Beranda Opini Opini| Perempuan di Ruang Publik

Opini| Perempuan di Ruang Publik

90
0

Oleh: Joanes Pieter Paulus Alais Calas

Salah satu indeks kemajuan sosial adalah dengan melihat seberapa besar keterlibatan kaum perempuan di ruang publik. Perempuan sebagai salah satu variabel penting kemajuann masyarakat mestinya dilihat tidak hanya dari satu sisi,Namun untuk mendapatkan tempat yang adil cara pandang kita terhadap kaum perempuan sama seperti kita memandang laki laki yang selama ini kita anggap sebagai maklhuk yang lebih produktif.

Secara sosiologis penggolongan masyarakat dibagi atas dua, stratifikasi sosial dan diferensiasi sosial. Stratifikasi sosial penggolongan masyarakat berdasarkan sudut pandang vertikal yang diperoleh atas dasar kemampuan,atau prestasi, ataupun kualifikasi tertentu yang membuat adanya unsur peran dan status sosial sehingga masyarakat seperti ada dalam lapisan lapisan sosial (seperti Piramida) serta ada yang mendominasi dari aspek tertentu.

Sementara diferensiasi sosial hadir dengan ciri khasnya yaitu horizontal, penggolongan masyarakat atas dasar perbedaan suku,ras agama, jenis kelamin dan lainnya. Semuanya dipandang sejajar tanp harus ada yang mendominasi atau mengklaim golongan tertentu lebih unggul. Bahkan secara normatif diferensiasi menimbulkan seperangkat hak dan kewajiban yang sama di mata hukum formal.

Lalu mengapa perempuan dianggap lebih rendah?

Kurang lebih selama dua dekade terakhir isu kesenjangan perempuan dan laki-laki muncul ke permukaan, melalui perjalanan panjang untuk memperkuat pandangan masyarakat dunia bahwa perempuan telah mengalami diskriminasi hanya karena perbedaan jenis kelamin dan perbedaan secara sosial (gender). Siapapun pasti sepakat bahwa perempuan dan laki laki berbeda,namun kita belum diantar pada satu titik kesadaran mana perbedaan alami dan perbedaan secara sosial sehingga ketidaktahuan ini kita konsumsi terus dalam rentangan waktu yang cukup panjang.

Harus diakui bahwa selama ni ruang public seakan sudah didominasi oleh satu golongan sebagai arena ketimpangan sosial.sebab segala aktivitas sosial lebih banyak disesaki oleh laki laki mulai dari skala yang terkecil hingga skala yang terbesar. Keterlibatan kaum perempuan yang sangat minim ini belum berhasil membuka hati dan pikiran kita dan membujuk rasa kemanusiaan kita mengapa kondisi ini bisa terjadi.Kalaupun sudah ada yang menyadari minimal ada satu langkah kecil yang bisa diambil untuk meluruskan jalan kemerdekaan yang selama ini sudah dianggap tidak membebaskan bagi kaum perempuan.

Krisis pemahaman ini akhirnya melahirkan tafsir terhadap ruag publik dengan begitu sempit,dan jelas jelas sudah terkontaminasi oleh prespektif maskulin,sebagai ruang yang tidak pro terhadap perempuan yang belum menjamin sejauh mana dominasi kesadaran masyarakat menyentuh ruang ketimpangan tersebut untuk membebaskan kaum perempuan dari cengkraman budaya patrirki.

Konsep perbedaan sosial ini dalam wacana akademik harus dimaknai sebagai suatu kesadaran sosial. Perbedaan gender dalam masyarakat merupakan suatu konstruksi sosial. Berawal dari sinilah kemudian masyarakat meryadari bahwa perbedaan tersebut merupakan prodak masa lalu. Hal inilah yang yang melahirkan kesadaran bahwa ada banyak hal yang perlu diubah agar hidup ini menjadi lebih baik dan berkeadilan.

Brangkat dari hal tersebut barangkali penting kita melihat lebih dalam sejauh mana persoalan yang muncul dari ketidakadilan gender dengan melihat manifestasi berikut dalam kehidupan sehari hari.

Gender dan Marginalisasi Perempuan

Bentuk ketidkadilan gender yang berupa proses marginalisasi merupakan salah satu sumbangan kemiskinan terhadap mereka yang mucul dari berbagai sumber seperti tafsir agama, tradisi,kebiasaan serta kebijakan pemerintah, bahkan asumsi ilmu pengetahuan. Misalnya anggapan bahwa segala jenis pekerjaan domestik itu identik dengan pekerjaan perempuan, bahkan pada masyarakat patriarki hak perempuan untuk mendapatkan pekerjaan di luar lingkungan keluarga dibatasi krena diangap kurang mampu dan memaksa perempuan harus menerima keadaan ini sebagai takdir.

Gender dan Subordinasi

Bentuk subordinasi akibat perbedaan gender ini bermacam macam. Berbeda menurut tempat dan waktu. Misalnya pada masyarakat Manggarai, dulu ada anggapan bahwa erempuan tidak boleh sekolah tinggi, sebab ujung ujungnya akan bekerja di dapur, Berbeda dengan laki aki kesempatan untuk mengakses pendidikan yang lebih tinggi lebih terbuka. Pada kasus lain juga harta dan sumber daya lainnya juga dikuasai oleh laki laki Hal terebut terlihat pada hukum sosial yang berlaku menjadika laki laki sebagai orang pertama untuk mengontrol sumber daya ekoomi dalam keluarga.

Gender dan Stereotipe

Stereotipe adalah pelebelan terhadap pihak tertentu yang selalu berekibat merugikan pihak lain dan menimbulkan ketidakadilan. Salah satu stereotipe yang familiar di kalangan remaja manggarai saat ini adalah penyebutan kata “ Alat” kata ini telah mendapatkan konotasi yang negtif bagi kalangan remaja manggarai saat ini` karena dianggap sebagai Pekerja Seks Komersial. ketika kita menyebutnya. secara otomatis orang langsung membayangkan itu adalah sosok perempuan. Hal ini tentunya tidak adil, sebab yang menikmati perbuata amoral tersebut bukan saja dia sebagai perempuan, tentu dengan laki laki sebagai pasangannya` Sementara seorang perempuan tetap saja mendapat pelebelan negative dari masyarakat.

Gender dan Kekerasan

Salah satu bentuk manifestasi ketimpangan gender selama ini ialah kekerasan, baik secara fisik maupun integrtitas mentas psikologis seseorang. Kondisi ini muncul tidak lain akibat ketidaksetaraan kekuatan dan kekuasaan dalam masyarakat Ada banyak macam kategori kekerasan yang serig kita liat namun dianggap biasa biasa saja seolah bukan suatu persoalan, misalnya kekerasan terhadap perempuan dalam bentuk pornografi.

Di Flores khususnya Manggarai sudah menjadi pemandangan biasa bagi kita yang sering melihat di bagian belakan mobil terpampang gambar gambar perempuan yang tanpa busana disertai dengan tulisan tulisan yang vulgar.Namun banyak yang belum menyadari bahwa ini termasuk jenis kekerasan nonfisik, yakni pelecehan terhadap kaum perempuan dimana tubuh perempuan dijadikan objek demi kepentingan tertetu.

Kondisi kesenjangan ini sudah semestinya perlahan dipangkas,melalui peradaban yang maju,kita dikendalikan cara berpikir yang rasional,dengan melihat jurang pemisahan yang lebar antara laki laki dan perempuan,kita tidak ingin kesenjangan ini terus dirawat.Gerakan pembebasan perempuan mestinya butuh kerja sama semua pihak dan terus dibiasakan.mulai dari lingkungan terkecil hingga lingkungan yang lebih luas menuju kesempatan sosial yang seirama antara laki laki dan perempuan.

Bawaan faktor sejarah yang panjang menjadi salah satu faktor gerakan kemerdekaan kaum perempuan berjalan merangkak. Namun bukan menjadi satu alasan bagi kita yang peduli,menimal munculnya kesadaran kolektif sudah memberi angin segar untuk mereka, lebih berharga lagi jika sudah mulai masuk pada tahap aksi.Berjuang lewat jalur kebijakan, dan mendukung lewat gerakan gerakannya akademis.

Lingkungan sekolah dan Keluarga sebagai agen sosialisasi mempunyai peran vital dalam membentuk pemahaman dan karakter seorang anak. Dengan membiasakan hal hal baru seperti bertukar peran antara laki laki dan perempuan menjadi modal kesadaran untuk masuk ke tahap pergaulan yang lebih luas.

Selamat hari Kartini.

*) Penulis adalah pengiat literasi Komunitas Cangkir 16

Catatan Redaksi: Opini kolom ini adalah tulisan pribadi penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Florespost.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here