Beranda Pilihan Editor Obituari ǀ “Lalat Liar” Itu Telah Pergi: Mengenang EP da Gomez

Obituari ǀ “Lalat Liar” Itu Telah Pergi: Mengenang EP da Gomez

619
0

Ada yang menarik dari EP da Gomez. Dia punya banyak lawan politik, tetapi tidak satupun yang benar-benar  menjadi musuhnya. Dia menghardik lawannya dengan retorika lugas di corong parlemen, dia mencecar dengan tulisan-tulisan menohok; tetapi persahabatan dengan mereka yang dikritik selalu intens dan hangat. Dia disegani lawan politik ketika mendebat ide dan opini, tetapi dirindukan karena menghargai martabat setiap orang yang didebatnya. Di luar urusan politik, lawan adalah sahabat dan kerabat. Ini legacy lain EP da Gomez. 

Yang tidak kalah menarik dari EP da Gomez adalah kemiskinannya. Hingga akhir hayat dia tidak punya apa-apa. Selain tempat kediaman murah, selebihnya adalah buku – belanjaan utama setiap kali ia menerima upah wakil rakyat. Padahal, “tidak seharusnya saya miskin,” katanya suatu ketika. “Saya bisa punya rumah dan fasilitas yang lebih baik dari ini. Hidup saya seharusnya lebih terjamin.” “Kenapa tidak?” Saya bertanya. “Siapa yang bisa menyuruh saya diam? Saya tidak tahu berkompromi. Suara saya tidak bisa dibeli.” Dia menolak pragmatisme. Karena memang cara dia mendapatkan kepercayaan juga tidak pragmatis. EP da Gomez, dengan begitu,  seakan-akan hendak mengatakan bahwa cara orang mendapatkan kepercayaan (kekuasaan) sering berpengaruh pada cara kekuasaan itu dipraktekkan. “Politik dan demokrasi kita  semakin direndahkan oleh riuh rendah transaksi. Saya pasti kalah. Bukan bakat saya untuk mengemis suara sambil bagi-bagi uang,” katanya  suatu hari di tahun 2009, saat saya menggodanya untuk kembali ke parlemen.

***

Bahaya bagi penulis obituari atau biografi adalah subjektivitas. Saya beruntung mengambil jarak sekian jauh sebelum mengenal EP da Gomez dari jarak sangat dekat 10 tahun terakhir. Tahun 2010 bersama tokoh muda Roby Keupung, saya mendirikan FOKUS (Forum Diskusi Sikka) yang mengorganisir sejumlah tokoh berpengaruh: EP da Gomez, Lando Mekeng, Thomas Nining Pau, Blas Pedor Parera, Marcel Litong, Paulus Nong Susar dan Sixtus  Viaktor. Terlihat jelas cita-citanya untuk perubahan. EP da Gomez tidak berminat pada apa-apa yang sekedar wacana. Dia mendesak agar wacana diwujudkan dalam gerakan. Segera, rapat di ruang kerja bupati, dengar pendapat bersama wakil rakyat, menjumpai uskup dan para imam; menjadi agenda penting FOKUS untuk mengubah keprihatinan menjadi gerakan. Penanggulangan rabies berbasis gerakan umat, dengar pendapat bersama dewan seputar isu pendidikan, debat kandidat bupati 2014 bekerja sama dengan Puspas Keuskupan Maumere, hingga pembentukan forum percepatan DOB Kota Maumere adalah antara lain agenda-agenda kenangan FOKUS bersama EP da Gomez.

EP da Gomez tidak berubah. Investasi mahal dan rumit yang membentuk ketokohannya. Tidak lekang oleh   waktu, tak terhempas gravitasi kepentingan. Di senja usianya, dengan mata setengah rusak, dia masih  dengan jelas melihat apa-apa yang tidak beres dan dia berkicau. “Lalat liar” itu terus mengganggu. Lantera peradaban itu tetap bernyala hingga akhir hayat, sebagaimana judul salah satu bukunya, Hidup itu Membaca, Menulis, dan Berbicara.

Kini, dalam diamnya yang abadi, teriakan-teriakannya jadi kenangan yang membangkitkan sejenis rasa rindu. Rindu tentang reinkarnasi sosoknya pada generasi anak cucu. Selamat jalan EP da Gomez. Niang Sikka tanah Alok bangga melahirkanmu!

*Penulis adalah imam Projo Keuskupan Maumere, mahasiswa doktoral sosiologi UI, pernah menekuni intercultural studies di Divine Word College, Amerika Serikat.

Catatan Redaksi: Obituari ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here