Beranda Opini Opini| Kenapa Ekowisata Desa Penting di Matim?

Opini| Kenapa Ekowisata Desa Penting di Matim?

138
0
Yergo Gorman (foto/ Dokpri)

Oleh: Yergo Gorman


Epilog Mei 2020 lalu, melalui situs berita online Kompadotcom, Kementerian Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memprediksi tren berwisata pasca pandemi covid 19 akan berubah. Dijelaskan bahwa pandemi Covid 19 mengubah jenis atau tipe dan pengelolaan destinasi termasuk di dalamnya kegiatan ekowisata. Wisatawan akan lebih memperhatikan protokol-protokol wisata seperti kesehatan, keamanan, dan kenyamanan. Ketiga poin ini amat relevan berjibaku dalam small tourism salah satunya ekowisata desa.

Fenomen wisata pasca pandemi menyeret dua implikasi psikologis berbeda. Pertama, orang ramai-ramai berwisata sebagai dampak langsung kejenuhan bertubi-tubi work from home, sementara kedua, orang masih takut berwisata karena trauma laju penyebaran Covid 19. Efek pertama berkiblat pada manajemen. Manajemen lokasi wisata mesti bertransformasi, adaptif terhadap kebijakan new normal, minimal soal protokoler kesehatan aktivitas wisata. Sementara efek kedua, realitas trauma ini pada segmentasi pasar, bisa jadi peluang bagi calon tempat wisata baru untuk mempersiapkan diri menyambut kebosanan massa.

Desa-desa di Manggarai Timur sebagai basis utama persemaian sumber daya ekowisata perlu masuk dalam dikursus ini. Bukan sekedar usaha responsif terhadap kegalauan pasca pandemi, melainkan sebuah gugatan perspektif untuk pertajam taktik maupun implementasi pengembangan wisata daerah ke depan. Kenapa ekowisata penting di Matim?

Bangun Dari Tidur Yang Panjang

Harus kita akui wisata di Matim masih dalam proses bertumbuh walau terlihat jalan di tempat. Soal ini, tentu sudah tak zamannya lagi kita serahkan segenap kerisauan pariwisata lokal kita ke tangan Pemda. Persepsi demikian perlu dikubur dalam-dalam. Kerja pariwisata perlu “dikeroyok” lintas kekuatan, baik pemda, swasta, maupun masyarakat.

Pada ulasan sebelumnya, saya coba mengajukan sebuah perspektif bahwa desain pariwisata lokal lebih strategis bila mengangkat ekowisata sebagai main concept. Ekowisata tak sekedar menampilkan eksotisme alam, tapi juga keunikan tradisi dan budaya warga lokal, hasil bumi, ritus, sampai aspek historis sebuah tempat. Ekowisata memiliki kandungan edukasi, pemberdayaan dan sustainabilitas. Semua potensi itu mendeskripsikan sebuah pengalaman edukatif bagi wisatawan dan dirawat demi kepentingan pelestarian lingkungan atau keberlanjutan di masa depan. Bukankah desa-desa di Matim adalah surga, tempat semua sumber daya itu tersimpan?

Beberapa alasan substantif pengembangan ekowisata desa penting di Matim. Pertama, revitalisasi sumber daya lokal. Sumber daya itu mewujud dalam bentuk potensi alam, budaya, adat-istiadat, ritus/peninggalan sejarah, sejarah kampung, tradisi lokal, seni, dan sebagainya. Kenapa perlu revitalisasi? Revitalisasi ialah upaya membangunkan segenap “lokalitas” itu dari tidur yang panjang, dari kelesuan sistemik sebagai dampak akut krisis kesadaran. Dalam revitalisasi, warga lokal dimungkinkan mengalami dinamika partisipatif yang memacu mereka perlahan keluar dari sikap pasif yang telah lama membudaya. Dinamika itu memacu lahirnya aktivitas sosial ekonomi baru. Konsepsi final dari geliat ekowisata desa bukan ada pada kiat promosi, namun apresiasi terhadap “eksistensi” lokalitas tersebut.

Kedua, modalitas perubahan. Ekowisata menjadi salah satu opsi terbaik tuk melepaskan sikap pasrah pada fakta kemiskinan desa. Bukankah embrio dari segala jenis kemiskinan di desa ialah problem “kebiasaan” yang telah lama membudaya? Wajah kemiskinan yang melilit situsai sosial ekonomi hari ini ialah produk pengkondisian masa lalu yang menjelma ke dalam sistem berpikir. Paradigma itu selain tunduk pada realitas kemiskinan, bahkan kemiskinan itu sendiri sudah diterima sebagai kewajaran absolut. Tak ada warga desa tanpa kemiskinan berantai. Warga desa kemudian hidup dalam pola statis yang melihat segala sesuatu merupakan “takdir” alami. Mereka semacam teralienasi dalam dalam pikirannya sendiri serta kesadaran mengungkap keberadaan potensi sosialnya. Mata rantai kemiskinan ini dapat dibabat dengan mengubah kebiasaan menjadi lebih dinamis dan produktif, salah satunya dengan berusaha membuat warga “peka” terhadap potensi di sekitarnya. Di sini kepemimpinan kepala desa sebagai policy maker sangat vital agar warga tak dibiarkan sendiri.

Ketiga, respon aktif terhadap Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa. Undang-Undang tersebut ialah jalan keselamatan bagi desa masa kini. Melalui Undang-Undang tersebut, desa punya hak untuk menentukan pembangunannya sendiri termasuk mengelola potensi yang dimiliki.

Keempat, membongkar ketergantungan sistemik. Pola ketergantungan menjadi tren baru di desa selama Jokowi berkuasa. Tak tanggung-tanggung dana bantuan pemerintah pusat tumpah ruah mendarat di desa. Pada prinsipnya dana bantuan itu diterjunkan guna memenuhi kebutuhan hidup warga. Namun pada tingkat yang lebih kritis, kebijakan ini lambat laun tanpa sadar membius kesadaran warga tuk bergerak menjadi produktif. Dana bantuan hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup dalam periode waktu tertentu, tidak mengubah kebiasaan yang sudah lama baku. Membunuh kemiskinan di desa ialah perang melawan paradigma. Suatu cara berpikir yang mengakibatkan seseorang atau kelompok masyarakat memiliki pola sosial, budaya, ekonomi tertentu.

Kelima, Matim sebagai daerah otonom baru. Salah satu alasan kenapa ekowisata penting dan strategis untuk dikembangkan di Matim yakni status Manggarai Timur sebagai daerah otonom baru. Optimalisasi aset merupakan salah satu kerja dari konsepsi penyelenggaraan otonomi daerah. Pemberdayaan potensi lokal secara signifikan dapat memicu tumbuhnya aktivitas ekonomi warga yang kemudian berpengaruh pada kemampuan untuk bertahan hidup, mandiri serta berdaya. Maka pada titik ini pengembangan sektor wisata adalah pilihan tepat dan kontekstual.

Butuh Kajian Mendalam

Dengan demikian ekowisata bukan lagi perkakas yang dipasang untuk tujuan promosi semata. Ekowisata adalah lompatan untuk menghargai “lokalitas” kita yang tersimpan di alam serta di kedalaman tradisi maupun sosial kehidupan orang Manggarai. Warga lokal pun dididik untuk tumbuh berkembang dan tampil sebagai subjek dalam geliat ekowisata.

Diskursus dan kebijakan ekowisata bukan sekedar khayalan menyulap sebuah lokasi dan bermimpi penuh sesak dengan wisatawan. Butuh riset dan kajian mendalam soal mapping ekowisata, mulai dari identifikasi dan pengarsipan ragam potensi, analisis infrastruktur pendukung dan penghambat, bentuk edukasi, profil calon wisatawan, sampai pada analisis soal segmentasi pasar baik geografis, demografis dan psikografis. Riset dan kajian dibutuhkan agar kebijakan pengembangan ekowisata berbasis data, tak mengalami bias konsep, kelola dan target, serta connect dengan kebutuhan pasar.

Hemat saya, krisis infrastruktur tak bisa dijadikan argumen tunggal kenapa pariwisata lokal bergerak stagnan. Kajian yang seringkali nyaris terlupakan dalam tiap kebijakan ialah analisis demografi maupun psikografi. Apakah aktivitas berwisata sudah jadi bagian dari gaya hidup masyarakat lokal kita? Kelompok masyarakat mana yang potensial disasar sebagai calon wisatawan, dan sebagainya. Pertanyaan ini adalah pertanyaan hakiki kalau mau tempat wisata tak sepi pengunjung.

*) Lulusan Studi Kebijakan Publik, Minat Literasi dan Ekowisata Desa

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here