Beranda Profil Misionaris Hongaria itu

Misionaris Hongaria itu

1613
0

Oleh: Timoteus Rosario Marten

Siapa pun yang mengenalnya, hampir pasti tidak asing dengan akhiran “hemm” di setiap pembicaraan.

Rambutnya yang putih dengan guratan-guratan halus, membuat mata saya ketika masih kecil, seperti disilaukan oleh pijar-pijar kebijaksanaan dari seorang bapak dan gembala.

Namanya Pater Thomas Krump SVD (86). Umat di paroki yang digembalanya mengenal dengan sebutan Tuang Tomas atau Pater Tomas.

Usianya tidak muda lagi. Buah cinta pasangan Doktor Yosep Krump dan Gisela Krump ini lahir di Budapest, ibu kota Hongaria, 14 Agustus 1934. Dia merupakan anak kedua dari enam bersaudara (tiga laki-laki, tiga perempuan).

Pater Thomas mengenyam pendidikan dasar tahun 1939-1944 di Budapest, lalu mengungsi ke Austria.

Ketika dia berusia 16 tahun, Hongaria sedang menghadapi revolusi yang dikenal dengan Revolusi Hongaria 1956, sebuah perlawanan terhadap intervensi kebijakan Uni Soviet. Revolusi berlangsung 23 Oktober sampai 10 November 1956.

Tanggal 4 November, pasukan Uni Soviet berhasil menginvasi Budapest, dan perlawanan Hongaria berlanjut hingga 10 November 1956. Wikipedia mencatat 2.500-an warga Hongaria dan 700 serdadu Soviet tewas dalam konflik ini, dan 200 ribu warga Hongaria mengungsi.

Dalam catatan Misjonarz (pdf.). nr 11/2009. hlm.23 (www.misjonarz.pl) pemerintah komunis Hongaria menutup semua seminari, sehingga lulusan sekolah menengah melarikan diri ke Austria. Mereka bergabung dengan seminari Verbist di St. Gabriel dekat Wina.

Dalam catatan “Kenangan 50 Tahun P. Thomas Krump berkarya di Paroki Rejang (2014, hlm.11) disebutkan bahwa Pater Thomas mulai studi di Seminari Menengah St. Rupertus Bisehofahofen, tahun 1946-1954.

Di tahun 1954 – 1956 ia melanjutkan formasi di Novisiat St  Gabriel Modling Wina dan selama lima tahun (1956 – 1961) menempuh studi filsafat dan teologi di Seminari St. Gabriel Wiena hingga ditahbiskan menjadi imam oleh Uskup  Agung Doktor Frans Yachym, 18 Maret 1961.

Setelah ditahbiskan, dia tak langsung ke Indonesia, tetapi menjadi pastor pembantu Paroki Othenhofen dan pastor pembantu di Paroki Gerberau pada Maret hingga Agustus 1961

Setahun kemudian, tepatnya Maret 1962, sang misionaris menuju Indonesia dan tiba di Indonesia pada 4 April 1962.

Sebagai misionaris, tentu dia tak langsung ke tanah misi, sehingga pada Mei-September 1962, dia belajar bahasa Indonesia di Mataloko, Flores.

Usai kursus bahasa Indonesia di Mataloko, Pater Thomas tiba di Ruteng pada 17 September 1962.

Pater Thomas Krump SVD ternyata ke Manggarai bersama seorang misionaris lainnya, Pater Frans Meszaros SVD.

Mungkin tak pernah terbayangkan dalam benaknya kelak dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk umat Paroki Rejeng-Ketang, Keuskupan Ruteng, Manggarai, Flores, hingga pensiun tiga atau empat tahun lalu.

Secara kebetulan, selama tiga hari, pagi dan sore pada awal Desember 2019, saya dan beberapa kawan berjalan kaki untuk mengikuti kegiatan di Erasmus Huis Kedubes Belanda, di bilangan Jakarta Selatan.

Dari Puri Denpasar, kami melewati beberapa kedutaan dan akhirnya langkah saya terhenti sejenak di Kedutaan Besar Hongaria.

“Ini negaranya Pater Thomas,” begitu saya membatin, lalu meminta kawan memfoto saya yang berpose hambar, antara tertawa dan tersenyum.

Negara asalnya Hongaria, sebuah negara di Eropa Tengah beribu kota Budapest, yang berbatasan dengan Austria (barat), Ukraina (timur), Slowakia (utara), Rumania (tenggara), Kroasia dan Serbia (barat daya), sudah 65 tahun menjalin hubungan diplomatik dengan Indonesia (kemlu.go.id).

Saya punya kawan SD sampai SMP, Gregoriana Suartini, suatu ketika beberapa tahun silam, pernah menyarankan kepada saya, untuk menulis profil sang misionaris.

Saya pun mengiyakannya meski belum mendapatkan banyak referensi saat itu. Namun, kali ini, setelah beberapa tahun lamanya, ide itu tadi kesampaian.

Saya dilahirkan dan dibesarkan di sini, di paroki ini. Juga belajar di sekolah Katolik yang didirikannya. Terakhir di SMPK St. Stefanus Ketang.

Semua murid SMP wajib tinggal di asrama dengan aturan seperti sekolah Katolik di Flores umumnya: belajar, berdoa, kerja, diskusi, dan kehidupan berkomunitas.

Meski jarak rumah saya dengan asrama atau sekolah hanya sekira 200 meter, semua murid SMP ini tinggal di asrama.

Sekolah di sini dan berasal dari daerah ini, tidak lantas membuat saya tidak membutuhkan referensi tambahan, untuk mengabadikan sang misionaris dalam catatan kecil ini. Minimal untuk membuat “langkah” semakin PD menulisnya.

Sudah menjadi semacam tradisi, bahwa para seminaris dan fratres bertandang ke pastoran bila tiba liburan panjang. Tiap Desember, Juni, dan Juli.

Itu mungkin untuk memperkenalkan diri, ikut patroli dan hal-hal lainnya di paroki.

Begitupun saat liburan usai, para seminaris ke pastoran untuk sekadar pamitan.

Tapi saya tidak termasuk dalam bilangan itu. Alasannya sederhana, malu dan tidak PD. Itu saja.

Sialnya, saya ketika itu tidak terpikirkan untuk kesana, alih-alih menulis dan menimba inspirasi dari beliau.

Karenanya, menulis tentang Tuang Thomas yang berpuluh-puluh tahun mengabdi di daerah saya, merupakan semacam “utang budi”.

Paroki Rejeng-Ketang awalnya berada di Rejeng, pusat administratif Kedaluan Lelak. Lapangan parokinya di Londa. Kini di sini berdiri SMA Negeri 1 Lelak. Familiar dengan sebutan Smalon atau SMA Londa.

Seiring waktu berjalan, gereja Paroki Rejeng dipindahkan ke Ketang, sehingga namanya kini menjadi Paroki Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Rejeng-Ketang atau Paroki Rejeng-Ketang.

Salah satu sisa-sisa paroki di Rejeng, dekat kuburan dan SDK Rejeng, adalah bangunan (pastoran) berukuran kecil, dengan arsitektur kerucut seperti rumah adat Mbaru Niang di Wae Rebo dan Ruteng Pu’u.

Majalah Hidup (26 Oktober 2019) menulis bahwa paroki ini didirikan tahun 1958 dan sudah menghasilkan empat bruder, 28 suster, dan  27 imam atau pastor.

Reverendus Dominus (RD) Max Nambu atau Romo Max dari Kampung Urang, Stasi Gencor, merupakan salah satu imam dari rahim Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga Rejeng-Ketang, yang ditahbiskan di Jerman, 8 Desember 1959, dan menjadi Pastor Paroki Katedral Ruteng hingga tahun 2004, sejak Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng Pater Vitalis Djebarus SVD ditahbiskan menjadi Uskup Ruteng pada 5 Mei 1973 (katedralruteng.id), Uskup Vitalis menggantikan Mgr. Wilhelmus van Bekkum SVD yang berhenti dengan hormat sebagai Uskup Ruteng pada 31 Januari 1972.

Rejeng-Ketang boleh dibilang salah satu paroki terluas, yang membentang dari Gelong hingga Golo Worok dan Wela yang berbatasan dengan Golo Welu di daerah Kolang, Manggarai Barat.

Praktis membawahi umat satu kedaluan atau hamente (semacam kecamatan),ditambah beberapa kampung di Kecamatan Satarmese yang berbatasan dengan Pang Lembor, Manggarai Barat.

Kini umatnya sekitar 25 ribu dan dikabarkan bahwa dua stasi, Anam dan Pahar bakal menjadi paroki baru menyusul Paroki Rentung yang sudah lebih dulu menjadi paroki sendiri.

Paroki Rejeng-Ketang juga boleh dibilang paroki tertua di Keuskupan Ruteng. Buku baptis Paroki Rejeng-Ketang dimulai sejak tahun 1951 (dokpenkwi.org, 26 Oktober 2015).

Dalam penuturan orang-orang tua,  Pater Thomas ketika di Rejeng-Ketang membuka sekolah-sekolah Katolik.

Beberapa di antaranya SDK Lamba-Ketang yang didirikan tahun 1960-an, dengan nomor SK Pendirian 128.S/SKP.SUB.NO.30, tanggal SK pendirian 1963-08-01 dan SK Izin Operasional 128.S/SKP.SUB.NO.30, serta SK Izin Operasional tertanggal 1963-08-01 (dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id, 20 Maret 2020) dan SMPK St. Stefanus Ketang dengan SK pendirian sekolah 1262/i 21 C2/1988 dan tanggal SK pendirian: 1986-04-24, serta tanggal SK Izin Operasional: 1910-01-01 (dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id, 7 April 2020), TK dan PAUD, serta SMAK St. Stefanus Ketang yang beroperasi mulai 15 September 2017 saat Romo (RD) Tarsisius Syukur menjadi pastor paroki.

Pelindung sekolah-sekolah yang didirikannya diserahkan kepada doa Santo Stefanus. Santo pelindung yang dimaksud bukan rasul dan martir Gereja Universal yang dikisahkan dalam Kisah Para Rasul oleh Santo Lukas Penginjil, tetapi Raja Hongaria.

Santo Stefanus sang Raja Hongaria lahir tahun 969 dan wafat 15 Agustus 1038 (mirifica.net, 15 Agustus 2019). Empat puluh lima tahun kemudian setelah wafatnya, 1083, ia dikanonisasi oleh Paus Gregorius VII sebagai santo atau orang kudus dalam Gereja Katolik.

Selama masa pemerintahannya St. Stefanus bersama permaisurinya, Santa Gisela, memerintah dengan bijaksana, tegas, adil, dan lemah lembut.

Dia menjadikan Hungaria sebagai kerajaan kristen (Katolik) yang berdaulat setelah dirinya diurapi oleh Sri Paus Silvester II (999-1003) sebagai raja.

Santo Stefanus mendirikan banyak gereja dan biara hingga kelak sebagai pusat kebudayaan. Wilayahnya dipersembahkan kepada perlindungan Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Sama seperti pelindung Paroki Rejeng-Ketang.

Keluarga besar Paroki dan SMP Ketang tiga hari berturut-turut, 15-17 Agustus saban tahun, merayakan misa dan pesta famili, yaitu, Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga (15 Agustus), St. Stefanus (16 Agustus), dan misa hari ulang tahun kemerdekaan RI (17 Agustus).

Bila merujuk riwayat Santo Stefanus, menurut saya, penamaan santo pelindung pada sekolah-sekolah yang didirikan Pater Thomas sungguh logis sekaligus sebuah mimpi. Bahwa kelak Ketang menjadi seperti impian Santo Stefanus untuk Hongaria dan impian sang misionaris asal Hongaria untuk Ketang.

Pater Thomas bersama Pater Frans Meszaros SVD adalah dua misionaris Hongaria yang datang bersamaan. Mereka berasal dari negara yang sama dan secara kebetulan, entah karena Penyelenggaraan Ilahi, keduanya berkarya di daerah yang berdekatan, sehingga dimungkinkan untuk saling mengunjungi dan bertukar kabar.

Lelak, Kolang dan Welak, merupakan tiga kedaluan (hamente) berdekatan. Di dalamnya terdapat umat di paroki-paroki dan stasi yang digembalakan oleh kedua misionaris tadi.

Ase ghaku ho,” kata Pater Franz Meszaros SVD dalam khotbah saat misa pancawindu di aula Paroki Ketang, sekitar tahun 2001 atau 2002.

Saya ketika itu masih SMP dan hadir bersama umat, yang tertawa haru mendengar kisah dua misionaris.

Betapa tidak, sejak awal hingga selesai, khotbah Pater Misaros menggunakan bahasa Manggarai dialek Kolang dengan fasih. Sebenarnya dialek ini tidak asing bagi Pater Thomas sebab dia pernah menjadi pastor pembantu di Paroki Todo dan Paroki Pacar pada

Desember 1962 – Mei 1963.

Dia juga berasal dari Hongaria dan mengabdi di Kolang dan Welak; dari Ranggu, Orong, Datak sampai Wajur sejak tahun 1960-an sampai 2010 hingga wafatnya.

Jika Pater Frans berpindah dari paroki ke paroki, hingga ajal menjemputnya di Paroki Wajur, tidak demikian dengan Pater Thomas.

Tuang Thomas hanya melayani umat Ketang-Rejeng, sejak tahun 1964 hingga merayakan pesta emas di Ketang pada 2014 lalu.

Meski purna tugas karena usianya sudah senja, dia bisa melayani umat, seperti menerimakan sakramen nikah bagi mempelai Katolik dan pelayanan misa.

“Kami dinikahkan oleh Pater Thomas pada 25 Mei 2016,” kata Herinimus, umat asal Ruang.

Kini sang misionaris sedang menikmati masa senjanya, di sebuah rumah kecil di kompleks pastoran Ketang, dalam kondisi yang tidak begitu fit.

Nana, Pater Thomas ka selama ini hanya terbaring di tempat tidur sekarang e. Mohon doa em,” kata kawan saya, Gregoriana Suartini, 13 Maret 2020 melalui pesan WhatsApp.

“Saya ju belum bisa pigi jenguk ee. Nana itu hari ka katanya jatuh di SVD di Ruteng (rumah SVD) trus ga tulang di pahanya patah. Sekarang sementara dirawat oleh orang dari Ruang katanya ee,” lanjut ibu tiga anak yang bekerja sebagai bidan di RS Ben Mboi ini.

Sontak informasi itu menjadi perbincangan alumni di WAG. Bagi mereka, kenangan sekolah di perbukitan hijau di sudut hamparan sawah hijau itu, terus membekas

Kesejukan hawa alamnya, setidaknya terpatri dalam setiap langkah, dengan mendengungkan sepotong lirik himne sekolah.

Bukit dan lembah sungai dan sawah. Bunga yang indah berbagai margasatwa. Menghiasi tamanku. Taman impianku Ketang abadi.”

SMP Ketang juga identik dengan Tuang Thomas dan Tuang Thomas identik dengan SMP Ketang.

Itu cerita mereka. Pada sebuah penggalan kisah, sosoknya seperti Bapa Gereja zaman dulu, saat misa. Jika membaca injil saat hari raya, dia seperti sedang membaca atau menyanyikan mazmur atau misa-misa gregorian zaman dulu. Syahdu.

Dia juga dikenal ketat dalam hidup ugahari. Menghayati betul spiritualitas bapa pendiri serikatnya, Santo Arnoldus Yansen.

Di pastoran, dia tak makan mewah. Makan seadanya.

“Sarapan wajibnnya Pater harus bawang goreng dan telur mata sapi e,” kata umat Paroki Rejeng-Ketang, Felisitas Jelita, 2 Juni 2020.

Setiap mengunjungi umat atau patroli di stasi-stasi terjauh, Pater Thomas juga biasa membawa kuda hitam dan merahnya.

Dengan sepatu gogong (boots) ala cowboy, jaket krem andalannya, dia dengan tangguh melewati bukit, gunung, lembah, sungai dan ngarai untuk mengunjungi umat di tiap stasi.

Sejauh saya saksikan saat kecil, stasi terjauh yang biasa dikunjunginya dengan menunggangi kuda adalah Gencor, Mbohang, Tonggur, dan Pahar.

Pahar berada di kaki gunung Poco Kuwus. Gunung ini dicatat Kompas.com, 30 Agustus 2018 sebagai gunung tertinggi di Manggarai Barat, dengan ketinggian sekitar 1.491 meter dpl.

Kudanya sang misionaris saat berpatroli, biasanya juga dipenuhi dengan buku dan peralatan misa.

Para misionaris barat di Manggarai memang harus berkuda dan jalan kaki saat mengunjungi umatnya atau patroli, mengingat kontur tanah misi di Flores barat ini, bergunung-gunung, bukit, kali besar, dan tentu alamnya tidak bersahabat.

Pater Wilfrid Babun SVD dalam artikelnya “Kuda Sang Misionaris. Dengan berkuda misionaris mengukir sejarah Keuskupan Ruteng” (Penakatolik.com, 14 April 2020) mengenang misionaris asal Polandia, Pater Stanis Ograbek SVD, yang meninggal di Rumah Sakit RKZ Surabaya, Sabtu, 15 Februari 2020, menulis, kuda tidak sekadar binatang, tetapi lebih pada makna. Di dalamnya ada spirit tahan banting, tegar, kuat, teguh.

“Para misionaris mengukir sejarah dan membuat sejarah mengabarkan injil dengan berkaki dan berkuda.”

Pater Stanis berkarya di Todo tahun 1965-1966 dan tahun 1967-1994 di Denge, Manggarai, Flores dan selebihnya di Kalimantan hingga meninggal dunia Februari lalu (Katoliknews.com, 20 Februari 2020).

Pater Thomas Krump SVD sebelum akhirnya terbaring lemah di Ketang karena kakinya yang keseleo, memang beberapa tahun terakhir sering sakit-sakitan.

Seorang umat bercerita, suatu kesempatan pada hari Minggu, Ketua Dewan Paroki mengumumkan bahwa Pater Thomas dalam waktu dekat melakukan check up di Surabaya, sehingga dimohon kepada umat agar mendoakan dia.

Beberapa waktu kemudian, di KBG (Kelompok Basis Gerejani) sedang diadakan doa rosario (ngaji giliran). Sebelum memulai doa bersama, sang ketua kelompok, sebut saja namanya Timo, memberi pengumuman.

Dalam salah satu ujud doanya, ia berkata, “Marilah kita berdoa pada peristiwa 1 ini. Kita memohon pertolongan doa Bunda Maria untuk Pater Thomas yang pergi merantau ke Surabaya.”

Semua umat bingung. Ketika doa usai, umat-umat tertawa meledak karena memang terasa aneh. 

Oe Ema Timo, toe ngo mbeot hi Pater. Ngo periksa kesehatan ai toe danga sehat hia selama ho’o,” kata seorang umat lainnya.

“(Hai bapak X, Pater tidak merantau. [Dia] Pergi periksa kesehatan karena selama ini dia kurang sehat).”

Ole ite, emat tae daku artin bo check up ho’o ngong ngo mbeot. Aip laku e. Ngo keta lau Surabaya. Mat toe nggo laku artin ko ngo mbeot. Ai bom toe dod mbaru sakit ce’e dite,” jawab sang ketua kelompok membela diri.

“(Aduh tuan, saya kira check up artinya merantau. Karena memang [dia] ke Surabaya. Sehingga saya yakin bahwa [kata check up] artinya merantau. Kan banyak rumah sakit di sini).”

Semua umat pun tertawa. Itulah kisah suatu malam, entah saat Bulan Maria (Mei) atau Bulan Rosario (Oktober).

Sekolah, iman Katolik dan kabar gembira (injil), keutamaan, gaya hidup, dan lain-lain adalah warisan yang sekiranya menjadi teladan sang misionaris.

Tak hanya itu, perayaan misa panen di tiap gendang, dalam tradisi perayaan pentakosta kiranya adalah bagian yang ditinggalkannya.

Saya pernah menulisnya di facebook pada 31 Mei 2020 dan laman Societas.id tentang pentakosta itu. Kami menyebutnya pentekosten.

Minggu-minggu sebelum pentekosten biasanya digelar pertandingan sepak bola antar-KBG atau kampung. Dikenal dengan maeng kelompok.

Stasi yang menang di pertandingan antar-KBG nanti menjadi kontingen perwakilan dari stasi pusat di Ketang, untuk bertanding melawan stasi-stasi lainnya.

Praktis satu minggu full sebelum perayaan pentekosten, dihelatlah pertandingan antarstasi, sehingga final nanti jatuh pada hari raya pentekosten.

Stasi-stasi yang berjauhan dari stasi pusat memenuhi Paroki Ketang. Tumpah ruah, baik tua muda, maupun laki-laki dan perempuan.

Pentekosten memang benar-benar saat tepat untuk mempertemukan umat dari berbagai latar belakang, selain ajang cuci mata bagi mudika (muda-mudi Katolik).

Dan akhirnya semua dipersatukan oleh bola kaki berkat bimbingan Roh Kudus, meski saat pertandingan kerap bentrok, bahkan baku hantam antarpemain dan penonton antarkampung.

Perayaan pentekosten dengan pertandingan sepak bola dan mempertemukan umat-umat dari berbagai latar belakang seperti ini, mirip seperti peristiwa pentakosta jemaat perdana di Antiokhia (kini Syria), seperti ditulis St. Lukas penginjil dalam Kisah Para Rasul, tahun 33 M, lima puluh hari setelah wafat dan kebangkitan Yesus Kristus.

Begitulah pentekosten di Paroki Ketang sejak puluhan tahun dan perlahan hilang tahun 2000-an ketika Pater Thomas menjelang pensiun.

Persatuan sebagai satu keluarga dalam iman dan paroki seperti pentekosten, keutamaan, kebijaksanaan, dan mimpi bersama, sebagai buah kabar gembira yang dibawakan beliau, Sang Misionaris Hongaria itu. []

#Jpr 3620

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here