Beranda Florata News Mantan Wabup Flotim Agus Boli Cetuskan konsep Pancasila “Lamaholot”

Mantan Wabup Flotim Agus Boli Cetuskan konsep Pancasila “Lamaholot”

18
0

FLORESPOST.CO, ADONARA- Di tengah kegembiraaan Warga Ende,Nusa Tengara Timur atas kunjungan Presiden Jokowi pada tanggal 1 Juni 2022 untuk memimpin apel hari Lahirnya Pancasila di Kota Ende,Wakil Bupati Flores Timur periode 2017-2022 sekaligus Pengacara Agustinus Payong Boli,SH,MH,M.IP mencetuskan Pancasila Versi Budaya Lamaholot-Nusa Tenggara Timur.

Menurut Wakil Kepala Daerah Terbaik se-Indonesia yang juga adalah Ketua Pemuda Katolik Nusa Tenggara Timur ini bahwa Pancasila dalam bahasa Indonesia jika tidak di terjemahkan dan di sesuaikan dengan paradigma budaya bangsa lokal maka Pancasila tidak mendarat alias hanya sebagai konsep pemikiran bukan sebuah gerakan keseharian masyarakat.
Oleh karena itu menurut ketua Lembaga Bantuan Hukum Bhumi Pertiwi Nusantara Propinsi Nusa Tenggara Timur ini,perlu gerakan mendaratkan Pancasila dalam keseharian budaya Lamaholot.

Adapun kajian Ilmiah Agus Boli terkait Pancasila dalam Budaya/bahasa Lamaholot ini sebagai berikut;

PANCA SILA/ NOBO LEMA;

▪︎ Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa
☆ Nobo Toun; Ama Tuan Rera Wulan,Ina Guna Tana Ekan
▪︎ Sila Kedua: Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
☆ Nobo Ruhan; Kakan K’eru Arin Baki
▪︎ Sila ketiga: Persatuan Indonesia
☆ Nobo Telhon; Puin taan Uin,Gahan Taan Kahan
▪︎ Sila ke Empat: Kerakyatan yang di pimpin oleh Badan Permusyawaratan/perwakilan
☆ Nobo Paten; Pupu Hugu,Tobo baun,hama-hama tutu marin umeng Lamak Lewotana
▪︎ Sila ke Lima: Keadilan Bagi seluruh rakyat Indonesia
☆ Nobo Lemha; Tekan Tabe Gike Hukut,tenu tabe lobo luan.

Menurut Agus Boli,ini sudah di terjemahkan dan sesuai bahasa Lamaholot sastra asli dan peri kehidupan asli bangsa Lamaholot. Bahkan banyak anak-anak sekolah tidak mengenal sastra asli Lamaholot karena tidak di ajarkan sebagai mulok di sekolah dan pengaruh budaya asing.

Agus Boli mengajak semua pihak untuk membumikan Pancasila sesuai budaya Lokal agar mengakar.

Sampai hari ini sudah banyak sekolah Dasar sampai SMA meminta agar Pancasila Lamaholot ini di lukis dalam bingkai yang indah untuk di simpan dan di pelajari di Sekolah- sekolah.

Perihal Pancasila yang di renungkan dan di cetuskan Soekarno di Kota Ende, Agus Boli yang juga ketua Pramuka Flores Timur ini bahkan menduga konsep Pancasila versi Lamaholot (Nobo Lema) lebih dulu ada sebelum konsep Pancasila itu ada.

Agus Boli beralasan karena konsep Pancasila itu Soekarno temukan di Ende, maka di duga konsep Pancasila ini hasil diskusi Soekarno dengan Orang-orang Lamaholot dengan Soekarno dalam versi budaya Lamaholot baru di terjemahkan Soekarno dalam bahasa Indonesia di karenakan sebelum Soekarno di buang di Ende,orang-orang Lamaholot Flores Timur sudah mengirim banyak guru untuk mengajar di sekolah seluruh wilayah Kabupaten Ende dan Flores-Nusa Tenggara Timur pada umumnya dan para guru tersebut selalu terlibat dalam diskusi-diskusi kebangsaan.Tidak hanya guru,tetapi para tukang yang di kirim dari Lamaholot Flores Timur pun menyebar di semua daratan Flores dan NTT umumnya untuk membangun gedung-gedung pemerintahan dan lain-lain.Guru dan tukang ini di kirim dalam misi Ordo SVD Gereja Katolik dalam karya kerasulannya di Nusa Tenggara Timur.Dengan demikian di yakini para guru ini pasti setiap hari berdiskusi tentang kebangsaan dan kebinekaan dengan Soekarno melalui para imam SVD dan turut mempengaruhi cara pandang Soekarno termasuk konsep Pancasila yang utuh.

Masih lanjut Agus Boli, konsep Pancasila versi Lamaholot itu ada sejak peradaban Lamaholot itu ada ribuan tahun lalu dan di anggap bahasa magis yang punya kekuatan dahsyat “ike kwaat” karena sedari dulu orang Lamaholot percaya akan adanya wujud tertinggi di langit dan bumi (ama tuan rera wulan, ina guna tanaekan), orang Lamaholot sangat memuliakan HAM (Kakan keru arin baki), Orang Lamaholot Suka akan persatuan dan Persekutuan (Puin Taan Uin, gahan taan kahan), orang Lamaholot percaya bahwa sesuatu pekerjaan harus di permufakatkan secara perwakilan pimpinan Kampung dan Suku terdahulu (Pupu Hugu, tobo baun hama- hama tutu marin umeng lamak lewotana), orang Lamaholot percaya hasil-hasil kerjasa bersama harus di nikmati secara adil dan merata tanpa pemilahan (Tekan tabe gike hukut, tenu tabe lobo luan).

Orang Lamaholot sangat percaya suatu komunitas negara/ lewo/ kampung/ suku akan bertahan dan maju jika kekuatan “Nobo Lema” benar-benar di laksanakan dalam hidup sehari-hari. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here