Beranda Headline Pengurus Pendidikan Paroki Rejeng Tolak Keputusan Keuskupan Ruteng

Pengurus Pendidikan Paroki Rejeng Tolak Keputusan Keuskupan Ruteng

159
0

FLORESPOST.CO, Ruteng- Pengurus Unit Lembaga Pendidikan Paroki Rejeng, Kecamatan Lelak, Manggarai, NTT, menolak keputusan sepihak yang telah dilakukan oleh keuskupan Ruteng, terkait pengalihan pengelolaan dua lembaga pendidikan SMPK dan SMAK St.Stefanus Ketang Kepada Yayasan Sukma Pusat Ruteng.

Penolakkan terhadap keputusan sepihak pengalihan pengelolaan tersebut didasari dengan berbagai pertimbangan yang dimuat dalam surat penolakan yang sudah dilayangkan ke Uskup Ruteng Mgr. Siprianus Hormat tertanggal 17 Januari 2022.

Paroki Rejeng Kecamatan Lelak selama ini mengelola dua lembaga pendidikan yakni SMPK dan SMAk St. Stefanus Ketang. Lembaga pendidikan St. Stefanus merupakan aset paroki dan merupakan salah satu lembaga pendidikan Katolik berbiaya murah namun kaya akan prestasi yang masih dipercaya memberikan layanan pendidikan yang berkualitas di tengah tren sekolah-sekolah swasta Katolik dengan biaya yang semakin mahal setiap tahunnya.

Menindaklanjuti keputusan sepihak tersebut sekaligus menanggapi pernyataan penolakan dari pengurus unit St. Stefanus Ketang, maka dibuat sosialisasi pada hari Rabu 8 Juni 2022 di Aula Paroki Rejeng

Hadir dalam sosialisasi tersebut, Vikaris Jenderal Keuskupan Ruteng, RD Alfons Segar, Ketua JPIC Keuskupan Rm. Marten Jenarut, Vikep Keuskupan Rm Geradus Janur, Komisi Pendidikan Kesukupan Ruteng Rm Frans Nala dan Rm Bone Rampung,utusan Yayasan Sukma dan Pastor Paroki Rejeng, serta pengurus dewan paroki, tokoh masyarakat, para pendidik SMPK dan SMAK St Stefanus Ketang

Alfred Hasman Rengka, Ketua Pengurus Unit Lembaga Pendidikan Santo Stefanus Ketang dalam sosialisasi tersebut lantang menolak putusan tersebut. Menurutnya, Yayasan Sukma dari dahulu tidak memiliki andil apapun baik konsep pengembangan sekolah maupun ketika sekolah itu pernah dilanda krisis keuangan

“Sekolah ini sering mengalami pasang surut dan umat paroki berkali-kali ikut berkontribusi untuk menyelamatkan sekolah ini tapi di saat kita mengalami kesulitan keuangan kemana Yayasan Sukma itu,” ujar Alfred Rengka.

Alfred juga mengatakan kekwatirannya, jika dua sekolah itu dialihkan pengelolaanya oleh Yayasan Sukma maka pengelolaan yang begitu akrab dengan umat paroki dengan lingkungan Pendidikan St Stefanus Ketang pasti diubah termasuk uang sekolah yang tidak pro dengan keadaan ekonomi masyarakat setempat.

“Visi misi sekolah Santu Stefanus Ketang adalah agar anak-anak di Paroki Rejeng ini dapat mengenyam pendidikan disini saja tanpa harus sekolah di Ruteng. Kemudian visi misi sekolah ini juga bukan orientasi keuntungan, biar murah tapi kesejahteraan guru tetap diperhatikan dan sekolah ini tetap berprestasi,” kata Alfred Rengka.

“Kemudian ketika dikelola oleh Sukma keuangannya pasti akan diubah, pastikan disamaratakan dengan Fransiskus dan sekolah katolik lain sedangkan visi misi ingin membantu umat dibantu pendidikannya dengan mempertimbangkan ekonomi juga,”ungkap Alfred.

Alfred juga menilai, Uskup Ruteng maupun Yayasan Sukma lebih mengutamakan pendekatan kekuasaan keuskupan ketimbang dialog. Akibatnya, kata dia, surat keputusan yang diteken Uskup Ruteng jelas-jelas memojokkan peran pengurus unit yang selama ini telah berjasa membesarkan dua sekolah tersebut.

“Pada pertemuan di Kevikepan tanggal 3 Desember September 2021, saat itu juga saya menolak lalu keputusannya adalah akan ada pertemuan atau dialog dengan bapa uskup. Kami menunggu itu, kami menunggu bertemu dengan yang mulia tapi apa yang terjadi kami tidak dipertemukan dengan bapa uskup yang terjadi adalah mengeluarkan sebuah surat keputusan di situ kami kecewa sehingga pertanyaannya adalah ada apa ini di saat dua sekolah ini sudah besar lalu diambil tidak dibuatkan pendelegasian wewenang kepada pengurus unit malah langsung diambil alih,” tutupnya.

Meski dibuka dialog, namun acara sosialisasi itu tidak mencapai kata sepakat. Memang ada tokoh umat dan tokoh masyarakat yang sejalan dengan konsep keuskupan namun lebih banyak pihak yang menolak Yayasan Sukma.
Laporan: Yuliana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here