Beranda Opini Opini| Menjadi Dokter untuk Diri Sendiri

Opini| Menjadi Dokter untuk Diri Sendiri

30
0

■ Oleh: Sumardan Manan Orowala, S.Pd

Covid-19 sudah menyebar di seluruh wilayah Indonesia. Berbagai upaya sudah dilakukan pemerintah sebagai wujud pemutusan matarantai penyebaran virus tersebut. Mulai dari PSBB, pelaksanaan ibadah, pendidikan dan urusan perkantoran dilaksanakan di rumah. Hingga muncul juga berbagai alternatif lain untuk mengantisipasi kesenjangan yang ada baik dari ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya.

Kurang lebih tiga bulan berjalan upaya pemerintah mengatasi penyebaran covid-19, akhirnya memutuskan untuk memberlakukan new normal dengan berbagai pertimbangan dan kajian yang mendasar atas hal tersebut. Pemberlakuan ini dilakukan secara bertahap hingga sampai pada tahap normal. Ketika dilihat dan dibaca secara sepintas maka kita semua akan beranggapan bahwa pemberlakuan ini seperti “hukum rimba” yakni siapa yang bertahan dialah yang akan hidup. Tetapi hal ini perlu kita lihat secara holistik dari berbagai sisi agar pengambilan kesimpulan atas hal tersebut tidak sepihak. Memang semua pasti ada konsekuensi yang harus diterima sebab hal ini tidak kita rencanakan sebelumnya terjadi. Artinya bahwa dengan kejadian seperti ini kita harus banyak berefleksi bukan saling menyalahkan karena yang terjadi bukan kita yang rencanakan atau pemerintah yang merencanakannya. Ketika kita saling mengeluh dan menyalahkan maka tidak akan pernah berakhir masalah ini malah menambah masalah baru.

Pada akhir 1840-an wabah diduga tifoid pernah terjadi di Jawa bagian tengah yang membuat gusar pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Antara tahun 1846 hingga tahun 1848 dilaporkaan sekitar 30 hingga 40 persen penduduk yang terinfeksi meninggal. Pada tahun 1847 Guberbur Jenderal Rochussen meminta solusi kepada dr. Willem Bosch, Kepala Jawatan Kesehatan. Dokter yang kemudian dijuluki Javanenkampioen itu menjawab bahwa kondisi buruk seperti kelaparan akibat tanam paksa turut mendukung penyebaran wabah. Akhirnya ia mengusulkan agar pribumi dilatih menjadi petugas kesehatan. Maka pada tahun 1851 berdirilah sekolah Dokter Djawa yang bertempat di Batavia.

Pengalaman dari sejarah singkat ini memberikan satu pelajaran kepada kita bahwa edukasi tentang kesehatan sangat penting. Maka peran penting bukan hanya dari pihak pemerintah tetapi kita semua harus punya komitmen dan niat yang sama untuk memberikan edukasi dalam menangani masalah ini. Pertama yakni pemerintah selaku pemangku kebijakan tentu harus memberikan penegasan dan pemahaman kepada seluruh stakeholder mulai dari tingkat atas sampai tingkat paling bawah yakni RT dan RW agar benar-benar memahami apa yang menjadi maksud dari setiap kebijakan yang dilakukan. Sehingga ketika kebijakan tersebut diteruskan kepada masyarakat secara utuh dan bisa dipahami oleh masyarakat. terutama masyarakat yang berada di wilayah 3T. Supaya jangan lagi terjadi seperti beberapa waktu yang lalu di Flores Timur yakni seorang Ibu hamil yang diantar mobil ambulance harus mengantri 6 jam untuk bisa melewati jalan Trans Flores. Karena antriannya cukup lama dan persediaan peralatan tidak memadai akhirnya bayi dalam perut ibu hamil tersebut meninggal. Hal tersebut terjadi karena tidak ada edukasi yang memadai soal penutupan akses.

Kedua yakni seluruh masyarakat agar senantiasa mematuhi segala hal yang menjadi anjuran pemerintah. Ketika ada edukasi tentang kesehatan maka patuhilah hal tersebut karena akan menjadi bagian dari bentuk pencegahan penyebaran virus. Yakinlah bahwa semua niat yang dilakukan oleh pemerintah maupun seluruh relawan adalah yang terbaik untuk bangsa ini. Beri dukungaan kepada mereka agar apa yang menjadi harapan kita semua bisa tercapai dengan baik. Kita harus menjadi doketer untuk diri kita sendiri karena kalau bukan kita siapa lagi dan kalau bukan sekarang kapan lagi. Usaha pemerintah sudah maksimal tetapi tanpa dukungan dari kita semua maka akan sia-sia. Bahkan kita bukan mejadi penolong atau obat untuk orang lain tetapi malah menjadi biang dan penderitaan untuk orang lain. Semoga niat baik kita semua selalu diijabah oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis adalah Guru di MIN TTU, NTT

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here