Beranda Feature Posko Mano: “Bikin Plan Kasi Hijau Matim”

Posko Mano: “Bikin Plan Kasi Hijau Matim”

156
0

Oleh: Alfred Tuname

(Relawan Pencegahan Penyebaran Covid-19 Matim)

Virus Corona atau Covid-19 telah membuat kita berjaga-jaga. Semua orang di belahan bumi merasa cemas. Covid-19 bukan ancaman biasa. Risikonya, kematian. Tidak seperti zombie, virus menyebar tanpa ada yang bisa melihat. Kadang ia muncul dengan gejala, tetapi ada juga yang tanpa gejala.

Kesadaran sekaligus cemas akan covid-19, Pemda Manggarai Timur (Matim) tak mau kecolongan. Ketika Covid-19 mulai merebak di awal Maret 2020 di Indonesia, Pemda Matim berpikir serius untuk menangkal penyebaran Covid-19 di wilayah Matim. Selain berkenaan dengan urusan budget, usaha pemeriksaan kesehatan di batas-batas wilayah kabupaten dilakukan. Maka, terbentuklah Posko-Posko di wilayah batas. Salah satunya, Posko Mano.

Mulanya, Posko Mano terbentuk atas inisiatif Camat Poco Ranaka, Alvian Yoran Nengkos. Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas, SH., M.Hum, mendukung penuh inisiatif posko check point di Mano itu. Inisiatif itu memang berisiko, sebab harus dipikirkan tentang dana, fasilitas posko, alat pelindung diri (APD) dan petugas. Nasib petugas-lah yang diutamakan. Koordinasi linas sektor pun berjalan baik. Ternyata, semua memiliki semangat kesukarelawan yang tinggi. Posko Mano pun berjalan dengan baik.

Semangat kesukarelawan itu tanda awal kesigapan. Kesigapan menghadapi bencana non-alam merupakan salah satu virtue seorang pemimpin. Keselamatan warga Matim menjadi prioritas utama. Urusan lain-lain akan ditambahkan. Urusan administrasi dan logistik akan menyusul. Toh, pemerintah kabupaten (Pemkab) dan masyarakat tidak tinggal diam.

Sumbangan masyarakat Matim untuk petugas posko pun mengalir. Dana, sembako, APD, dll selalu ada untuk Posko Mano. Begitu pula dengan Pemkab Matim, dukungan fasilitas, petugas (dari Dishub, PolPP, Dinkes, BP2KB dan BPBD) dan dana juga ada. TNI, Polri dan PMI Matim juga ikut terlibat. Semua bahu-membahu mengamankan warga Matim dari Posko Mano.

Job describtion-nya, tenaga medis (Puskesmas Mano, dengan tambahan dari Puskesmas Lenang, Beamuring dan Sita) melakukan pemeriksaan keaslian suket; pegawai Dishub, PolPP, TNI, Polri menghentikan kendaraan dan pelaku perjalanan; pegawai BP2KB menjelaskan promkes kepada pelaku perjalanan yang sudah terperiksa tim medis; pegawai BPBD dan PMI Matim membantu urusan manajemen logistik, dapur, kebersihan dan menyemprotan desinfektan.

Koordinator Posko Mano di-handle secara langsung oleh Camat Poco Ranaka yang juga Ketua Gugus Tugas Pencegahan Penyebaran Covid-19 Poco Ranaka, Alvian Yoran Nengkos. Ia membagi tugas pegawai kecamatan untuk terlibat dan mengontrol aktivitas Posko Mano mulai dari urusan dapur hingga keselamatan para petugas posko.

Awal mula, pemeriksaan kesehatan di Posko Mano ditujukan kepada pelaku perjalanan yang berasal dari Labuan Bajo dan luar daerah. Setiap kendaraan diminta berhenti. Jika ada warga yang berasal dari daerah itu, diminta untuk turun untuk pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan itu menggunakan alat thermogun.

Setelah diberlakukan Instruksi Bupati Kabupaten Manggarai Timur (Nomor: BPBD.390/181/V/2020), protab pemeriksaan di Posko Mano menjadi lebih baik. Artinya ada standar dan jaminan untuk bertugas lebih maksimal. Setiap pelaku perjalanan yang datang pun melintas wilayah Manggarai Timur wajib membawa kartu identitas, surat jalan dari desa/kelurahan, surat tugas dari instansi/perusahaan/lembaga, dan surat keterangan kesehatan dari puskesmas asal (berlaku satu hari perjalanan). Jika pelaku perjalanan berasal dari Zona Merah, wajib dilengkapi dengan surat keterangan hasil rapid-test (masa berlaku 10 hari).

Ketika kabupaten Manggarai Barat, Manggarai, Nagekeo, Ende dan Maumere menjadi masuk sebagai zona merah, setiap posko check point di Matim memberlakukan pemeriksaan suket rapid test. Saat itulah problem muncul. Pro-kontra terjadi setelah ada kenyataan bahwa untuk mendapatkan suket rapid test itu tidak mudah dan biayanya cukup mahal (sekitar Rp 500.000,- sampai Rp 600.000,-).

Di Posko Mano, pemeriksaan suket rapid test berlaku selama hanya tiga hari setelah Kabupaten Manggarai ditetapkan sebagai Zona Merah. Hal itu karena gelombang “adu mulut” tidak terhindarkan. Antrian kendaraan pun semakin banyak. Petugas nyaris terpancing “ribut”. Kadang memang terlanjur “ribut” dengan pelaku perjalanan. Kelelahan dan kurang istirahat membuat goyah batas kesabaran para petugas.

Setelah Bupati Manggarai Dr. Kamelus Deno mengeluarkan surat larangan melakukan rapid test untuk kepentingan pribadi, dan koordinasi lintas pimpinan antara Manggarai dan Manggarai Timur, pemeriksaan suket rapid-test pun ditiadakan. Posko Mano pun kian longgar. Setidaknya, urat dahi para petugas tak lagi tegang terus.

Padahal, pemeriksaan suket rapid-test adalah cara yang paling efdol untuk membatasan sosial. Warga enggan bepergian tanpa ada suket rapid-test. Selain itu, akurasi rapid-test cukup baik mendeteksi simptom awal covid-19 pada tubuh seseorang.

Sayangnya, stock persediaan alat rapid-test di daerah masih sangat terbatas. Warga Matim pun akan kesusahan mendapatkan suket rapid-test apabila menjadi Zona Merah dan daerah lain melakukan pemeriksaan suket rapid-test.

Selain itu, kebutuhan dan mutualisme ketergantungan ekonomi antara Matim dengan kabupaten tetangga masih sangat tinggi. Sebagai misal, banyak warga Poco Ranaka pergi ke Ruteng untuk belanja kebutuhan sembako. Tidak sedikit pula warga Manggarai berdagang di pasar Borong.

Dari semua kemelut itu, warga Matim tentu berharap tak ada yang terpapar covid-19 di Matim. Kerja sama yang baik antara Pemda Matim dan masyarakat akan menciptakan Matim yang aman (Zona Hijau), tanpa ada warga yang terpapar covid-19. Tujuan dari pembentukan posko check point, bahkan hingga di desa-desa, adalah agar tak seorang pun warga Matim yang terpapar virut korona.

Oleh karena itu, dengan mengikuti protab pencegahan penyebaran covid-19, kita semua akan terbebas dari virus mematikan itu. Bukan untuk siapa-siapa, untuk diri sendiri dan keluarga. Ketika kesehatan adalah harta yang paling utama, maka apa pun tidak akan berarti jika kita sakit (positif covid-19).

Posko Mano (juga Posko Waelengga, Gongger dan Golo Lijun) merupakan salah satu usaha Pemda Matim untuk menciptakan rasa aman dan tidak terpapar covid-19 di Matim. Sebab setiap pelaku perjalanan yang terdeteksi terpapar covid-19, akan langsung dikirim ke Shelter RS Borong.

Cerita tentang Yudi, pelajar Pondok Pesantren Al Fatah, Magetan, yang positif covid-19 menjadi pelajaran. Ia hendak menuju Maumere, tetapi nginap semalam di desa Nanga Labang, Borong. Koordinasi antara Posko Mano, Posko Desa Nanga Labang dan Shelter Borong membuahkan hasil. Virus tidak menyebar sebab Yudi langsung dibawa ke Shelter. Warga Matim dan petugas, termasuk sopir travel, yang pernah kontak dengan Yudi, langsung diperiksa dan dikarantina. Mereka semua sehat, tetapi Yudi positif covid-19 dan ia dikirim langsung ke asalnya di Maumere.

Masih banyak kisah tentang bagaimana petugas Posko Mano bertarung melawan penyebaran covid-19 di Matim. Setidak-nya sudah banyak pasien dalam pengawasan (PDP) dikirim dari Posko Mano menuju Shelter RS Borona. Syukurlah, dari semua itu tak ada satu pun yang terpapar covid-19 setelah sampel-nya di-swab.

Hingga saat ini, Posko Mano masih terus berlangsung. Petugas masih setia berjaga-jaga dan siaga. Memang, trend penyebaran Covid-19 di NTT sudah menurun. Tetapi, Matim tetap berwaspada. Penjagaan tak lagi super ketat setelah keluar Instruksi Bupati Manggarai Timur Nomor: BPBD.360/190/V/2020 tertanggal 31 Mei 2020. Semua berjalan pelan, tetapi mata terus terbuka 24 jam untuk mengantisipasi penyebaran covid-19. Mengutip mutatis-mutandis lirik lagu Ambon, “bikin plan kasi hijau Matim”. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here