ini  berabad-abad lalu. Suara kritis dan teriakan-teriakannya mengganggu ketenangan penguasa. Ia lalat liar, juru bicara kebenaran yang sampai mati menolak kompromi. 

Di setiap generasi, selalu tampil orang seperti Socrates. EP da Gomez salah satunya. Ia mulai menumbuhkan  karakter ini  saat masih remaja di tahun 1960an, persis ketika kaum baby boomers memperkenalkan kultur hippie  yang anti mainstream. Gerakan ini lahir pertama di Amerika dan secara natural tumbuh di antara remaja di berbagai belahan bumi. Jenuh akan perang dan peradaban konservatif mereka memperjuangkan pandangan politik, fashion, literatur, film dan filosofi alternatif. Demokrasi mekar pada patahan sejarah ini dan tokoh-tokoh kritis muncul di mana-mana.

EP da Gomez menghayati kultur ini ketika ia memastikan politik sebagai jalan hidup dan perjuangan. Berbekal kaderisasi militan yang diampu Pastor Beek, SJ, ia menumbuhkan watak humanis dengan mempertemukan dalam dirinya tiga karakter: sikap kritis, minat pada rakyat dan keberanian. Humanisme itu dia alirkan melalui perjuangan politik, mula-mula melalui Partai Katolik yang kemudian melebur dalam PDI hingga akhirnya menjadi PDIP. Dia bangga menyebut diri demokrat dan konsisten membuktikan totalitasnya. Politik baginya bukan lahan meraup nafkah, tetapi medan tempur bagi kemerdekaan jiwa dan pemenangan hak  orang banyak. Sangat sering dia berteriak, entah menggugat entah menggugah, demi kebenaran yang diyakininya.

Sulit menemukan padanya sikap abu-abu. Apa yang diyakininya, itu juga yang dikatakannya. Dia menolak santifikasi kekuasaan, seakan-akan penguasa  tidak boleh dikritik dan dikoreksi. Seperti lalat liar di tengkuk seekor kuda, EP da Gomez terus berteriak. Tak lelah mengganggu. Sering dia harus melewati “jalan sunyi” ketika mereka yang seharusnya berteriak bersama dia memilih diam dan menjadi “yes man.” Ia politisi yang tidak gampang terkooptasi oleh kompromi-kompromi murahan  dan tidak membiarkan diri  terjebak cara kerja kong kali kong. Dengan gagah ia mentakhtakan diri di jagat politik dan  secara meyakinkan berdiri sebagai juru bicara kebenaran. Tentu ada spiritualitas yang menginspirasi langkahnya berpolitik. Keberanian moral dan konsistensi sikap atas kebenaran dan keadilan merupakan cara EP da Gomez mengekspresikan nilai-nilai Katolik yang dihayatinya. Lagi pula, dia jenis politisi puritan yang takut kualat jika mengkhianati ideologi politik, keyakinan nurani dan etika perjuangan. Sebanyak itulah spiritulitasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here