Beranda Nusantara Ingin Menurunkan Angka Stunting di Manggarai, Lakukan Ini

Ingin Menurunkan Angka Stunting di Manggarai, Lakukan Ini

56
0
Kepala BKKBN RI Hasto Wardoyo (Topi dan Jas Songke) saat Kunjungan Kerja ke Manggarai,NTT. Foto : Adi/Florespost.co


FLORESPOST.CO, Ruteng- Berdasarkan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018, prevalensi Stunting di Kabupaten Manggarai, NTT, sebesar 43,3%.

Angka ini lebih besar dari prevalensi stunting nasional yakni 27,67%. Stunting sendiri adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Untuk menurunkan angka stunting di Manggarai, mininal di bawah angka 14%, maka seluruh ibu hamil di daerah ini harus didampingi.Sebab stunting mulai terjadi sejak dalam rahim.

“Kalau manggarai mau bebas stunting, paling tidak dibawah 14%, maka sejak di dalam rahim harus didampingi,” kata Kepala BKKBN RI Hasto Wardoyo, saat melakukan kunjungan kerja ke Manggarai, Selasa (27/4).

Kunjungan kerja Mantan Bupati Kulon Progo tersebut, dalam rangka Percepatan Penurunan Stunting serta Peningkatan Pelaksanaan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana di Kabupaten Manggarai.

Untuk mendampingi ibu hamil, Hasto menunjuk tiga unsur yakni PKK, bidan dan kader.Satu tim PKK, Bidan dan kader mendampingi beberapa orang ibu hamil. Tugas tim ini yakni mencatat, mendampingi dan melapor jika ada pertumbuhan janin yang lambat di dalam rahim sehingga bisa ditangani sebelum lahir.Untuk tugas pendampingan di seluruh indonesia, anggaran yang diajukan BKKBN kurang lebih Rp 1 triliun.

“Untuk seluruh indonesia, anggaran yang kami ajukan untuk pendampingan mendekati 1 (satu) triliun.Yang akan kami berdayakan yakni PKK, Bidan sama kader,”jelas Hasto.

Menekan angka stunting di NTT dan manggarai khususnya, BKKBN akan mengintervensinya melalui program pemberian makanan tambahan.

“Kami akan usulkan dana untuk pemberian makanan tambahan.Kalau jadi, anggaran tersebut ditransfer langsung ke desa. Untuk makanannya akan dimasak sendiri oleh tim yang saya sebutkan tadi, tentu didampingi ahli gizi dari kecamatan.Sumber gizinya diambil dari bahan-bahan lokal,”kata Hasto.

“Intervensi kita untuk NTT sangat serius.Uang jangan banyak keluar dari NTT. Daerah ini (NTT) kaya, apalagi manggarai ini subur sekali.Apa-apa tumbuh,”tambah Hasto.

Laporan : Adi Nembok

Editor : Stanis Tarwan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here