Beranda Florata News Posko Kaki Kereta Rela Berutang Demi Aksi Kemanusiaan di Adonara

Posko Kaki Kereta Rela Berutang Demi Aksi Kemanusiaan di Adonara

266
0
Komunitas Kaki Kereta dibawah koordinator Anarki Atapukan pada saat memberikan bantuan sembako. (Foto/ist)

FLORESPOST.CO, Adonara- Orang muda Lamahala yang tergabung dalam komunitas Kaki Kereta dibawah koordinator Anarki Atapukan ini, harus rela berutang demi membantu para korban bencana banjir bandang dan tanah longsor di Adonara, Kabupaten Flores Timur, pada tanggal 04 April 2021 lalu.

Sebagai komunitas yang didominasi anak muda yang selalu menjunjung tinggi nilai – nilai kesosialan, Anarki dan teman-temannya merasa peduli atas musibah yang terjadi tersebut.

Posko bantuan pun didirikan mereka pada sore hari pasca benaran 04 April 2021. Posko bantuan itu pun didirikan agar dapat membantu para korban bencana yang terkena musibah tersebut.

Anarki Atapukan koordinator Posko Komunitas Kaki Kereta mengatakan, aksi yang mereka lakukan ini merupakan bentuk kepedulian mereka terhadap korban bencana yang terjadi di Adonara saat ini.

“Ini soal kemanusiaan, wajib kita semua bergandengan tangan, hari pertama sembako dan peralatan mandi dan lainnya adalah kami berutang di Kios Murin Boleng sejumlah Rp.2.500.000,00;- (Dua juta lima ratus ribu rupiah),” kata Anarki.

Anarki menambahkan, pendistribusian yang telah mereka lakukan menyasar pada ke rumah-rumah warga yang menjadi tempat pengunsian para korban bencana tersebut.

“Modal nekat saja, karena baru hari pertama kami belum memiliki data. Kami masuk rumah keluar rumah dengan membawakan sembako dan kebutuhan penting lainnya serta pakaian hingga malam hari,” ungkapnya.

Hari kedua tambah Kiki, mereka sempat kebingungan untuk melakukan pendistribusian bantuan dengan lokasi yang cukup jauh.

“Karena kesediaan bensin untuk operasional langkah saat itu. Kegiatan seperti hari pertama berjalan lancar karena siang itu juga kami mendapatkan kiriman sepuluh liter bensin oleh orang baik di Larantuka,” jelasnya.

Sebagai ketua, Dirinya bersyukur karena teman-teman komunitasnya merespon baik dengan niat mulia yang mereka lakukan.

“Yang membuat saya lebih kuat dan tegar itu adalah dukungan penuh dari Ibu kandung saya Samsia Tahir, beliau bahkan mendonasikan pakain jualan satu karung untuk didistribusikan ke para korban bencana. Motivasi berdirinya Posko karena hati kecil menangis melihat segalanya ini,” ungkap Kiki.

Ia berharap agar segala kesulitan yang mereka hadapi itu, bukan saja menjadi pelajaran bagi ia dan teman-teman di komunitasnya tetapi juga menajdi pelajaran bagi semua.

“Kami juga berharap Pemda lebih cepat menanggapi persoalan ini. Pemda juga harus membangun komunikasi dengan dinas terkait supaya operasional biaya transportasi jangan terlalu mahal ketika setiap bantuan dari luar masuk,” harap pria yang biasa disapa Kiki Adonara ini.

Atapukan juga menerangkan bahwa bantuan yang mereka distribusikan adalah hasil penggalangan dana dengan membuka donasi lewat rekening atas nama Anarki Atapukan.

“Kami bersyukur bahwa orang-orang baik mempercayai kami untuk menjalankan amanah dan ada masyarakat sekitarnya juga datang mengantarkan langsung di Posko untuk kami distribusikan, dari uang, sembako hingga pakaian dan keperluan urgent lainnya. Donasi dari para donatur yang terkumpul kami distribusikan sesuai dengan kebutuhan prioritas korban di Posko pengunsian Para Relawan dan di rumah warga yang jadi tempat pengunsian,” jelasnya.

Suka duka pun dirasakan Kiki dan teman-temannya dalam menjalankan misi kemanusiaan ini. Kiki meriwayatkan bagaimana mereka dipertemukan dengan orang yang tidak dikenali dan dijadikan sebagai saudara.

“Suka duka ketika malam tiba hujan angin. kami harus menyelamatkan titipan orang-orang agar tidak terkena hujan seperti beras dan lain-lain,” tuturnya.

Kiki menambahkan, yang paling mereka rasakan itu ketika memikul barang-barang untuk didistribusikan ke korban bencana yang ditempuh hingga ratusan meter perjalanan, dengan medan yang cukup ekstrim karena akses transportasi lumpuh saat itu.

“Tetapi kami pantang menyerah. Kehadiran kami di posko-pokso pengungsian disambut dengan senyuman dan air mata oleh para pengungsi. Mereka menerima apa yang kami berikan dengan air mata, itu yang membuat kami tetap tanamkan misi mulia ini agar tidak boleh putus, dan akan terus kami jalankan,” ungkapnya.

Penulis: Tarwan Stanislaus
Editor: Frans Ramli

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here