Beranda Opini Opini ǀ Covid-19 dan Krisis Sosial

Opini ǀ Covid-19 dan Krisis Sosial

129
0
Alvitus Minggu, Dosen Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia dan Dosen Ilmu Politik Universitas Bung Karno Jakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh: Alvitus Minggu*

Secara historis, Covid-19 merupakan virus yang asal muasal dikembangkan di China tepatnya  di kota Wuhan. Kota ini adalah kota yang pertama kali terkena virus corona yang telah menelan korban ribuan manusia meninggal. Tidak lama kemudian virus ini menyebar ke berbagai negara yang konon katanya telah melanda kurang lebih 210 negara yang terkonfirmasi terpapar virus corona.

Virus ini tidak hanya menjadi bencana nasional tetapi menjadi bencana dunia, yang berpotensi akan mengganggu kesetabilan sosial. Secara psikologis, covid ini akan menimbulkan gesekan sosial yang berdampak pada sistem nilai yaitu ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Gesekan tersebut tejadi, dominan karena dipicu oleh faktor tekanan ekonomi. Pasalnya jutaan buruh pabrik baik lokal, nasional, dan internasional terpaksa menelan pahit karena terancam dirumahkan. Kondisi ini tidak hanya mengancam buruh pabrik tetapi juga akan mengancam perekonomian nasional dan perekonomian dunia.

Baca juga: https://www.florespost.co/2020/05/17/opini-%c7%80-sebuah-refleksi-kritis-bersama-bourdieu-stay-at-home-mencegah-virus-atau-leaving-home-bekerja-untuk-memenuhi-kebutuhan-hidup/

Asumsi ini merupakan gambaran ideal yang sangat memungkinkan itu terjadi pada negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia. Itulah sebenarnya kondisi riil yang dihadapkan oleh Indonesia pada saat ini.

Virus ini memiliki dampak luas bagi perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia seperti kehilangan relasi sosial, kehilangan aktifitas  ekonomi, bisnis mengalami stagnation, yang pada akhirnya muncul pengangguran baru di mana-mana. Konsekuensi logisnya memicu orang menjadi gampang stress, marah, bersifat dengki, situasi ekonomi keluarga menjadi terancam, tindakan kriminalitas marak terjadi di mana-mana.

Bila keadaan ini dibiarkan berlarut-larut dan pemerintah tidak segera teratasi justru semakin memperparah keadaan maka bukan tidak mungkin Covid-19 sebagai pintu masuk terjadi krisis yang lebih luas sehingga berpotensi muncul instabilitas sosial yang bermuara mengganggu proses tatanan penyelenggaraan pemerintahan.

Feeling politik jokowi sepertinya tidak mau ketinggalan sehingga ia pun cukup cerdas mengeluarkan beberapa kebijakan strategis untuk mengatasi Covid-19 yaitu adanya isolasi mandiri, rapid test, PSBB, Physical Distancing, melarang mudik, Kartu Prakerja, Perpu 2020, dan program dana bantuan sosial.

Berbagai prediksi, Covid-19 bakalan berlangsung lama. Hal ini menunjukkan grafik perkembangan terus meningkat. Data pertanggal 19 Mei 2020 terkonfirmasi 18.496 orang. Yang dirawat 12.808 orang dan yang meninggal 1.221 orang. Sedangkan yang sembuh 4.467 orang merupakan sebuah kondisi riil yang memprihatikan bahkan menjadi beban psikologis yang berkepanjangan.

Menyikapi keadaan tersebut diperlukan upaya membangun suatu kesadaran etis kolektif bangsa agar Covid-19 ini tidak menjadi sebuah stigma yang dapat melemahkan kita. Kita tetap termotivasi untuk bisa mengendalikan keadaan bukan keadaan yang mengendalikan kita merupakan spirit moral, tujuannya adalah untuk mengurangi beban Covid-19 yang saat ini masih menghantui masyarakat Indonesia.

Baca juga: https://www.florespost.co/2020/05/07/opini-%c7%80-ketahanan-industri-pariwisata-di-tengah-pandemi-covid-19/

Pertanyaan, mengapa penyebaran virus ini cenderung meningkat bahkan semua propinsi di Indonesia terkonfirmasi terpapar virus corona? Apakah hal itu menggambarkan bahwa budaya disiplin masih perlu ditingkatkan? Hal ini dapat dibuktikan masih banyak pergerakan aktifitas yang cukup padat di Jakarta dan sekitarnya, perusahaan masih banyak yang buka, masih terlihat banyak masyarakat yang tidak memakai masker di jalanan maupun di kendaraan umum, dan masih ada kasus-kasus lain yang serupa yang tidak kalah penting juga merupakan salah satu penyebab sehingga laju penyebaran virus relatif begitu cepat.

Kondisi ini membuat pemerintah sedikit mengalami kesulitan untuk mengatasi covid-19. Karenanya, peran masyarakat menjadi sangat penting baik langsung maupun tidak langsung selain keseriusan pemerintah untuk memerangi Covid-19. Tidak semata-mata mengandalkan faktor kebijakan pemerintah tetapi yang paling penting keterlibatan dukungan kedisiplinan masyarakat. Tanpa hal itu, maka kebijakan pemerintah akan kehilangan makna dan kehilangan relevansi.

Bertolak dari hal tersebut, Covid-19 terbilang menjadi high cost bahkan telah mengorbankan banyak hal. Karena itu, harapan ke depan pemerintah maupun masyarakat tetap bersikap arif dan bijaksana dalam menghadapi Covid-19 supaya kita tidak mudah terprovokasi oleh keadaan, yang justru dapat menimbulkan hal-hal yang merugikan kita semua.

Hal yang paling penting adalah semua komponen bangsa tetap konsisten mendukung kebijakan pemerintah baik bersifat internal maupun bersifat eksternal. Tetap mematuhi protokol kesehatan, hindari dari kerumunan sosial dan tetap mempersiapkan diri agar kita tetap jaga jarak dengan yang lain dan mengedepankan nilai kebersamaan agar proses penyelesaian covid-19 bisa teratasi dengan baik sehingga keadaan ekonomi kita beransur pulih seperti sedia kala. Tanpa nilai kebersamaan maka, kita akan mengalami kesulitan untuk keluar dari keadaan ini.

*) Penulis adalah Dosen Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia dan Dosen Ilmu Politik Universitas Bung Karno Jakarta.

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here